Pasca Fasilitas Isolasi Rusun Nagrak Dan Pasar Rumput Ditutup Semoga Tak Ada Lagi Pasien Corona Di Wisma Atlet

Tempat isolasi terpusat (isoter) khusus pasien Covid-19 di Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, dan Rusun Pasar Rumput, Jakarta Selatan ditutup sementara sejak Senin (30/8). Pasalnya, sudah tidak lagi pasien Covid-19 yang dirawat.

Akun Perupadata mengunggah meme dua Rusun Nagrak dan Pasar Rumput dengan latar belakang Peta Jakarta. Di dalamnya dilengkapi keterangan jumlah pasien yang pernah dira­wat di tempat isolasi terpusat khusus pasien Covid-19 itu.

Rincianya, Rusun Pasar Rumput tanggal beroperasi 18 Juli-30 Agustus 2021, jumlah pasien dirawat 1.094 sembuh 1.058 dan dipindah ke Wisma Atlet 36 pasien. Sedangkan Rusun Nagrak mulai beroperasi 21 Juni-30 Agustus dengan jumlah pasien dirawat 9.419 dan sembuh 9.419.

Kata Perupadata, menyusul berangsur turunnya beban perawatan Covid-19 khusus­nya di Jakarta, Rusun Nagrak dan Pasar Rumput resmi ditutup sebagai pusat isolasi. Di Rusun Nagrak, semua pasien telah dinyatakan sembuh. Sementara di Pasar Rumput, ada 36 pasien yang dipindahkan ke Wisma Atlet.

“Fasilitas isolasi belum akan dibongkar, kabarnya akan standby jika lonjakan kem­bali terjadi. Semoga tak sampai kejadian,” ujarnya.

Netizen pun senang, Rusun Nagrak dan Pasar Rumput Jakarta ditutup sebagai tempat isolasi terpusat pasien Covid-19. Namun, neti­zen mengingatkan masyarakat jangan sampai lengah dan abai terhadap protokol kesehatan (prokes).

“Alhamdulilah, jangan puas diri apalagi lengah, saling bantu masyarakat dan Pemerintah, insya Allah Covid-19 hilang,” ujar @riancha­niago4148.

Akun @Rizal_Firmansyah juga senang dengan keberhasilan penanganan pasien Covid. Kata dia, penutupan kedua rusun tersebut sebagai tempat isoter adalah buk­ti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan program vaksinasi sebagai keputusan yang tepat.

“Alhamdulillah. Semoga segera tercapai herd immunity,” harap dia. “Tetap jangan lengah dan selalu waspada dan jangan abai prokes,” timpal @guruhoktobeprime. “Jangan abai terhadap prokes, semoga semakin mem­baik kondisi di seluruh negeri,” sambung @akukanyoga.

 

Akun @iyoko berharap, Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, segera menyusul kosong dari pasien Covid-19. Dia juga mewanti-wanti kepada masyarakat untuk terus mematuhi prokes di manapun tempatnya.

“Semoga makin banyak RSDC di kota-kota lain yang di-non-aktifkan karena sudah tidak ada lagi pasien Covid-19. Nakes juga manusia, mereka rindu dengan keluarga,” timpal @Dody_Rusman.

Akun @jhon_teaa mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan taat prokes. Kata dia, kasus Covid di India layak dijadikan pelajaran. Hingga kini, kata dia, di India kasus Covidnya tidak turun-turun. “Malahan naik gara-gara abai prokes,” ujar @jhon_teaa.

Menurut @DJRachbini, sampai Agustus lalu Indonesia adalah episentrum Covid-19 menggantikan India dengan kematian harian tertinggi di dunia. Sekarang sudah turun dan tidak jadi episentrum lagi.

“Jangan sampai kecolongan lagi, gelombang ketiga,” kata dia. “Pemerintah secepatnya menuntaskan vaksin Covid-19 dan tetap ikuti prokes dengan ketat,” ujar @lussy_lucasia.

Akun @simple_mikee mengusulkan, kota-kota yang kasus Covid-nya mulai membaik, tenaga kesehatan (nakes) yang tadinya berjaga di bagian perawatan rumah sakit bisa dilatih menjadi vaksinator. “Indonesia harus diper­cepat vaksinasinya, harus segera 2 juta dosis per hari,” harap dia.

Akun @Evi_Fadliah mendorong vaksinasi door to door semakin ditingkatkan dan dapat berjalan dengan baik, aman dan lancar. Kata dia, vaksinasi door to door selain untuk mengurangi potensi kerumunan, juga cukup efek­tif dan memudahkan masyarakat untuk vaksi­nasi. “Sehingga bisa mengurangi penyebaran Covid-19 di Indonesia,” tandasnya. [TIF]

]]> Tempat isolasi terpusat (isoter) khusus pasien Covid-19 di Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, dan Rusun Pasar Rumput, Jakarta Selatan ditutup sementara sejak Senin (30/8). Pasalnya, sudah tidak lagi pasien Covid-19 yang dirawat.

Akun Perupadata mengunggah meme dua Rusun Nagrak dan Pasar Rumput dengan latar belakang Peta Jakarta. Di dalamnya dilengkapi keterangan jumlah pasien yang pernah dira­wat di tempat isolasi terpusat khusus pasien Covid-19 itu.

Rincianya, Rusun Pasar Rumput tanggal beroperasi 18 Juli-30 Agustus 2021, jumlah pasien dirawat 1.094 sembuh 1.058 dan dipindah ke Wisma Atlet 36 pasien. Sedangkan Rusun Nagrak mulai beroperasi 21 Juni-30 Agustus dengan jumlah pasien dirawat 9.419 dan sembuh 9.419.

Kata Perupadata, menyusul berangsur turunnya beban perawatan Covid-19 khusus­nya di Jakarta, Rusun Nagrak dan Pasar Rumput resmi ditutup sebagai pusat isolasi. Di Rusun Nagrak, semua pasien telah dinyatakan sembuh. Sementara di Pasar Rumput, ada 36 pasien yang dipindahkan ke Wisma Atlet.

“Fasilitas isolasi belum akan dibongkar, kabarnya akan standby jika lonjakan kem­bali terjadi. Semoga tak sampai kejadian,” ujarnya.

Netizen pun senang, Rusun Nagrak dan Pasar Rumput Jakarta ditutup sebagai tempat isolasi terpusat pasien Covid-19. Namun, neti­zen mengingatkan masyarakat jangan sampai lengah dan abai terhadap protokol kesehatan (prokes).

“Alhamdulilah, jangan puas diri apalagi lengah, saling bantu masyarakat dan Pemerintah, insya Allah Covid-19 hilang,” ujar @riancha­niago4148.

Akun @Rizal_Firmansyah juga senang dengan keberhasilan penanganan pasien Covid. Kata dia, penutupan kedua rusun tersebut sebagai tempat isoter adalah buk­ti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan program vaksinasi sebagai keputusan yang tepat.

“Alhamdulillah. Semoga segera tercapai herd immunity,” harap dia. “Tetap jangan lengah dan selalu waspada dan jangan abai prokes,” timpal @guruhoktobeprime. “Jangan abai terhadap prokes, semoga semakin mem­baik kondisi di seluruh negeri,” sambung @akukanyoga.

 

Akun @iyoko berharap, Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, segera menyusul kosong dari pasien Covid-19. Dia juga mewanti-wanti kepada masyarakat untuk terus mematuhi prokes di manapun tempatnya.

“Semoga makin banyak RSDC di kota-kota lain yang di-non-aktifkan karena sudah tidak ada lagi pasien Covid-19. Nakes juga manusia, mereka rindu dengan keluarga,” timpal @Dody_Rusman.

Akun @jhon_teaa mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan taat prokes. Kata dia, kasus Covid di India layak dijadikan pelajaran. Hingga kini, kata dia, di India kasus Covidnya tidak turun-turun. “Malahan naik gara-gara abai prokes,” ujar @jhon_teaa.

Menurut @DJRachbini, sampai Agustus lalu Indonesia adalah episentrum Covid-19 menggantikan India dengan kematian harian tertinggi di dunia. Sekarang sudah turun dan tidak jadi episentrum lagi.

“Jangan sampai kecolongan lagi, gelombang ketiga,” kata dia. “Pemerintah secepatnya menuntaskan vaksin Covid-19 dan tetap ikuti prokes dengan ketat,” ujar @lussy_lucasia.

Akun @simple_mikee mengusulkan, kota-kota yang kasus Covid-nya mulai membaik, tenaga kesehatan (nakes) yang tadinya berjaga di bagian perawatan rumah sakit bisa dilatih menjadi vaksinator. “Indonesia harus diper­cepat vaksinasinya, harus segera 2 juta dosis per hari,” harap dia.

Akun @Evi_Fadliah mendorong vaksinasi door to door semakin ditingkatkan dan dapat berjalan dengan baik, aman dan lancar. Kata dia, vaksinasi door to door selain untuk mengurangi potensi kerumunan, juga cukup efek­tif dan memudahkan masyarakat untuk vaksi­nasi. “Sehingga bisa mengurangi penyebaran Covid-19 di Indonesia,” tandasnya. [TIF]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories