Pemerintah Minta Semua Pihak Tetap Waspada Terjadinya Karhutla

Pemerintah mengingatkan kepada masyarakat tetap waspada  terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri tahun ini

“Pesan Pak Presiden selama masa puasa Ramadan dan Lebaran, jangan ada persoalan karhutla,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya saat memimpin rapat Rapat Teknis pemantapan langkah pencegahan karhutla sekaligus antisipasi karhutla tahun 2021 secara daring, Rabu (28/4).

Menteri LHK menyatakan, perlunya dilakukan rapat ini mengingat data luas areal yang terbakar hingga Maret 2021 sudah lebih tinggi dari luasan areal terbakar pada periode yang sama di 2020. Padahal hampir 80 persen areal Indonesia masih cukup tinggi potensi hujannya.

Siti menyebutkan, jika dilihat dari aspek luas areal terbakar, data menunjukan jika tahun 2021 luasan lahan yang terbakar mencapai 23.783 ha. Tingkatkan kebakaran lebih luas dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, yaitu 19.372 ha. 

Menteri LHK menyatakan, data tersebut mengkonfirmasi bahwa terdapat daerah-daerah konvensional terjadinya karhutla. Di lokasi tersebut, ia berharap antisipasi lebih karena di daerah-daerah tersebut kejadian karhutla selalu terjadi berulang-ulang.

“KLHK akan merintis pemantauan hotspot secara detil dan lebih mendalam di daerah-daerah konvensional. Mungkin hingga tanggal 5 Mei yang akan datang, karena jika hingga tanggal tersebut terjadi dinamika karhutla yang meningkat, atau terjadi eskalasi yang berarti, maka akan masih punya cukup waktu untuk mengambil langkah sebelum Lebaran Idul Fitri,” jelasnya.

Adapun beberapa daerah konvensional tersebut, meliputi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Pontianak, Ketapang, Singkawang, Kapuas, Pangkalan Bun, Banjar, dan Tanah Laut.

Menteri Siti berharap agar sinergitas dan integrasi kerja penanggulangan karhutla menjadi semakin baik ke depannya. Hal in untuk mendorong upaya mewujudkan solusi permanen penanganan karhutla yang diminta oleh Bapak Presiden agar segera dapat dilakukan.

“Saya minta BMKG dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), untuk mulai lakukan integrasi karhutla dalam konteks emisi karbon dan pengendalian perubahan iklim. Kita serius turunkan emisi karbon,”ujar Siti.

Kepala Badan Metereorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta semua pihak mewaspadai potensi karhutla kategori moderat dan tinggi pada Juni–September 2021 di wilayah Riau, Jambi dan Sumsel. 

Kemudian pada Juli–September 2021 di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan bagian selatan, dan pada Agustus – Oktober 2021 di wilayah NTT dan Papua bagian selatan.

Menanggapi potensi terjadinya karhutla ke depan, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza mengatakan, lembaganya terus melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).Pada Maret- April menunjukan hasil yang cukup baik dari segi prosentase penambahan curah hujan. 

Di Provinsi Riau disebutnya terjadi peningkatan prosentase penambahan curah hujan sebesar 33-64% terhadap curah hujan alamnya atau penambahan curah hujan di lokasi penyemaian awan sekitar 194,3 Juta m3. 

Kemudian di Provinsi Kalimantan Barat atas upaya TMC yang dilakukan terjadi peningkatan prosentase penambahan curah hujan sebesar hingga 44% terhadap curah hujan alamnya atau penambahan curah hujan di lokasi penyemaiannya.[MFA]

]]> Pemerintah mengingatkan kepada masyarakat tetap waspada  terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di bulan Ramadan dan jelang Idul Fitri tahun ini

“Pesan Pak Presiden selama masa puasa Ramadan dan Lebaran, jangan ada persoalan karhutla,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya saat memimpin rapat Rapat Teknis pemantapan langkah pencegahan karhutla sekaligus antisipasi karhutla tahun 2021 secara daring, Rabu (28/4).

Menteri LHK menyatakan, perlunya dilakukan rapat ini mengingat data luas areal yang terbakar hingga Maret 2021 sudah lebih tinggi dari luasan areal terbakar pada periode yang sama di 2020. Padahal hampir 80 persen areal Indonesia masih cukup tinggi potensi hujannya.

Siti menyebutkan, jika dilihat dari aspek luas areal terbakar, data menunjukan jika tahun 2021 luasan lahan yang terbakar mencapai 23.783 ha. Tingkatkan kebakaran lebih luas dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, yaitu 19.372 ha. 

Menteri LHK menyatakan, data tersebut mengkonfirmasi bahwa terdapat daerah-daerah konvensional terjadinya karhutla. Di lokasi tersebut, ia berharap antisipasi lebih karena di daerah-daerah tersebut kejadian karhutla selalu terjadi berulang-ulang.

“KLHK akan merintis pemantauan hotspot secara detil dan lebih mendalam di daerah-daerah konvensional. Mungkin hingga tanggal 5 Mei yang akan datang, karena jika hingga tanggal tersebut terjadi dinamika karhutla yang meningkat, atau terjadi eskalasi yang berarti, maka akan masih punya cukup waktu untuk mengambil langkah sebelum Lebaran Idul Fitri,” jelasnya.

Adapun beberapa daerah konvensional tersebut, meliputi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Pontianak, Ketapang, Singkawang, Kapuas, Pangkalan Bun, Banjar, dan Tanah Laut.

Menteri Siti berharap agar sinergitas dan integrasi kerja penanggulangan karhutla menjadi semakin baik ke depannya. Hal in untuk mendorong upaya mewujudkan solusi permanen penanganan karhutla yang diminta oleh Bapak Presiden agar segera dapat dilakukan.

“Saya minta BMKG dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), untuk mulai lakukan integrasi karhutla dalam konteks emisi karbon dan pengendalian perubahan iklim. Kita serius turunkan emisi karbon,”ujar Siti.

Kepala Badan Metereorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta semua pihak mewaspadai potensi karhutla kategori moderat dan tinggi pada Juni–September 2021 di wilayah Riau, Jambi dan Sumsel. 

Kemudian pada Juli–September 2021 di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan bagian selatan, dan pada Agustus – Oktober 2021 di wilayah NTT dan Papua bagian selatan.

Menanggapi potensi terjadinya karhutla ke depan, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza mengatakan, lembaganya terus melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).Pada Maret- April menunjukan hasil yang cukup baik dari segi prosentase penambahan curah hujan. 

Di Provinsi Riau disebutnya terjadi peningkatan prosentase penambahan curah hujan sebesar 33-64% terhadap curah hujan alamnya atau penambahan curah hujan di lokasi penyemaian awan sekitar 194,3 Juta m3. 

Kemudian di Provinsi Kalimantan Barat atas upaya TMC yang dilakukan terjadi peningkatan prosentase penambahan curah hujan sebesar hingga 44% terhadap curah hujan alamnya atau penambahan curah hujan di lokasi penyemaiannya.[MFA]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories