Pemeriksaan Tersangka Di Lapangan Tak Dikenal Dalam Budaya Papua

Sikap keluarga dan kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe yang terkesan berbelit-belit atas pemanggilan KPK membuat sejumlah warga Jayapura geregetan. Apalagi, pihak keluarga dan pengacara Enembe ingin agar pemeriksaan yang dilakukan KPK digelar di lapangan terbuka di Jayapura, dengan disaksikan masyarakat Papua dan dilakukan sesuai hukum adat Papua.

Nikolaus Demetouwm, warga Jayapura yang tinggal di Distrik Depapre, menilai permintaan keluarga Enembe itu mengada-ada. Niko pun mempertanyakan masyarakat adat yang disebut pengacara Enembe. 

“Kalau masyarakat adat pasti mereka mengerti aturan adat dan budaya. Dalam budaya orang Papua, saya belum pernah lihat dan dengar ada orang diperiksa di lapangan terbuka,” ucap tokoh masyarakat Jayapura ini, seperti keterangan yang diterima redaksi, Kamis (13/10).

Niko menyebutkan, dalam budaya masyarakat pesisir di Papua, dikenal istilah ‘batu lingkar’. Orang yang dituduh bersalah diperiksa tetua adat dipimpin Ondoafi yang duduk melingkar di area batu lingkar tersebut. Jadi, bukan di lapangan terbuka.

“Jika terbukti bersalah, orang tersebut membayar denda adat atau melaksanakan hukuman yang dijatuhkan kepadanya disaksikan warga kampung. Supaya masyarakat sama-sama tahu dan tidak lagi mengulangi perbuatan orang yang dihukum tersebut,” jelas Niko.

Eksekusi hukuman atau pembayaran denda adat terbuka tersebut bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pelaku. Selain itu, pelaku diajarkan sebuah prinsip hidup: berani berbuat salah, berani bertanggung jawab. Kesalahan yang sudah dilakukan harus ditebus dengan membayar denda adat.

Terkait dengan syarat keluarga Enembe tersebut, Niko justru melihat tidak adanya niat baik untuk menghormati adat. Justru adat dijadikan tameng bagi Enembe dan para pendukungnya untuk berlindung dari jeratan hukum.

Niko mengimbau, masyarakat Papua, khususnya warga Jayapura, untuk tidak terlibat dalam manuver yang dimainkan kelompok pendukung Enembe. Sebab, hal ini justru akan semakin memperkeruh situasi.

“Mari kita jaga Papua supaya tetap damai dan aman bagi semua orang. Lebih-lebih karena sebentar lagi kita akan menjadi tuan rumah Kongres Masyarakat Adat Nusantara, yang banyak tokoh-tokoh adat akan datang dari berbagai daerah di Indonesia,” seru Niko.

Menurut Niko, kongres ini akan menjadi momen penting bagi warga Papua untuk semakin mencintai budayanya sendiri serta menjaga budaya Papua dari upaya pihak-pihak yang bisa merusak citra orang Papua.■

]]> Sikap keluarga dan kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe yang terkesan berbelit-belit atas pemanggilan KPK membuat sejumlah warga Jayapura geregetan. Apalagi, pihak keluarga dan pengacara Enembe ingin agar pemeriksaan yang dilakukan KPK digelar di lapangan terbuka di Jayapura, dengan disaksikan masyarakat Papua dan dilakukan sesuai hukum adat Papua.

Nikolaus Demetouwm, warga Jayapura yang tinggal di Distrik Depapre, menilai permintaan keluarga Enembe itu mengada-ada. Niko pun mempertanyakan masyarakat adat yang disebut pengacara Enembe. 

“Kalau masyarakat adat pasti mereka mengerti aturan adat dan budaya. Dalam budaya orang Papua, saya belum pernah lihat dan dengar ada orang diperiksa di lapangan terbuka,” ucap tokoh masyarakat Jayapura ini, seperti keterangan yang diterima redaksi, Kamis (13/10).

Niko menyebutkan, dalam budaya masyarakat pesisir di Papua, dikenal istilah ‘batu lingkar’. Orang yang dituduh bersalah diperiksa tetua adat dipimpin Ondoafi yang duduk melingkar di area batu lingkar tersebut. Jadi, bukan di lapangan terbuka.

“Jika terbukti bersalah, orang tersebut membayar denda adat atau melaksanakan hukuman yang dijatuhkan kepadanya disaksikan warga kampung. Supaya masyarakat sama-sama tahu dan tidak lagi mengulangi perbuatan orang yang dihukum tersebut,” jelas Niko.

Eksekusi hukuman atau pembayaran denda adat terbuka tersebut bertujuan untuk memberikan efek jera kepada pelaku. Selain itu, pelaku diajarkan sebuah prinsip hidup: berani berbuat salah, berani bertanggung jawab. Kesalahan yang sudah dilakukan harus ditebus dengan membayar denda adat.

Terkait dengan syarat keluarga Enembe tersebut, Niko justru melihat tidak adanya niat baik untuk menghormati adat. Justru adat dijadikan tameng bagi Enembe dan para pendukungnya untuk berlindung dari jeratan hukum.

Niko mengimbau, masyarakat Papua, khususnya warga Jayapura, untuk tidak terlibat dalam manuver yang dimainkan kelompok pendukung Enembe. Sebab, hal ini justru akan semakin memperkeruh situasi.

“Mari kita jaga Papua supaya tetap damai dan aman bagi semua orang. Lebih-lebih karena sebentar lagi kita akan menjadi tuan rumah Kongres Masyarakat Adat Nusantara, yang banyak tokoh-tokoh adat akan datang dari berbagai daerah di Indonesia,” seru Niko.

Menurut Niko, kongres ini akan menjadi momen penting bagi warga Papua untuk semakin mencintai budayanya sendiri serta menjaga budaya Papua dari upaya pihak-pihak yang bisa merusak citra orang Papua.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories