Pedagang NTT Tolak Impor Ketua DPD Minta Pemerintah Jamin Sirkulasi Daging Lancar .
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA La Nyalla Mahmud Mattalitti menyoroti penolakan impor daging sapi dan kerbau yang disuarakan para pedagang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah diminta menunda impor daging. Karena stok di sejumlah daerah, di antaranya NTT, masih melimpah.
Pedagang daging sapi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, keberatan dengan rencana impor daging menjelang Hari Raya Idulfitri. Sebab, ketersediaan atau stok yang ada masih melimpah dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Ini harus jadi pertimbangan pemerintah,” ujar La Nyalla melalui keterangan terrulisnya, kemarin.
La Nyalla berharap, pemerintah berperan aktif dalam memastikan kelancaran sirkulasi di berbagai daerah. Dengan begitu, para peternak, pedagang, dan masyarakat dapat terbantu, sekaligus menggerakkan roda perekonomian.
“Saya minta, pemerintah menjamin sirkulasi daging sapi dan kerbau dari Kupang, NTT, ke Pulau Jawa dan daerah-daerah lainnya. Pemerintah juga harus menstabilkan harga, tidak ada gejolak, akibat kelebihan atau berkurangnya pasokan di pasar,” harap mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur (Jatim) ini.
Senator asal Jatim ini menambahkan, impor berlebihan, atau kelebihan pasokan tak hanya berdampak pada harga di pasar. Kondisi tersebut tak hanya melahirkan berbagai dampak terhadap peternak dan pedagang, tapi roda perekonomian masyarakat.
“Jika para peternak dan pedagang rugi, pasti berdampak pada sektor lain. Kami berharap, pemerintah menjaga keseimbangan, agar pedagang tidak merugi dan masyarakat terbantu. Caranya, kerja keras menekan biaya logistik dan tata kelola sirkulasinya,” tandasnya.
Sebelumnya, pedagang di salah satu pasar di Kota Kupang, Winto Dethan mengatakan, impor akan menggerus potensi penjualan daging sapi. Bahkan, pedagang sapi kiloan seperti dirinya akan gulung tikar, akibat persaingan harga dan kualitas daging. Meski barang yang diimpor merupakan daging kerbau.
“Kalau harganya di bawah jualan kami, usaha kami bisa macet. Sebaiknya, jangan diimpor saja” ujar Winto kepada LaNyalla di sela kunjungan rombongan DPD ke NTT, Kamis (25/3).
Winto berharap, pemerintah melakukan intervensi pasar agar terjadi penyesuaian harga, serta tak menghancurkam usaha para pedangan di pasar. “Di wilayah Nusa Tenggara Timur, stok sapi pedaging masih cukup banyak. Kami juga kirim ke luar (NTT). Artinya, masih ada stok sapi pedaging di NTT,” jelas dia. [ONI]
]]> .
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA La Nyalla Mahmud Mattalitti menyoroti penolakan impor daging sapi dan kerbau yang disuarakan para pedagang di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah diminta menunda impor daging. Karena stok di sejumlah daerah, di antaranya NTT, masih melimpah.
Pedagang daging sapi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, keberatan dengan rencana impor daging menjelang Hari Raya Idulfitri. Sebab, ketersediaan atau stok yang ada masih melimpah dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Ini harus jadi pertimbangan pemerintah,” ujar La Nyalla melalui keterangan terrulisnya, kemarin.
La Nyalla berharap, pemerintah berperan aktif dalam memastikan kelancaran sirkulasi di berbagai daerah. Dengan begitu, para peternak, pedagang, dan masyarakat dapat terbantu, sekaligus menggerakkan roda perekonomian.
“Saya minta, pemerintah menjamin sirkulasi daging sapi dan kerbau dari Kupang, NTT, ke Pulau Jawa dan daerah-daerah lainnya. Pemerintah juga harus menstabilkan harga, tidak ada gejolak, akibat kelebihan atau berkurangnya pasokan di pasar,” harap mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur (Jatim) ini.
Senator asal Jatim ini menambahkan, impor berlebihan, atau kelebihan pasokan tak hanya berdampak pada harga di pasar. Kondisi tersebut tak hanya melahirkan berbagai dampak terhadap peternak dan pedagang, tapi roda perekonomian masyarakat.
“Jika para peternak dan pedagang rugi, pasti berdampak pada sektor lain. Kami berharap, pemerintah menjaga keseimbangan, agar pedagang tidak merugi dan masyarakat terbantu. Caranya, kerja keras menekan biaya logistik dan tata kelola sirkulasinya,” tandasnya.
Sebelumnya, pedagang di salah satu pasar di Kota Kupang, Winto Dethan mengatakan, impor akan menggerus potensi penjualan daging sapi. Bahkan, pedagang sapi kiloan seperti dirinya akan gulung tikar, akibat persaingan harga dan kualitas daging. Meski barang yang diimpor merupakan daging kerbau.
“Kalau harganya di bawah jualan kami, usaha kami bisa macet. Sebaiknya, jangan diimpor saja” ujar Winto kepada LaNyalla di sela kunjungan rombongan DPD ke NTT, Kamis (25/3).
Winto berharap, pemerintah melakukan intervensi pasar agar terjadi penyesuaian harga, serta tak menghancurkam usaha para pedangan di pasar. “Di wilayah Nusa Tenggara Timur, stok sapi pedaging masih cukup banyak. Kami juga kirim ke luar (NTT). Artinya, masih ada stok sapi pedaging di NTT,” jelas dia. [ONI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .