Pemberdayaan Kelompok Tani Milenial Di Cilacap Mampu Tekan Margin Harga Cabe

Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam 10 besar penyumbang produksi cabe tertinggi untuk Provinsi Jawa Tengah. 

Selain potensi lahan yang subur dan cocok untuk pengembangan cabe, semangat petani-petani muda yang tergabung dalam kelompok milenial juga menjadi salah satu faktor keberhasilan. Mereka mampu menciptakan gebrakan baru dalam pemasaran cabe di Cilacap. 

Selama ini, sebagian besar petani cabe di Kabupaten Cilacap bergantung pada tengkulak. Tengkulak memberikan modal usaha bagi petani cabe dan petani harus menjual hasil panennya kepada tengkulak tersebut. 

Penjualan melalui tengkulak dirasa tidak transparan dari sisi harga. Selisih harga yang diterima petani dengan harga di pasar mencapai Rp 15.000/kg. 

Rantai tata niaganya pun panjang. Dari petani ke tengkulak, kemudian ke pedagang-pedagang besar, dilanjutkan ke bandar dan baru ke pasar. 

Berdasarkan latar belakang tersebut, Kelompok Tani Milenial “Karya Muda” yang merupakan bentukan dan binaan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap bersama-sama dengan PPL menginisiasi untuk memotong rantai tata niaga cabe dari petani hingga pasar. Mereka melakukan jual beli cabe secara transparan dan bisa menekan margin harga. 

Dengan adanya pola pemasaran dari Kelompok Tani Milenial “Karya Muda”, petani mulai banyak yang mengusahakan cabenya dengan modal sendiri dan mengurangi pinjaman modal dari tengkulak. 

Saat ini sudah 10 persen dari 70 petani cabe di Desa Palugon, Kecamatan Wanareja yang menanam cabe dengan modal sendiri dan menjual hasil panennya melalui Nasihin, ketua Kelompok Tani Milenial.

Rasam, salah satu petani cabe asal Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Cilacap, saat ditemui di lahannya menjelaskan, pihaknya sangat senang dengan adanya Kelompok Tani Milenial.

“Saya sangat senang dengan adanya Pak Nasihin. Kalau dulu kami menjual cabe lewat tengkulak perbedaan harganya yang kami terima dan harga di pasar sampai Rp 15.000/kg. Setelah lewat Pak Nasihin, sebelum cabe diangkut saja kami sudah dikasih tahu harganya. Perbedaan harganya juga hanya Rp 5.000/kg. Terkadang pembayarannya juga langsung kita terima pada waktu cabe diambil. Kami jadi semangat tanam dengan modal sendiri,” jelas Rasam.

Senada dengan pernyataan Rasam, PPL Kecamatan Wanareja, Jejen, membenarkan hal tersebut. Jejen menjelaskan, dengan adanya pemasaran cabe melalui Kelompok Tani Milenial, semakin banyak petani yang menanam dengan modal sendiri. 

Margin harga yang diambil oleh Pak Nasihin hanya Rp 5.000/kg dan dari margin itu, tidak sepenuhnya menjadi keuntungan Pak Nasihin. Melainkan sudah termasuk ongkos angkut dan disisihkan untuk kas kelompok. 

“Tidak hanya itu, Kelompok Tani Milenial juga sedang mulai mengembangkan agrowisata. Saat ini, sudah tanam cabe seluas 3 hektare. Ke depan akan mengembangkan tabulampot. Kami juga menggandeng KWT untuk pengolahan cabe. Tidak hanya cabe segar, tapi cabe hasil sortiran dari yang dipasarkan Pak Nasihin pun dikeringkan. Jadi, tidak ada cabe yang terbuang,” papar Jejen.

Pengembangan cabe di Cilacap mendapatkan dukungan baik dari Dinas Pertanian, Ditjen Hortikultura dan Kementerian Pertanian. 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, saat ditemui di kantor dinas pada awal Februari mengungkapkan bahwa dinas telah menginisiasi program “Lapak Petani”.

Konsep Lapak Petani ini adalah mendekatkan konsumen akhir dengan petani, sehingga dapat turut memotong margin harga di tingkat petani dan konsumen. 

Lapak Petani memberikan ruang kepada petani untuk berjualan langsung ke konsumen akhir, dengan sasaran pasar adalah pegawai pemda dan juga masyarakat setempat. Lapak Petani sangat membantu, terlebih saat harga sedang jatuh.

Program Lapak Petani ini sejalan dengan program-program yang dijalankan Kementan. Di bawah Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL),  Kementan selalu berusaha merancang program yang berpihak kepada petani. Di mulai dari sisi hulu, pendampingan budidaya hingga pascapanen.

Dessi Rahmaniar, Koordinator Kelompok Aneka Cabai Ditjen Hortikultura menyampaikan, dengan segala potensi, baik alam dan SDM yang dimiliki oleh Kabupaten Cilacap, sangat prospektif untuk pengembangan kawasan cabai. 

Dukungan Ditjen Hortikultura terus mengalir guna mendukung pengembangan cabe di wilayah ini. Saat kunjungan lapangan, Dessi juga melihat calon lokasi kampung cabe yang akan dijadikan salah satu kampung sayuran pada program Kampung Hortikultura tahun 2021. 

Pada 2020, Ditjen Hortikultura telah mengalokasikan bantuan fasilitasi kawasan cabai seluas 30 hektare. Sementara, pada 2021 bantuan fasilitasi juga dialokasikan untuk kawasan seluas 30 hektare dengan konsep pengembangan Kampung Cabe, yang mana luasannya minimal 5 hektare per kampung.

Fasilitasi lain dari Ditjen Hortikultura adalah berupa bantuan benih dari Direktorat Perbenihan Hortikultura dan sarana pascapanen, seperti dome untuk pengering cabai dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. 

“Harapan kami, bantuan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Khususnya untuk bantuan fasilitasi kawasan atau kampung cabe agar dapat dimanfaatkan di bulan-bulan off season, guna menstabilkan harga di bulan-bulan yang biasa bergejolak yakni Desember-Januari,” ujar Dessi. [KAL]

]]> Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten yang masuk dalam 10 besar penyumbang produksi cabe tertinggi untuk Provinsi Jawa Tengah. 

Selain potensi lahan yang subur dan cocok untuk pengembangan cabe, semangat petani-petani muda yang tergabung dalam kelompok milenial juga menjadi salah satu faktor keberhasilan. Mereka mampu menciptakan gebrakan baru dalam pemasaran cabe di Cilacap. 

Selama ini, sebagian besar petani cabe di Kabupaten Cilacap bergantung pada tengkulak. Tengkulak memberikan modal usaha bagi petani cabe dan petani harus menjual hasil panennya kepada tengkulak tersebut. 

Penjualan melalui tengkulak dirasa tidak transparan dari sisi harga. Selisih harga yang diterima petani dengan harga di pasar mencapai Rp 15.000/kg. 

Rantai tata niaganya pun panjang. Dari petani ke tengkulak, kemudian ke pedagang-pedagang besar, dilanjutkan ke bandar dan baru ke pasar. 

Berdasarkan latar belakang tersebut, Kelompok Tani Milenial “Karya Muda” yang merupakan bentukan dan binaan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap bersama-sama dengan PPL menginisiasi untuk memotong rantai tata niaga cabe dari petani hingga pasar. Mereka melakukan jual beli cabe secara transparan dan bisa menekan margin harga. 

Dengan adanya pola pemasaran dari Kelompok Tani Milenial “Karya Muda”, petani mulai banyak yang mengusahakan cabenya dengan modal sendiri dan mengurangi pinjaman modal dari tengkulak. 

Saat ini sudah 10 persen dari 70 petani cabe di Desa Palugon, Kecamatan Wanareja yang menanam cabe dengan modal sendiri dan menjual hasil panennya melalui Nasihin, ketua Kelompok Tani Milenial.

Rasam, salah satu petani cabe asal Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Cilacap, saat ditemui di lahannya menjelaskan, pihaknya sangat senang dengan adanya Kelompok Tani Milenial.

“Saya sangat senang dengan adanya Pak Nasihin. Kalau dulu kami menjual cabe lewat tengkulak perbedaan harganya yang kami terima dan harga di pasar sampai Rp 15.000/kg. Setelah lewat Pak Nasihin, sebelum cabe diangkut saja kami sudah dikasih tahu harganya. Perbedaan harganya juga hanya Rp 5.000/kg. Terkadang pembayarannya juga langsung kita terima pada waktu cabe diambil. Kami jadi semangat tanam dengan modal sendiri,” jelas Rasam.

Senada dengan pernyataan Rasam, PPL Kecamatan Wanareja, Jejen, membenarkan hal tersebut. Jejen menjelaskan, dengan adanya pemasaran cabe melalui Kelompok Tani Milenial, semakin banyak petani yang menanam dengan modal sendiri. 

Margin harga yang diambil oleh Pak Nasihin hanya Rp 5.000/kg dan dari margin itu, tidak sepenuhnya menjadi keuntungan Pak Nasihin. Melainkan sudah termasuk ongkos angkut dan disisihkan untuk kas kelompok. 

“Tidak hanya itu, Kelompok Tani Milenial juga sedang mulai mengembangkan agrowisata. Saat ini, sudah tanam cabe seluas 3 hektare. Ke depan akan mengembangkan tabulampot. Kami juga menggandeng KWT untuk pengolahan cabe. Tidak hanya cabe segar, tapi cabe hasil sortiran dari yang dipasarkan Pak Nasihin pun dikeringkan. Jadi, tidak ada cabe yang terbuang,” papar Jejen.

Pengembangan cabe di Cilacap mendapatkan dukungan baik dari Dinas Pertanian, Ditjen Hortikultura dan Kementerian Pertanian. 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Supriyanto, saat ditemui di kantor dinas pada awal Februari mengungkapkan bahwa dinas telah menginisiasi program “Lapak Petani”.

Konsep Lapak Petani ini adalah mendekatkan konsumen akhir dengan petani, sehingga dapat turut memotong margin harga di tingkat petani dan konsumen. 

Lapak Petani memberikan ruang kepada petani untuk berjualan langsung ke konsumen akhir, dengan sasaran pasar adalah pegawai pemda dan juga masyarakat setempat. Lapak Petani sangat membantu, terlebih saat harga sedang jatuh.

Program Lapak Petani ini sejalan dengan program-program yang dijalankan Kementan. Di bawah Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL),  Kementan selalu berusaha merancang program yang berpihak kepada petani. Di mulai dari sisi hulu, pendampingan budidaya hingga pascapanen.

Dessi Rahmaniar, Koordinator Kelompok Aneka Cabai Ditjen Hortikultura menyampaikan, dengan segala potensi, baik alam dan SDM yang dimiliki oleh Kabupaten Cilacap, sangat prospektif untuk pengembangan kawasan cabai. 

Dukungan Ditjen Hortikultura terus mengalir guna mendukung pengembangan cabe di wilayah ini. Saat kunjungan lapangan, Dessi juga melihat calon lokasi kampung cabe yang akan dijadikan salah satu kampung sayuran pada program Kampung Hortikultura tahun 2021. 

Pada 2020, Ditjen Hortikultura telah mengalokasikan bantuan fasilitasi kawasan cabai seluas 30 hektare. Sementara, pada 2021 bantuan fasilitasi juga dialokasikan untuk kawasan seluas 30 hektare dengan konsep pengembangan Kampung Cabe, yang mana luasannya minimal 5 hektare per kampung.

Fasilitasi lain dari Ditjen Hortikultura adalah berupa bantuan benih dari Direktorat Perbenihan Hortikultura dan sarana pascapanen, seperti dome untuk pengering cabai dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura. 

“Harapan kami, bantuan tersebut bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Khususnya untuk bantuan fasilitasi kawasan atau kampung cabe agar dapat dimanfaatkan di bulan-bulan off season, guna menstabilkan harga di bulan-bulan yang biasa bergejolak yakni Desember-Januari,” ujar Dessi. [KAL]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories