Peluang Resesi Indonesia Kecil, Moeldoko: Bukti Fundamental Ekonomi Domestik Kuat

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko mengatakan, peluang risiko resesi Indonesia sangat kecil. Hal ini bukti jika fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat.

Hal tersebut dikatakan Moeldoko saat membahas hasil survei Bloomberg yang menyebutkan peluang risiko resesi Indonesia hanya 3 persen pada seminar kebangsaan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah, Senin (18/7).

“Hasil survei Ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik kita kuat dan memiliki daya tahan di tengah risiko global yang masih eskalatif,” kata Moeldoko.

Moeldoko yang mengenakan kemeja putih lengan pendek itu lalu membeberkan kerja keras pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pada sektor energi, pemerintah terus menjaga ketersediaan dan keterjangkuan harga di masyarakat dengan menyalurkan subsidi, yang nilainya mencapai Rp 520 triliun.

Kata dia, opsi ini dipertahankan oleh pemerintah, agar beban masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan energi tidak berat. “Namun jika subsidi terus diberikan akan membuat uang negara jebol. Untuk itu, skema subsidi akan dirubah. Tidak lagi ke barang tapi langsung ke orangnya agar tepat sasaran,” terangnya.

Panglima TNI 2013-2015 ini juga menjabarkan kerja pemerintah menghadapai ancaman krisis pangan. Ia mengatakan, pemerintah sudah melakukan peningkatan produktivitas di sektor pertanian untuk menjawab kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri, yakni sebesar 2,5 juta ton per bulan.

“Hasilnya selama tiga tahun berturut-turut kita sudah tidak lagi impor beras. Bahkan beras kita surplus. Pemerintah juga melakukan diversifikasi pangan, seperti menanam sorgum, sagu, dan jagung. Ini semua untuk menjawab tantangan ancaman krisis pangan dunia,” sambung Moeldoko.

Moeldoko juga menegaskan, bahwa mengelola negara di lingkungan global tidak mudah karena tantangannya sangat besar. Terlebih, di saat global menghadapi berbagai kejutan-kejutan, seperti pandemi Covid-19 dan perang Ukraina-Rusia, yang berdampak pada terputusnya pasok rantai dan kenaikan harga-harga komoditas.

Dalam menghadapi itu, Moeldoko menyampaikan lima teorinya. Yakni, mampu adaptif terhadap perubahan, membangun kecepatan di segala lini, berani mengambil risiko atas kebijakan yang diambil secara konstitusional, siap menghadapi kompleksitas akibat globalisasi, dan siap merespon kejutan-kejutan yang akan terjadi akibat kemajuan teknologi.

“Kalian sebagai calon pemimpin bangsa harus siap dengan semua perubahan-perubahan,” pungkas Moeldoko.

]]> Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko mengatakan, peluang risiko resesi Indonesia sangat kecil. Hal ini bukti jika fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat.

Hal tersebut dikatakan Moeldoko saat membahas hasil survei Bloomberg yang menyebutkan peluang risiko resesi Indonesia hanya 3 persen pada seminar kebangsaan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah, Senin (18/7).

“Hasil survei Ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik kita kuat dan memiliki daya tahan di tengah risiko global yang masih eskalatif,” kata Moeldoko.

Moeldoko yang mengenakan kemeja putih lengan pendek itu lalu membeberkan kerja keras pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pada sektor energi, pemerintah terus menjaga ketersediaan dan keterjangkuan harga di masyarakat dengan menyalurkan subsidi, yang nilainya mencapai Rp 520 triliun.

Kata dia, opsi ini dipertahankan oleh pemerintah, agar beban masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan energi tidak berat. “Namun jika subsidi terus diberikan akan membuat uang negara jebol. Untuk itu, skema subsidi akan dirubah. Tidak lagi ke barang tapi langsung ke orangnya agar tepat sasaran,” terangnya.

Panglima TNI 2013-2015 ini juga menjabarkan kerja pemerintah menghadapai ancaman krisis pangan. Ia mengatakan, pemerintah sudah melakukan peningkatan produktivitas di sektor pertanian untuk menjawab kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri, yakni sebesar 2,5 juta ton per bulan.

“Hasilnya selama tiga tahun berturut-turut kita sudah tidak lagi impor beras. Bahkan beras kita surplus. Pemerintah juga melakukan diversifikasi pangan, seperti menanam sorgum, sagu, dan jagung. Ini semua untuk menjawab tantangan ancaman krisis pangan dunia,” sambung Moeldoko.

Moeldoko juga menegaskan, bahwa mengelola negara di lingkungan global tidak mudah karena tantangannya sangat besar. Terlebih, di saat global menghadapi berbagai kejutan-kejutan, seperti pandemi Covid-19 dan perang Ukraina-Rusia, yang berdampak pada terputusnya pasok rantai dan kenaikan harga-harga komoditas.

Dalam menghadapi itu, Moeldoko menyampaikan lima teorinya. Yakni, mampu adaptif terhadap perubahan, membangun kecepatan di segala lini, berani mengambil risiko atas kebijakan yang diambil secara konstitusional, siap menghadapi kompleksitas akibat globalisasi, dan siap merespon kejutan-kejutan yang akan terjadi akibat kemajuan teknologi.

“Kalian sebagai calon pemimpin bangsa harus siap dengan semua perubahan-perubahan,” pungkas Moeldoko.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories