Peluncuran Direktori Tradisipencaksilat.id, Momentum Hadirkan Pencak Silat Di Ranah Digital

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Tim Kelola Direktori Pencak Silat bekerja sama dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) meluncurkan direktori melalui laman website tradisipencaksilat.id secara virtual pada Senin (8/11).

Peluncuran direktori tersebut merupakan sebuah bentuk kegiatan yang berkelanjutan setelah dua tahun penetapan Tradisi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2019 silam.

Melansir laman tradisipencaksilat.id, gerakan Pencak Silat road to UNESCO diawali pada Mei 2013 setelah digelar Seminar Pencak Silat Indonesia yang dinisiasi oleh Bapak Pencak Silat Indonesia, Eddie M. Nalapraya, bersama Menpora saat itu, Roy Suryo dan Heru Nugroho yang saat ini merupakan salah satu Wakil Ketua PANDI, serta peneliti budaya pencak silat Mody Afandi bersama Tim Pencak Silat Road to Unesco & Olympic.

Inisiasi itu di kemudian hari melibatkan bayak pihak, termasuk Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud-Risti dan akhirnya membuahkan hasil, yaitu Penetapan dari UNESCO.

Dalam sambutannya, Eddie M. Nalapraya selaku petinggi Pencak Silat Indonesia mengajak masyarakat dan para pemangku budaya pencak silat di Indonesia dan dunia untuk berkontribusi dalam pengisian direktori terkait data masing-masing aliran, perguruan, dan individu (tokoh), sebagai upaya pelestarian dan pengembangan pencak silat untuk generasi sekarang dan masa depan.

“Pengisian data masing masing aliran sebagai upaya pelestarian dan pengembangan pencak silat. Tujuan diluncurkannya direktori dalam bentuk website ini adalah untuk bisa mencatatkan sejarah dan perkembangan Pencak Silat, melakukan pemetaan aliran silat yang ada di Indonesia, memetakan persebaran perguruan silat di dunia dan memetakan potensi wira usaha dalam persebarannya,” ujar Eddie.

 

Menurut Roy Suryo yang saat itu (tahun 2013) menjabat sebagai Menpora mengatakan bahwa kendala minimnya informasi yang didapat secara daring, memerlukan seseorang untuk terjun langsung ke lapangan. Sehingga membutuhkan dana yang besar untuk mendapatkan data tersebut.

Oleh karena itu peluncuran direktori tersebut dirasa sangat tepat guna, untuk mengakomodir hal tersebut agar lebih efisien.

“Berkat doa kita semuanya akhirnya Pencak Silat bisa diakui UNESCO. Ini adalah kewajiban negara, siapa pun Dirjennya, Menteri dan Presidennya, ini merupakan kewajiban Negara. Memang harus berkewajiban memfasilitasi untuk upaya pelestarian yang sudah dirintis pendahulu kita. Jangan sampai diambil bangsa lain, sehingga kita merasa perlu untuk melakukan literasi ke dunia bahwa pencak silat asli dari Indonesia. Selamat untuk launching ini, dan apa yang dikerjakan bisa sukses,” tandas Roy Suryo.

Sementara itu, Kemendikbud Ristek melalui Ditjen Kebudayaan yang diwakili Restu Gunawan mengucapkan selamat atas terwujudnya direktori ini yang memang sudah dicanangkan sejak lama.

“Setelah ditetapkan (UNESCO) mau ngapain, perlu kerja sama dari pemerintah daerah dan komunitas bisa untuk memperkuat karakter bangsa, silat tidak hanya olahraga karena seni ada disitu, pertunjukan ada di situ. Menurut saya direktori ini bisa menjadi milestone dan pengembangan. Mudah-mudahan bisa berkembang maju dan menjadi rumah untuk kita semua,” ujar Restu.

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis, Pemasaran dan Kerjasama PANDI Heru Nugroho mengatakan bahwa PANDI sudah menyumbangkan nama domain untuk tradisi pencak silat. Selain itu juga akan menyiapkan satu infrastruktur, sebuah aplikasi yang bisa mengakomodir data para atlet nantinya.

“Kami menyadari bahwa direktori tujuannya membangun sebuah ekosistem dalam konteks penyusunan direktori dari sisi pemahaman, knowledge dan resources, perlu dirangkum dalam sebuah platform dan kami sedang menyusun big data atlet kedepannya,” ujarnya.

Heru menambahkan bahwa bukan hanya persoalan mengumpulkan atlet persilatan, lebih dari itu agar tradisi silat bisa tertulis di dunia maya.

“Jika Pencak Silat dalam konteks pengetahuan berikut tradisinya tidak hadir di ranah digital sedari dini, bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun ke depan hanya tinggal selayaknya mitos,” ujar Heru.

Ia menambahkan, Karena memang eranya digital. Kita punya rekam jejak tradisi pencak silat, ketika sudah berada di digital pasti akan terus abadi. “Inisiasi ini diharapkan bisa menjadi inisiasi awal dan bisa sustainable,” pungkas Heru. [SRI]

]]> Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Tim Kelola Direktori Pencak Silat bekerja sama dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) meluncurkan direktori melalui laman website tradisipencaksilat.id secara virtual pada Senin (8/11).

Peluncuran direktori tersebut merupakan sebuah bentuk kegiatan yang berkelanjutan setelah dua tahun penetapan Tradisi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2019 silam.

Melansir laman tradisipencaksilat.id, gerakan Pencak Silat road to UNESCO diawali pada Mei 2013 setelah digelar Seminar Pencak Silat Indonesia yang dinisiasi oleh Bapak Pencak Silat Indonesia, Eddie M. Nalapraya, bersama Menpora saat itu, Roy Suryo dan Heru Nugroho yang saat ini merupakan salah satu Wakil Ketua PANDI, serta peneliti budaya pencak silat Mody Afandi bersama Tim Pencak Silat Road to Unesco & Olympic.

Inisiasi itu di kemudian hari melibatkan bayak pihak, termasuk Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud-Risti dan akhirnya membuahkan hasil, yaitu Penetapan dari UNESCO.

Dalam sambutannya, Eddie M. Nalapraya selaku petinggi Pencak Silat Indonesia mengajak masyarakat dan para pemangku budaya pencak silat di Indonesia dan dunia untuk berkontribusi dalam pengisian direktori terkait data masing-masing aliran, perguruan, dan individu (tokoh), sebagai upaya pelestarian dan pengembangan pencak silat untuk generasi sekarang dan masa depan.

“Pengisian data masing masing aliran sebagai upaya pelestarian dan pengembangan pencak silat. Tujuan diluncurkannya direktori dalam bentuk website ini adalah untuk bisa mencatatkan sejarah dan perkembangan Pencak Silat, melakukan pemetaan aliran silat yang ada di Indonesia, memetakan persebaran perguruan silat di dunia dan memetakan potensi wira usaha dalam persebarannya,” ujar Eddie.

 

Menurut Roy Suryo yang saat itu (tahun 2013) menjabat sebagai Menpora mengatakan bahwa kendala minimnya informasi yang didapat secara daring, memerlukan seseorang untuk terjun langsung ke lapangan. Sehingga membutuhkan dana yang besar untuk mendapatkan data tersebut.

Oleh karena itu peluncuran direktori tersebut dirasa sangat tepat guna, untuk mengakomodir hal tersebut agar lebih efisien.

“Berkat doa kita semuanya akhirnya Pencak Silat bisa diakui UNESCO. Ini adalah kewajiban negara, siapa pun Dirjennya, Menteri dan Presidennya, ini merupakan kewajiban Negara. Memang harus berkewajiban memfasilitasi untuk upaya pelestarian yang sudah dirintis pendahulu kita. Jangan sampai diambil bangsa lain, sehingga kita merasa perlu untuk melakukan literasi ke dunia bahwa pencak silat asli dari Indonesia. Selamat untuk launching ini, dan apa yang dikerjakan bisa sukses,” tandas Roy Suryo.

Sementara itu, Kemendikbud Ristek melalui Ditjen Kebudayaan yang diwakili Restu Gunawan mengucapkan selamat atas terwujudnya direktori ini yang memang sudah dicanangkan sejak lama.

“Setelah ditetapkan (UNESCO) mau ngapain, perlu kerja sama dari pemerintah daerah dan komunitas bisa untuk memperkuat karakter bangsa, silat tidak hanya olahraga karena seni ada disitu, pertunjukan ada di situ. Menurut saya direktori ini bisa menjadi milestone dan pengembangan. Mudah-mudahan bisa berkembang maju dan menjadi rumah untuk kita semua,” ujar Restu.

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Bisnis, Pemasaran dan Kerjasama PANDI Heru Nugroho mengatakan bahwa PANDI sudah menyumbangkan nama domain untuk tradisi pencak silat. Selain itu juga akan menyiapkan satu infrastruktur, sebuah aplikasi yang bisa mengakomodir data para atlet nantinya.

“Kami menyadari bahwa direktori tujuannya membangun sebuah ekosistem dalam konteks penyusunan direktori dari sisi pemahaman, knowledge dan resources, perlu dirangkum dalam sebuah platform dan kami sedang menyusun big data atlet kedepannya,” ujarnya.

Heru menambahkan bahwa bukan hanya persoalan mengumpulkan atlet persilatan, lebih dari itu agar tradisi silat bisa tertulis di dunia maya.

“Jika Pencak Silat dalam konteks pengetahuan berikut tradisinya tidak hadir di ranah digital sedari dini, bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun ke depan hanya tinggal selayaknya mitos,” ujar Heru.

Ia menambahkan, Karena memang eranya digital. Kita punya rekam jejak tradisi pencak silat, ketika sudah berada di digital pasti akan terus abadi. “Inisiasi ini diharapkan bisa menjadi inisiasi awal dan bisa sustainable,” pungkas Heru. [SRI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories