Patok 10 Juta Nasabah Di 2021, PNM Pede Bisa Selip Bangladesh

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mematok target menjadi perusahaan pembiayaan kelompok mikro terbesar di dunia, dengan mencapai 10 juta nasabah tahun ini. Di mana per 24 April 2021, PNM memiliki sekitar 9,2 juta nasabah aktif.

Saat ini, perusahaan pembiayaan terbesar di dunia masih dipegang oleh Grameen Bank di Bangladesh, dengan pembiayaan mikro kepada 9,4 juta nasabah.

“Tinggal sedikit lagi kami bisa melewati Grameen Bank dan menjadi pembiayaan mikro terbesar di dunia dari sisi penyaluran nasabah,” yakin Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi dalam diskusi virtual PNM bertajuk Kartini Era Digital, Sabtu (24/4).

Sementara dari sisi keterlibatan perempuan, hampir 99 persen nasabah PNM juga diisi oleh kaum perempuan dan ibu rumah tangga yang memiliki usaha.

“Dari sisi pembiayaan kelompok perempuan bisa jadi kami juga yang terbesar di dunia. Ini akan menjadi kebanggaan kami dan bangsa,” ucapnya.

Sebagai agen of development, PNM mengaku akan terus berkomitmen memberikan pembiayaan kepada kelompok mikro yang merupakan amanat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), dalam rangka meningkat kesejahteraan masyarakat.

“Saat ini area layanan kami pun tersebar di 4.600 kecamatan dalam 440 kabupaten/kota di 34 provinsi, dengan 3.400 kantor PNM yang tersebar di seluruh Indonesia,” rinci Arief.

Terkait total penyaluran PNM di kuartal I-2021, mencapai Rp 11,7 triliun. Di mana jumlah penyaluran naik cukup fantastis dari Maret 2020 ke Maret 2021 sebesar 95,2 persen. Didominasi oleh penyaluran PNM Mekaar yang tumbuh 101,8 persen. Pendapatan PNM juga naik sebesar Rp 1,76 triliun dengan laba bersih Rp 186 miliar.

Hadir di kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi upaya yang telah dilakukan PNM. Menurutnya, wujud dari Kartini modern saat ini, salah satu pusatnya berada di PNM.

“Saya jadi ingat pertama kali hadir ke PNM, bersyukur memiliki kesempatan luar biasa melihat para Account Officer (AO) 99 persen perempuan, yang berjuang membantu pengusaha mikro, bisa naik kelas dengan dedikasi yang kuat,” kata Erick.

Ia juga mendorong berbagai program BUMN dikembangan oleh PNM, terus dilakukan secara nyata dan sustain. Bagaimana PNM hadir menjadi perusahaan yang memberikan solusi keuangan kepada pelaku usaha mikro, lantaran terbatasnya akses pembiayaan ke perbankan.

Erick menegaskan, program yang dijalankan PNM ke depan, diharapkan bisa menjaga kestabilan ekonomi Indonesia terutama saat Covid-19. Bantuan pembiayaan tetap mampu membuka lapangan kerja.

Bagaimana nasabah dan perusahaan bersatu pengembangan program secara bersama-sama. “Seiring itu juga kami terus menjaga perubahan transformasi di Kementerian BUMN,” imbuhnya.

Keterlibatan Perempuan

Transformasi tersebut juga termasuk keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan perempuan di BUMN, yang saat ini di kisaran 11 persen. Kementerian juga mengembangkan Srikandi BUMN di bawah kepemimpinan Tina Kemala Intan serta Ketua Forum Human Capital Indonesia yang dipimpin Alexandra Askandar. “Tahun ini kami targetkan keterlibatan perempuan di angka 15 persen dan 20 persen di 2023,” tuturnya.

Komisaris Independen PNM, Veronica Colondam menegaskan, AO PNM memiliki peran penting dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di tengah pandemi Covid-19. Apa yang dijalankan oleh AO sebagai agent of development tersebut turut berkontribusi menggerakkan perekonomian lapisan bawah dan memberdayakan perempuan pelaku usaha ultra mikro.

“Secara tidak langsung, fakta ini menunjukkan bagaimana para AO sendiri menjadi simbol perjuangan gender di era modern,” katanya.

 

Ia juga menegaskan, dengan dibekalinya AO di lapangan dengan gadget, makin mempermudah dan mempercepat target program yang ada di PNM.

“Para nasabah juga dibekali dengan pengetahuan digitalisasi sehingga kualitas produk usaha mikro makin meningkat. Dan penjualan juga naik,” imbuh Veronica.

Salah satu AO PNM di Ambon, Fancy mengaku, tidak mudah meyakinkan nasabah di lapangan untuk mau bergabung dengan PNM.

“Modal awal Rp 2 juta dengan bunga yang sangat rendah. Saya mengajak ibu-ibu di wilayah Ambon. Tantangannya, ketika mereka ragu, meyakinkan meraih pinjaman, tidak memberatkan justru meringankan,” terangnya. [DWI]

]]> PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mematok target menjadi perusahaan pembiayaan kelompok mikro terbesar di dunia, dengan mencapai 10 juta nasabah tahun ini. Di mana per 24 April 2021, PNM memiliki sekitar 9,2 juta nasabah aktif.

Saat ini, perusahaan pembiayaan terbesar di dunia masih dipegang oleh Grameen Bank di Bangladesh, dengan pembiayaan mikro kepada 9,4 juta nasabah.

“Tinggal sedikit lagi kami bisa melewati Grameen Bank dan menjadi pembiayaan mikro terbesar di dunia dari sisi penyaluran nasabah,” yakin Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi dalam diskusi virtual PNM bertajuk Kartini Era Digital, Sabtu (24/4).

Sementara dari sisi keterlibatan perempuan, hampir 99 persen nasabah PNM juga diisi oleh kaum perempuan dan ibu rumah tangga yang memiliki usaha.

“Dari sisi pembiayaan kelompok perempuan bisa jadi kami juga yang terbesar di dunia. Ini akan menjadi kebanggaan kami dan bangsa,” ucapnya.

Sebagai agen of development, PNM mengaku akan terus berkomitmen memberikan pembiayaan kepada kelompok mikro yang merupakan amanat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), dalam rangka meningkat kesejahteraan masyarakat.

“Saat ini area layanan kami pun tersebar di 4.600 kecamatan dalam 440 kabupaten/kota di 34 provinsi, dengan 3.400 kantor PNM yang tersebar di seluruh Indonesia,” rinci Arief.

Terkait total penyaluran PNM di kuartal I-2021, mencapai Rp 11,7 triliun. Di mana jumlah penyaluran naik cukup fantastis dari Maret 2020 ke Maret 2021 sebesar 95,2 persen. Didominasi oleh penyaluran PNM Mekaar yang tumbuh 101,8 persen. Pendapatan PNM juga naik sebesar Rp 1,76 triliun dengan laba bersih Rp 186 miliar.

Hadir di kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi upaya yang telah dilakukan PNM. Menurutnya, wujud dari Kartini modern saat ini, salah satu pusatnya berada di PNM.

“Saya jadi ingat pertama kali hadir ke PNM, bersyukur memiliki kesempatan luar biasa melihat para Account Officer (AO) 99 persen perempuan, yang berjuang membantu pengusaha mikro, bisa naik kelas dengan dedikasi yang kuat,” kata Erick.

Ia juga mendorong berbagai program BUMN dikembangan oleh PNM, terus dilakukan secara nyata dan sustain. Bagaimana PNM hadir menjadi perusahaan yang memberikan solusi keuangan kepada pelaku usaha mikro, lantaran terbatasnya akses pembiayaan ke perbankan.

Erick menegaskan, program yang dijalankan PNM ke depan, diharapkan bisa menjaga kestabilan ekonomi Indonesia terutama saat Covid-19. Bantuan pembiayaan tetap mampu membuka lapangan kerja.

Bagaimana nasabah dan perusahaan bersatu pengembangan program secara bersama-sama. “Seiring itu juga kami terus menjaga perubahan transformasi di Kementerian BUMN,” imbuhnya.

Keterlibatan Perempuan

Transformasi tersebut juga termasuk keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan perempuan di BUMN, yang saat ini di kisaran 11 persen. Kementerian juga mengembangkan Srikandi BUMN di bawah kepemimpinan Tina Kemala Intan serta Ketua Forum Human Capital Indonesia yang dipimpin Alexandra Askandar. “Tahun ini kami targetkan keterlibatan perempuan di angka 15 persen dan 20 persen di 2023,” tuturnya.

Komisaris Independen PNM, Veronica Colondam menegaskan, AO PNM memiliki peran penting dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di tengah pandemi Covid-19. Apa yang dijalankan oleh AO sebagai agent of development tersebut turut berkontribusi menggerakkan perekonomian lapisan bawah dan memberdayakan perempuan pelaku usaha ultra mikro.

“Secara tidak langsung, fakta ini menunjukkan bagaimana para AO sendiri menjadi simbol perjuangan gender di era modern,” katanya.

 

Ia juga menegaskan, dengan dibekalinya AO di lapangan dengan gadget, makin mempermudah dan mempercepat target program yang ada di PNM.

“Para nasabah juga dibekali dengan pengetahuan digitalisasi sehingga kualitas produk usaha mikro makin meningkat. Dan penjualan juga naik,” imbuh Veronica.

Salah satu AO PNM di Ambon, Fancy mengaku, tidak mudah meyakinkan nasabah di lapangan untuk mau bergabung dengan PNM.

“Modal awal Rp 2 juta dengan bunga yang sangat rendah. Saya mengajak ibu-ibu di wilayah Ambon. Tantangannya, ketika mereka ragu, meyakinkan meraih pinjaman, tidak memberatkan justru meringankan,” terangnya. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories