Pemerintah Gencar Cegah Tiga Jenis Baru Virus Corona .

Pemerintah memastikan jenis baru virus Corona dari Afrika Selatan (Afsel), Brazil dan Inggris belum masuk ke Indonesia. Meski begitu, Pemerintah tetap waspada. Sebab, ketiga varian baru itu bisa mengganggu efektivitas vaksin Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, mutasi Covid-19 yang muncul di dunia mempengaruhi kemanjuran vaksin yang sudah disun­tikkan kepada masyarakat.

Dari tiga varian baru SARS-CoV-2, varian asal Afsel mem­buat sejumlah vaksin Covid-19 menjadi kurang efektif. Virus mutan ini juga dapat menyebab­kan orang yang sudah pernah tertular, bisa tertular lagi.

“Entah bagaimana strain baru virus, terutama dari Afsel yang sudah dites, ternyata berdampak kepada efektivitas vaksin, yaitu mengurangi ke­manjuran. Tapi bukan mem­buat vaksin sama sekali tidak efektif,” ujar Bambang, dalam webinar Pengawasan Genomik, Mutasi, dan Vaksin yang dige­lar oleh Kementerian Ristek dan Teknologi (Kemenristek), di Jakarta, kemarin.

Bambang mengatakan, varian dari Afsel yaitu SARS-CoV-2 B 1.351 atau 501Y.V2 dicirikan dengan 8 mutasi yang menentu­kan garis keturunan dalam pro­tein spike, termasuk tiga residu penting dalam receptor-binding-domain (K417N, E484K, dan N501Y).

Varian dari Afsel itu juga ditemukan memiliki sejumlah besar mutasi yang tidak biasa, khususnya dalam protein spike, yang digunakan virus untuk melekat kepada dan mengin­feksi sel-sel manusia. Juga, bagian dari virus yang ditar­getkan oleh vaksin Covid-19 dan perawatan antibodi.

“Kita berlomba dengan ke­mampuan melakukan vaksi­nasi. Jika vaksin karena strain baru menjadi kurang efektif maka strategi kita mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) akan sulit. Sehingga kita perlu lebih banyak analisis untuk mencari vaksin yang efektif untuk mutasi dari Afsel,” ucapnya.

 

Kemudian, mutasi dari Inggris yaitu SARS-CoV-2 B.1.1.7 atau VOC202012/01 atau VUI202012/01 dicirikan oleh 17 mutasi, yang terdiri dari 14 mutasi non-gejala dan 3 penghapusan/deletion.

“Diperkirakan varian dari Inggris ini 50 persen lebih menular dan 35 persen lebih mematikan dibandingkan varian lainnya. Tapi vaksin tampaknya masih efektif,” tutur eks Menteri Keuangan itu.

Sementara varian dari Brazil, yaitu SARS-CoV-2 B.1.1.28.1 atau P.1, membawa 17 perubahan asam amino yang unik, 3 penghapusan, 4 mu­tasi sinonim, dan 4 penyisipan dibandingkan dengan sekuens paling terkait non-P.1 yang tersedia.

Bambang memastikan, ke­tiga strain ini belum ditemukan di Indonesia.

“Tapi membutuhkan waktu pengawasan untuk memas­tikan, mengidentifikasi dan harus mengetahui dampak mu­tasi baru ini kepada keparahan, infeksi dan perkembangan vak­sin,” tegas peraih gelar Doktor dari University of Illinois, Amerika Serikat ini.

Bambang tak heran dengan perkembangan mutasi virus Corona saat ini. Sebab, pada dasarnya, virus memang dapat berkembang dan beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang bervariasi.

Virus selalu membutuh­kan inang (host). Dalam per­jalanannya mencari inang, virus bisa bermutasi karena berusaha beradaptasi, dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu etnis ke etnis lainnya.

“Kita tahu dampak dari adanya varian baru Corona ini sudah serius. Kita harus melakukan surveilans genom lebih intensif lagi. Mutasi berubah dalam materi genetik virus, saat virus mencoba beradaptasi kepada inangnya,” terangnya. [DIR]

]]> .
Pemerintah memastikan jenis baru virus Corona dari Afrika Selatan (Afsel), Brazil dan Inggris belum masuk ke Indonesia. Meski begitu, Pemerintah tetap waspada. Sebab, ketiga varian baru itu bisa mengganggu efektivitas vaksin Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, mutasi Covid-19 yang muncul di dunia mempengaruhi kemanjuran vaksin yang sudah disun­tikkan kepada masyarakat.

Dari tiga varian baru SARS-CoV-2, varian asal Afsel mem­buat sejumlah vaksin Covid-19 menjadi kurang efektif. Virus mutan ini juga dapat menyebab­kan orang yang sudah pernah tertular, bisa tertular lagi.

“Entah bagaimana strain baru virus, terutama dari Afsel yang sudah dites, ternyata berdampak kepada efektivitas vaksin, yaitu mengurangi ke­manjuran. Tapi bukan mem­buat vaksin sama sekali tidak efektif,” ujar Bambang, dalam webinar Pengawasan Genomik, Mutasi, dan Vaksin yang dige­lar oleh Kementerian Ristek dan Teknologi (Kemenristek), di Jakarta, kemarin.

Bambang mengatakan, varian dari Afsel yaitu SARS-CoV-2 B 1.351 atau 501Y.V2 dicirikan dengan 8 mutasi yang menentu­kan garis keturunan dalam pro­tein spike, termasuk tiga residu penting dalam receptor-binding-domain (K417N, E484K, dan N501Y).

Varian dari Afsel itu juga ditemukan memiliki sejumlah besar mutasi yang tidak biasa, khususnya dalam protein spike, yang digunakan virus untuk melekat kepada dan mengin­feksi sel-sel manusia. Juga, bagian dari virus yang ditar­getkan oleh vaksin Covid-19 dan perawatan antibodi.

“Kita berlomba dengan ke­mampuan melakukan vaksi­nasi. Jika vaksin karena strain baru menjadi kurang efektif maka strategi kita mencapai herd immunity (kekebalan kelompok) akan sulit. Sehingga kita perlu lebih banyak analisis untuk mencari vaksin yang efektif untuk mutasi dari Afsel,” ucapnya.

 

Kemudian, mutasi dari Inggris yaitu SARS-CoV-2 B.1.1.7 atau VOC202012/01 atau VUI202012/01 dicirikan oleh 17 mutasi, yang terdiri dari 14 mutasi non-gejala dan 3 penghapusan/deletion.

“Diperkirakan varian dari Inggris ini 50 persen lebih menular dan 35 persen lebih mematikan dibandingkan varian lainnya. Tapi vaksin tampaknya masih efektif,” tutur eks Menteri Keuangan itu.

Sementara varian dari Brazil, yaitu SARS-CoV-2 B.1.1.28.1 atau P.1, membawa 17 perubahan asam amino yang unik, 3 penghapusan, 4 mu­tasi sinonim, dan 4 penyisipan dibandingkan dengan sekuens paling terkait non-P.1 yang tersedia.

Bambang memastikan, ke­tiga strain ini belum ditemukan di Indonesia.

“Tapi membutuhkan waktu pengawasan untuk memas­tikan, mengidentifikasi dan harus mengetahui dampak mu­tasi baru ini kepada keparahan, infeksi dan perkembangan vak­sin,” tegas peraih gelar Doktor dari University of Illinois, Amerika Serikat ini.

Bambang tak heran dengan perkembangan mutasi virus Corona saat ini. Sebab, pada dasarnya, virus memang dapat berkembang dan beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang bervariasi.

Virus selalu membutuh­kan inang (host). Dalam per­jalanannya mencari inang, virus bisa bermutasi karena berusaha beradaptasi, dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu etnis ke etnis lainnya.

“Kita tahu dampak dari adanya varian baru Corona ini sudah serius. Kita harus melakukan surveilans genom lebih intensif lagi. Mutasi berubah dalam materi genetik virus, saat virus mencoba beradaptasi kepada inangnya,” terangnya. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories