Pamer Prestasi Di Istana Anies Muliakan Jokowi .

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanfaatkan momen puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2021 untuk memamerkan prestasinya membangun Jakarta di hadapan Presiden Jokowi. Namun, Anies menyampaikannya dengan sopan dan tetap memuliakan Jokowi sebagai atasannya di pemerintahan.

Anies merupakan tuan rumah HPN 2021. Namun, acara pembukaan digelar di Istana Negara, Jakarta. Anies duduk di depan, sebaris dengan Jokowi, di kursi paling ujung sebelah kiri. Di sampingnya ada Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S Depari, Ketua Dewan Pers M Nuh. Mereka bertiga kompak mengenakan batik betawi lengan panjang dengan motif ondel-ondel.

Di tengahnya baru Jokowi. Ia didampingi Menkominfo Johnny G Plate dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Ketiganya juga berbatik, tapi dengan warna dan corak berbeda. Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, dan Ketua DPD La Nyalla Mattalitti ikut hadir langsung di Istana Negara.

Anies mendapat giliran pertama menyampaikan sambutan. Kedua tangannya menggenggam sekitar 5 lembar teks pidato. Di beberapa paragraf, tampak ada beberapa catatan tangan di sebelah kiri. 

Di awal sambutan, Anies menyapa Jokowi dan para pejabat yang hadir. Untuk Jokowi, sapaannya bukan sekadar dengan kata hormat, tapi dengan kata satu tingkat di atasnya. 

“Bapak Presiden yang kami muliakan,  Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,” ucapnya. 

Anies lalu menyampaikan pandangan mengenai peran pers dan mengapresiasi kerja-kerja jurnalistik, khususnya di tengah pandemi. “Kami menyampaikan apresiasi, karena kita semua merasakan manfaat dari pemberitaan itu untuk sama-sama memiliki pemahaman tentang pola hidup sehat dan cara kita mencegah penularan melalui kebiasaan 3M,” papar Anies.

Setelah itu, Anies menggunakan momentum ini untuk memamerkan prestasi yang diraih DKI Jakarta. Salah satunya, soal mengatasi kemacetan.

Kepada Presiden dan insan pers, Anies melaporkan, sejak 2020, Jakarta berhasil keluar dari daftar 10 besar kota termacet di dunia. Sebelumnya, ia merinci, di tahun 2017, Jakarta mendapat rangking 4 dalam urusan kemacetan. Rangking itu terus turun drastis ke rangking 31 di tahun 2020.

 

Ketika menyampaikan prestasi itu, suara Anies sedikit bergetar. Meskipun Anies sudah berupaya mencairkan suasana dengan bahasa yang lebih santai dan menambahkan sedikit bumbu joke. 

“Biasanya kita ingin masuk kota 10 terbesar, kalau urusan kemacetan, kita ingin keluar dari 10 besar,” ucap Anies. Dari nada suaranya di balik masker, ia terdengar sambil tertawa kecil. Selesai Anies pidato, hadirin tepuk tangan.

Pihak Istana tak mempermasalahkan sikap Anies menyampaikan prestasinya mengatasi kemacetan di acara HPN. “Itu hak Pak Gubernur dalam menyampaikan prestasi beliau. Tidak ada masalah,” kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Namun, jika publik merespons berbeda, menurutnya, itu adalah dinamika yang tak bisa dikendalikan. “Saya kira siapa pun yang terekspos di sosial media memang pasti akan ada pro dan kontra. Karena sangat dinamis. Banyak kepala dan kepentingan. Tak bisa dikendalikan. Inilah demokrasi,” sambungnya.

Pakar komunikasi politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, prestasi yang disampaikan Anies di hadapan Presiden Jokowi adalah hal wajar. Sebab, menurut Undang-Undang, Anies merupakan wakil Pemerintah Pusat. Yang berarti bawahannya Jokowi. Meskipun di sisi lain, Anies dipilih langsung warga DKI Jakarta.

Menurutnya, penting bagi Anies untuk melaporkan prestasi DKI Jakarta kepada atasannya. Asalkan objektif. Selain agar diketahui publik, juga bisa menjadi contoh bagi provinsi lain.

“Yang penting tidak menghina dan tidak membuat orang tersinggung. Anies tetap memuliakan Jokowi sebagai Presiden kok,” kata Ujang, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]

]]> .
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanfaatkan momen puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2021 untuk memamerkan prestasinya membangun Jakarta di hadapan Presiden Jokowi. Namun, Anies menyampaikannya dengan sopan dan tetap memuliakan Jokowi sebagai atasannya di pemerintahan.

Anies merupakan tuan rumah HPN 2021. Namun, acara pembukaan digelar di Istana Negara, Jakarta. Anies duduk di depan, sebaris dengan Jokowi, di kursi paling ujung sebelah kiri. Di sampingnya ada Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S Depari, Ketua Dewan Pers M Nuh. Mereka bertiga kompak mengenakan batik betawi lengan panjang dengan motif ondel-ondel.

Di tengahnya baru Jokowi. Ia didampingi Menkominfo Johnny G Plate dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Ketiganya juga berbatik, tapi dengan warna dan corak berbeda. Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, dan Ketua DPD La Nyalla Mattalitti ikut hadir langsung di Istana Negara.

Anies mendapat giliran pertama menyampaikan sambutan. Kedua tangannya menggenggam sekitar 5 lembar teks pidato. Di beberapa paragraf, tampak ada beberapa catatan tangan di sebelah kiri. 

Di awal sambutan, Anies menyapa Jokowi dan para pejabat yang hadir. Untuk Jokowi, sapaannya bukan sekadar dengan kata hormat, tapi dengan kata satu tingkat di atasnya. 

“Bapak Presiden yang kami muliakan,  Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati,” ucapnya. 

Anies lalu menyampaikan pandangan mengenai peran pers dan mengapresiasi kerja-kerja jurnalistik, khususnya di tengah pandemi. “Kami menyampaikan apresiasi, karena kita semua merasakan manfaat dari pemberitaan itu untuk sama-sama memiliki pemahaman tentang pola hidup sehat dan cara kita mencegah penularan melalui kebiasaan 3M,” papar Anies.

Setelah itu, Anies menggunakan momentum ini untuk memamerkan prestasi yang diraih DKI Jakarta. Salah satunya, soal mengatasi kemacetan.

Kepada Presiden dan insan pers, Anies melaporkan, sejak 2020, Jakarta berhasil keluar dari daftar 10 besar kota termacet di dunia. Sebelumnya, ia merinci, di tahun 2017, Jakarta mendapat rangking 4 dalam urusan kemacetan. Rangking itu terus turun drastis ke rangking 31 di tahun 2020.

 

Ketika menyampaikan prestasi itu, suara Anies sedikit bergetar. Meskipun Anies sudah berupaya mencairkan suasana dengan bahasa yang lebih santai dan menambahkan sedikit bumbu joke. 

“Biasanya kita ingin masuk kota 10 terbesar, kalau urusan kemacetan, kita ingin keluar dari 10 besar,” ucap Anies. Dari nada suaranya di balik masker, ia terdengar sambil tertawa kecil. Selesai Anies pidato, hadirin tepuk tangan.

Pihak Istana tak mempermasalahkan sikap Anies menyampaikan prestasinya mengatasi kemacetan di acara HPN. “Itu hak Pak Gubernur dalam menyampaikan prestasi beliau. Tidak ada masalah,” kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Namun, jika publik merespons berbeda, menurutnya, itu adalah dinamika yang tak bisa dikendalikan. “Saya kira siapa pun yang terekspos di sosial media memang pasti akan ada pro dan kontra. Karena sangat dinamis. Banyak kepala dan kepentingan. Tak bisa dikendalikan. Inilah demokrasi,” sambungnya.

Pakar komunikasi politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, prestasi yang disampaikan Anies di hadapan Presiden Jokowi adalah hal wajar. Sebab, menurut Undang-Undang, Anies merupakan wakil Pemerintah Pusat. Yang berarti bawahannya Jokowi. Meskipun di sisi lain, Anies dipilih langsung warga DKI Jakarta.

Menurutnya, penting bagi Anies untuk melaporkan prestasi DKI Jakarta kepada atasannya. Asalkan objektif. Selain agar diketahui publik, juga bisa menjadi contoh bagi provinsi lain.

“Yang penting tidak menghina dan tidak membuat orang tersinggung. Anies tetap memuliakan Jokowi sebagai Presiden kok,” kata Ujang, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [SAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories