Pasca Libur Panjang, Rupiah Melorot 0,12 Persen

Pasca libur panjang, nilai tukar rupiah pagi ini dibuka melemah 0,12 persen ke level Rp 14.381 per dolar AS dibanding perdagangan pada Jumat (25/2) di level Rp 14.364 per dolar AS.

Sebaliknya, mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat terhadap dolar AS pagi ini. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, won Korea Selatan menguat 0,02 persen, peso Filipina melesat 0,11 persen, ringgit Malaysia naik 0,04 persen, dan baht Thailand terdongkrak 0,45 persen.

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia naik sebesar 0,09 persen menjadi 96,701. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,50 persen ke level Rp 16.075, terhadap poundsterling Inggris juga melemah 0,68 persen ke level Rp 19.264, terhadap dolar Australia minus 0,63 persen ke level Rp 10.423.

Gejolak perang Rusia-Ukraina menurut Analis Pasar Uang Ariston Tjendra masih menjadi sentimen kuat yang datang dari luar negeri. Untuk itu ia menilai, rupiah masih akan melemah melemah, meskipun sentimen pasar sudah terlihat lebih positif terhadap aset berisiko.

“Masalahnya pasar masih mengkhawatirkan dampak negatif perang di Ukraina terhadap perekonomian,” ujar Ariston¬† di Jakarta, Selasa (1/3).

Ariston bilang, Rusia masih jauh dari kata mundur untuk melakukan invasinya. Rusia terlihat masih berupaya masuk ke ibukota Ukraina sementara upaya diplomasi belum berhasil.

Terutama sanksi ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai masih belum menyurutkan langkah Rusia untuk terus menyerang Ukraina.

“Perang yang lebih lama dikhawatirkan akan berdampak negatif ke perekonomian global. Kenaikan harga energi dan komoditi yang mendorong inflasi bisa menekan pemulihan ekonomi,” tutur Ariston.

Untuk itu ia memproyeksi, nilai tukar rupiah akan bergerak ke arah Rp 14.400 dengan support di kisaran Rp 14.350. [DWI]

]]> Pasca libur panjang, nilai tukar rupiah pagi ini dibuka melemah 0,12 persen ke level Rp 14.381 per dolar AS dibanding perdagangan pada Jumat (25/2) di level Rp 14.364 per dolar AS.

Sebaliknya, mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat terhadap dolar AS pagi ini. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, won Korea Selatan menguat 0,02 persen, peso Filipina melesat 0,11 persen, ringgit Malaysia naik 0,04 persen, dan baht Thailand terdongkrak 0,45 persen.

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia naik sebesar 0,09 persen menjadi 96,701. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,50 persen ke level Rp 16.075, terhadap poundsterling Inggris juga melemah 0,68 persen ke level Rp 19.264, terhadap dolar Australia minus 0,63 persen ke level Rp 10.423.

Gejolak perang Rusia-Ukraina menurut Analis Pasar Uang Ariston Tjendra masih menjadi sentimen kuat yang datang dari luar negeri. Untuk itu ia menilai, rupiah masih akan melemah melemah, meskipun sentimen pasar sudah terlihat lebih positif terhadap aset berisiko.

“Masalahnya pasar masih mengkhawatirkan dampak negatif perang di Ukraina terhadap perekonomian,” ujar Ariston¬† di Jakarta, Selasa (1/3).

Ariston bilang, Rusia masih jauh dari kata mundur untuk melakukan invasinya. Rusia terlihat masih berupaya masuk ke ibukota Ukraina sementara upaya diplomasi belum berhasil.

Terutama sanksi ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, dinilai masih belum menyurutkan langkah Rusia untuk terus menyerang Ukraina.

“Perang yang lebih lama dikhawatirkan akan berdampak negatif ke perekonomian global. Kenaikan harga energi dan komoditi yang mendorong inflasi bisa menekan pemulihan ekonomi,” tutur Ariston.

Untuk itu ia memproyeksi, nilai tukar rupiah akan bergerak ke arah Rp 14.400 dengan support di kisaran Rp 14.350. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories