Pemerintah Impor Beras 1 Juta Ton Senayan: Stok Bulog Tipis,Kurang Serap Gabah Petani

Senayan meyakini kebijakan pemerintah mengimpor beras 1 juta ton semata-mata untuk memastikan cadangan beras tetap terjaga di masa pandemi. Impor dilakukan mengingat stok cadangan beras Bulog saat ini sudah menipis.

“Sekarang  stok Bulog makin tipis. Stoknya saja tinggal 800 ribu ton. Itu pun ditopang oleh beras impor tahun 2018 lalu,” tegas anggota Fraksi Golkar DPR Robert J Kardinal di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, stok Bulog yang ada saja saat ini menyisakan 800 ribu ton. Sementara banyak gudang Bulog yang ada justru disewakan. Karena itu, agak aneh kalau tiba-tiba Bulog meminta tinjau ulang kebijakan impor beras yang sudah disepakati dalam rapat koordinasi terbatas yang juga dihadiri oleh Bulog.

“Bulog katanya mau tingkatin serapan gabahnya. Lah, ini Januari-Maret 2021 saja serapannya cuma 70.940 ton. Ini dua bulan bekerja, masa serapannya cuma 70 ribuan ton,” katanya.

Karena itu, Robert sangsi Bulog bisa memaksimalkan serapannya hingga April untuk memenuhi beras cadangan pemerintah. Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maksimal 2 juta ton.

Menurutnya, impor beras tidak akan terjadi seandainya gudang Bulog penuh dengan beras petani.

“Gudang-gudang Bulog saja itu banyak yang kosong kok. Malah banyak yang disewakan,” jelas Robert.

Kalaupun impor beras ini di lakukan, lanjutnya, tidak mungkin sekaligus mendatangkan 1 juta ton. Tapi dilakukan secara bertahap. Sementara, Bulog bisa memaksimalkan tugasnya menyerap gabah petani sebagai cadangan beras pemerintah.

“Sekarang saja tingkat penyerapan gabahnya sangat rendah. Bulog katanya menargetkan Maret-April menyerap gabah petani 300 ribu ton, itu dalam tempo sebulan ya. Lah yang Januari-Maret saja cuma 70 ribuan ton. Jangan masalah pangan itu dibuat politik dan main-main, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas eks Ketua Fraksi Golkar ini.

Robert mengatakan, sudah menjadi tugas pemerintah memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau bagi masyarakat. Di masa pandemi ini, tentunya pemerintah berupaya memastikan pangan tersedia di masyarakat dengan stok yang cukup. Apalagi harga-harga pangan saat ini mulai melonjak.

Terpisah, Direktur Utama Perum Bulog menjelaskan, stok beras Bulog saat ini mencapai 883.585 ton yang terdiri dari CBP 859.877 ton dan beras komersial 23.708 ton.

Ada pun realisasi pengadaan gabah atau beras Januari hingga 14 Maret ini sudah mencapai 70.940 ton.

Memasuki panen raya, target penyerapan Maret-April untuk CBP sebesar 390 800 ton. “Diharapkan CBP pada akhir April sudah di atas 1 juta ton,” kata Dirut Bulog Budi Waseso.  [KAL]

 

 

 

 

 

 

 

]]> Senayan meyakini kebijakan pemerintah mengimpor beras 1 juta ton semata-mata untuk memastikan cadangan beras tetap terjaga di masa pandemi. Impor dilakukan mengingat stok cadangan beras Bulog saat ini sudah menipis.

“Sekarang  stok Bulog makin tipis. Stoknya saja tinggal 800 ribu ton. Itu pun ditopang oleh beras impor tahun 2018 lalu,” tegas anggota Fraksi Golkar DPR Robert J Kardinal di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, stok Bulog yang ada saja saat ini menyisakan 800 ribu ton. Sementara banyak gudang Bulog yang ada justru disewakan. Karena itu, agak aneh kalau tiba-tiba Bulog meminta tinjau ulang kebijakan impor beras yang sudah disepakati dalam rapat koordinasi terbatas yang juga dihadiri oleh Bulog.

“Bulog katanya mau tingkatin serapan gabahnya. Lah, ini Januari-Maret 2021 saja serapannya cuma 70.940 ton. Ini dua bulan bekerja, masa serapannya cuma 70 ribuan ton,” katanya.

Karena itu, Robert sangsi Bulog bisa memaksimalkan serapannya hingga April untuk memenuhi beras cadangan pemerintah. Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maksimal 2 juta ton.

Menurutnya, impor beras tidak akan terjadi seandainya gudang Bulog penuh dengan beras petani.

“Gudang-gudang Bulog saja itu banyak yang kosong kok. Malah banyak yang disewakan,” jelas Robert.

Kalaupun impor beras ini di lakukan, lanjutnya, tidak mungkin sekaligus mendatangkan 1 juta ton. Tapi dilakukan secara bertahap. Sementara, Bulog bisa memaksimalkan tugasnya menyerap gabah petani sebagai cadangan beras pemerintah.

“Sekarang saja tingkat penyerapan gabahnya sangat rendah. Bulog katanya menargetkan Maret-April menyerap gabah petani 300 ribu ton, itu dalam tempo sebulan ya. Lah yang Januari-Maret saja cuma 70 ribuan ton. Jangan masalah pangan itu dibuat politik dan main-main, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas eks Ketua Fraksi Golkar ini.

Robert mengatakan, sudah menjadi tugas pemerintah memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau bagi masyarakat. Di masa pandemi ini, tentunya pemerintah berupaya memastikan pangan tersedia di masyarakat dengan stok yang cukup. Apalagi harga-harga pangan saat ini mulai melonjak.

Terpisah, Direktur Utama Perum Bulog menjelaskan, stok beras Bulog saat ini mencapai 883.585 ton yang terdiri dari CBP 859.877 ton dan beras komersial 23.708 ton.

Ada pun realisasi pengadaan gabah atau beras Januari hingga 14 Maret ini sudah mencapai 70.940 ton.

Memasuki panen raya, target penyerapan Maret-April untuk CBP sebesar 390 800 ton. “Diharapkan CBP pada akhir April sudah di atas 1 juta ton,” kata Dirut Bulog Budi Waseso.  [KAL]

 

 

 

 

 

 

 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories