Paloh Mulai Intens Lakukan Lobi Politik

Surya Paloh memprediksi Pemilu 2024 diikuti sedikitnya 3 pasangan calon. Tokoh yang dikenal sebagai King Maker ini, sekarang sedang melakukan lobi-lobi politik yang intens. Targetnya, mengawinkan pasangan yang bisa mengakhiri polarisasi politik. Perpecahan cebong kadrun, kata Bang Surya, harus diakhiri.

Sejumlah pemimpin redaksi media massa nasional, bertemu Surya Paloh di NasDem Tower, pada Rabu (25/05/2022). Berjam-jam Rakyat Merdeka ada di sana. Suasana di kantor pusat Partai NasDem itu terasa sangat bersahabat dan bikin betah. Bukan saja karena segala fasilitas hebat yang ada di dalamnya, tapi juga obrolan yang penuh pencerahan, disertai bumbu informasi manuver politik yang seru. Beberapa jam sebelumnya, Surya Paloh bertemu dengan Jokowi. Dia tak mau menceritakan apa isi pembicaraan dengan Presiden, tapi memberi clue, keduanya seiring sejalan soal prinsip mengakhiri polarisasi politik.

Sepekan ini, Bang Surya juga melakukan pertemuan dengan beberapa ketua umum partai. Ada yang datang ke kantornya. Ada juga yang ditemui di rumahnya.

Menurutnya, pasangan dalam pilpres 2024, Akan diikuti sedikitnya tiga pasang. Pasangan pertama, dari PDIP. Sebagai partai pemenang pemilu, kemungkinan akan men­gusung calon sendiri. Siapa yang bakal jadi pendamping Puan? Kata Bang Surya: “kelihatannya mereka sedang menggodok.”

Pasangan kedua, diusung oleh koalisi Gerindra. Capresnya adalah Prabowo Subianto. Surya yakin, Prabowo akan maju. “Dia tingkat probabilitasnya dalam survei tinggi, populer,” ujar Bang Surya.

Pasangan ketiga, Ganjar Pranowo. Gubernur Jawa Tengah ini popularitasnya sebagai capres cukup tinggi. “Memang dipertentangkan posisinya di PDIP. Ada yang menginginkan dia dan tidak,” katanya.

Dan kemungkinan pasangan keempat. Anies Baswedan. Gubernur DKI ini, punya potensi untuk dicalonkan. Meskipun Anies tidak punya partai, tapi punya hubungan dekat dengan NasDem. Beberapa kali, Bang Surya bertemu dengan Anies Baswedan.

Di kantornya, Bang Surya sempat memperlihatkan satu foto yang menarik. Anies Baswedan di panggung. Berdiri, membacakan deklarasi. Sementara di belakangnya berjajar, se­jumlah tokoh. Ada Surya Paloh, Syafii Ma’arif, Khofifah Indar Parawansa, Siswono Yudhohusodo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan lain-lain. Jejak historis ini rupanya tersimpan rapi di kantor pusat Partai NasDem. Bersama ratusan foto lainnya yang dipamerkan di ruang galeri.

 

Kembali ke pasangan capres-cawapres di 2024. “Jadi ada probability. Tiga atau empat pasangan, tapi sedikitnya tiga pasangan,” papar Bang Surya.

Menurutnya, pemilu nanti ha­rus lebih baik. Belajar dari pilpres sebelumnya. Ada kesedihan yang mendalam akibat pembelahan ce­bong kampret. NasDem pun kena efeknya. Sampai-sampai pernah dicap sebagai partai penista agama. Dan, dampaknya sung­guh berat. “NasDem di daerah kelahiran saya, di Aceh, suaranya langsung habis. Jatuh,” katanya.

Tetapi, apakah gara-gara ini, spirit kita memperjuangkan pru­ralisme harus mundur? Bang Surya bilang, semangat tidak boleh padam. Pemilu lalu adalah pelajaran yang pahit. Makanya, 2024 adalah saatnya bergandengan tangan, mendendangkan semangat ke-Indonesiaan. “Ekses pemilu bolehlah ada, tapi harus terkontrol agar tidak menghancurkan bangsa ini,” katanya.

Bagaimana caranya mengakh­iri polarisasi cebong kampret atau kadrun? Siapa tokoh yang akan diusung untuk mengakhiri cebong-kampret? Pertanyaan ini dijawab panjang lebar oleh Bang Surya.

Hari-hari ini, masyarakat risau dengan politik identitas. Politik aliran. Kita lelah bertempur dengan ego sektoral, etnis dan kesukuan. Ada juga kesombongan intelek­tual. Banyak yang bergelar tinggi tapi sekedar asesoris. Banyak rumah ibadah dibangun tapi seolah tak berjiwa. Tak ada soul-nya.

Dalam pemilu nanti, Bang Surya ingin menghindari potensi konflik sekecil apapun. Agar Indonesia bisa menjaga stabilitas nasional dan mampu melakukan akselerasi pembangunan. Jangan lagi set-back. “Bersyukur. Sekarang ada kekurangan, tapi Indonesia masih bisa tumbuh ekonominya,” kata Bang Surya.

Soal tokoh potensial capres-cawapres. Kata Bang Surya, saat ini, kita harus bisa menghargai semua potensi anak bangsa yang punya kapasitas. Dia tak mau menyebut nama. Yang jelas, katanya, semua pihak baiknya mengedepankan positive thinking untuk siapa­pun calon yang punya keinginan mendarmabaktikan diri bagi ke­pentingan bangsa. “Abang upayakan, semua bersatu. Musyawarah mufakat,” tuturnya.

 

Dia mengingatkan, polarisasi akan tetap terjadi, jika dua kelompok yang bersebrangan, tidak dijadikan satu. “Eksesnya akan ada terus. Sementara sistem demokrasi itu menghendaki pemerintahan yang kuat, solid. Agar bisa melaksanakan pembangunan jangka panjang,” ujarnya.

Dia bilang tidak etis jika menyebut nama calon saat ini. Bahkan, NasDem pun belum mem­buat keputusan. “Kita sedang pikir dulu baik-baik. Pertanyaan soal nama ini penting, tapi sebe­lum memutuskan pilihan, saya ingin NasDem nanti memilih bukan dengan prinsip the best among the worst, tapi memilih yang terbaik, dari yang baik-baik,” papar Bang Surya.

Yang jelas, pasangan yang diusung partainya nanti adalah kandidat yang bisa mempersatukan. Yang membawa politik kebhinekaan. “Politik aliran dan pikiran yang membelah persatuan bangsa, jangan diberi tempat,” katanya.

Memang tidak gampang me­nyatukan yang beragam itu dalam satu pemahaman. “Tapi, masa sih tidak bisa dipersatukan?” tanyanya.

NasDem mengharapkan, pasangan si A dengan si B, bersatu oleh spirit kebhinekaan. “Menyatukan itu, tidak bisa prinsipnya kamu di sana, aku di sini. Harus duduk bersama. Dan kita yang harus memberikan tempatnya. Saya tidak mengambil posisi you are there, I am here. Kita mau konsensus. Sebagai penghargaan pada nilai kemaje­mukan. Ini adalah prinsip idealistik NasDem,” kata Bang Surya.

Apakah NasDem menyiapkan calon dari internal partai? Bang Surya mengatakan, partainya tahu diri. Butuh proses pembe­lajaran untuk sampai ke tahapan itu. Kalau mau jadi partai hebat dan kuat, learning process-nya harus sampai matang beneran, bukan dikarbit.

“Kalau sekedar memajukan nama, ya bisa saja. Apalagi ketua umum NasDem kan tidak terlalu bodoh dibanding yang lain, tapi dia tahu diri. Dari sisi kematan­gan, maupun profesionalisme,” kata Bang Surya. Dalam proses pembelajaran, seorang calon pe­mimpin akan mendapatkan jam terbang, asam garam, suka duka sampai kemampuan economic survival.

Paloh juga merasa mendapat­kan kebebasan memilih dan menilai calon, saat partainya tidak memajukan nama dari internal. “Pasti beda isi omongan dan subyektifitas saya, kalau NasDem punya calon dari dalam,” katanya.

Rabu malam, selepas bertemu pimpinan media massa, Bang Surya semeja dengan Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung di acara HUT Pak JK ke-80 di Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Komposisi ini sempat dicandai oleh Rosiana Silalahi, host acara malam itu. “Pak JK duduknya dengan Pak SP, ngeri. Ini pilpres, makcomblangnya,” katanya. Nah, siapa duet yang akan dikawinkan itu? Kita tunggu saja ya. [Ratna Susilowati]

]]> Surya Paloh memprediksi Pemilu 2024 diikuti sedikitnya 3 pasangan calon. Tokoh yang dikenal sebagai King Maker ini, sekarang sedang melakukan lobi-lobi politik yang intens. Targetnya, mengawinkan pasangan yang bisa mengakhiri polarisasi politik. Perpecahan cebong kadrun, kata Bang Surya, harus diakhiri.

Sejumlah pemimpin redaksi media massa nasional, bertemu Surya Paloh di NasDem Tower, pada Rabu (25/05/2022). Berjam-jam Rakyat Merdeka ada di sana. Suasana di kantor pusat Partai NasDem itu terasa sangat bersahabat dan bikin betah. Bukan saja karena segala fasilitas hebat yang ada di dalamnya, tapi juga obrolan yang penuh pencerahan, disertai bumbu informasi manuver politik yang seru. Beberapa jam sebelumnya, Surya Paloh bertemu dengan Jokowi. Dia tak mau menceritakan apa isi pembicaraan dengan Presiden, tapi memberi clue, keduanya seiring sejalan soal prinsip mengakhiri polarisasi politik.

Sepekan ini, Bang Surya juga melakukan pertemuan dengan beberapa ketua umum partai. Ada yang datang ke kantornya. Ada juga yang ditemui di rumahnya.

Menurutnya, pasangan dalam pilpres 2024, Akan diikuti sedikitnya tiga pasang. Pasangan pertama, dari PDIP. Sebagai partai pemenang pemilu, kemungkinan akan men­gusung calon sendiri. Siapa yang bakal jadi pendamping Puan? Kata Bang Surya: “kelihatannya mereka sedang menggodok.”

Pasangan kedua, diusung oleh koalisi Gerindra. Capresnya adalah Prabowo Subianto. Surya yakin, Prabowo akan maju. “Dia tingkat probabilitasnya dalam survei tinggi, populer,” ujar Bang Surya.

Pasangan ketiga, Ganjar Pranowo. Gubernur Jawa Tengah ini popularitasnya sebagai capres cukup tinggi. “Memang dipertentangkan posisinya di PDIP. Ada yang menginginkan dia dan tidak,” katanya.

Dan kemungkinan pasangan keempat. Anies Baswedan. Gubernur DKI ini, punya potensi untuk dicalonkan. Meskipun Anies tidak punya partai, tapi punya hubungan dekat dengan NasDem. Beberapa kali, Bang Surya bertemu dengan Anies Baswedan.

Di kantornya, Bang Surya sempat memperlihatkan satu foto yang menarik. Anies Baswedan di panggung. Berdiri, membacakan deklarasi. Sementara di belakangnya berjajar, se­jumlah tokoh. Ada Surya Paloh, Syafii Ma’arif, Khofifah Indar Parawansa, Siswono Yudhohusodo, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan lain-lain. Jejak historis ini rupanya tersimpan rapi di kantor pusat Partai NasDem. Bersama ratusan foto lainnya yang dipamerkan di ruang galeri.

 

Kembali ke pasangan capres-cawapres di 2024. “Jadi ada probability. Tiga atau empat pasangan, tapi sedikitnya tiga pasangan,” papar Bang Surya.

Menurutnya, pemilu nanti ha­rus lebih baik. Belajar dari pilpres sebelumnya. Ada kesedihan yang mendalam akibat pembelahan ce­bong kampret. NasDem pun kena efeknya. Sampai-sampai pernah dicap sebagai partai penista agama. Dan, dampaknya sung­guh berat. “NasDem di daerah kelahiran saya, di Aceh, suaranya langsung habis. Jatuh,” katanya.

Tetapi, apakah gara-gara ini, spirit kita memperjuangkan pru­ralisme harus mundur? Bang Surya bilang, semangat tidak boleh padam. Pemilu lalu adalah pelajaran yang pahit. Makanya, 2024 adalah saatnya bergandengan tangan, mendendangkan semangat ke-Indonesiaan. “Ekses pemilu bolehlah ada, tapi harus terkontrol agar tidak menghancurkan bangsa ini,” katanya.

Bagaimana caranya mengakh­iri polarisasi cebong kampret atau kadrun? Siapa tokoh yang akan diusung untuk mengakhiri cebong-kampret? Pertanyaan ini dijawab panjang lebar oleh Bang Surya.

Hari-hari ini, masyarakat risau dengan politik identitas. Politik aliran. Kita lelah bertempur dengan ego sektoral, etnis dan kesukuan. Ada juga kesombongan intelek­tual. Banyak yang bergelar tinggi tapi sekedar asesoris. Banyak rumah ibadah dibangun tapi seolah tak berjiwa. Tak ada soul-nya.

Dalam pemilu nanti, Bang Surya ingin menghindari potensi konflik sekecil apapun. Agar Indonesia bisa menjaga stabilitas nasional dan mampu melakukan akselerasi pembangunan. Jangan lagi set-back. “Bersyukur. Sekarang ada kekurangan, tapi Indonesia masih bisa tumbuh ekonominya,” kata Bang Surya.

Soal tokoh potensial capres-cawapres. Kata Bang Surya, saat ini, kita harus bisa menghargai semua potensi anak bangsa yang punya kapasitas. Dia tak mau menyebut nama. Yang jelas, katanya, semua pihak baiknya mengedepankan positive thinking untuk siapa­pun calon yang punya keinginan mendarmabaktikan diri bagi ke­pentingan bangsa. “Abang upayakan, semua bersatu. Musyawarah mufakat,” tuturnya.

 

Dia mengingatkan, polarisasi akan tetap terjadi, jika dua kelompok yang bersebrangan, tidak dijadikan satu. “Eksesnya akan ada terus. Sementara sistem demokrasi itu menghendaki pemerintahan yang kuat, solid. Agar bisa melaksanakan pembangunan jangka panjang,” ujarnya.

Dia bilang tidak etis jika menyebut nama calon saat ini. Bahkan, NasDem pun belum mem­buat keputusan. “Kita sedang pikir dulu baik-baik. Pertanyaan soal nama ini penting, tapi sebe­lum memutuskan pilihan, saya ingin NasDem nanti memilih bukan dengan prinsip the best among the worst, tapi memilih yang terbaik, dari yang baik-baik,” papar Bang Surya.

Yang jelas, pasangan yang diusung partainya nanti adalah kandidat yang bisa mempersatukan. Yang membawa politik kebhinekaan. “Politik aliran dan pikiran yang membelah persatuan bangsa, jangan diberi tempat,” katanya.

Memang tidak gampang me­nyatukan yang beragam itu dalam satu pemahaman. “Tapi, masa sih tidak bisa dipersatukan?” tanyanya.

NasDem mengharapkan, pasangan si A dengan si B, bersatu oleh spirit kebhinekaan. “Menyatukan itu, tidak bisa prinsipnya kamu di sana, aku di sini. Harus duduk bersama. Dan kita yang harus memberikan tempatnya. Saya tidak mengambil posisi you are there, I am here. Kita mau konsensus. Sebagai penghargaan pada nilai kemaje­mukan. Ini adalah prinsip idealistik NasDem,” kata Bang Surya.

Apakah NasDem menyiapkan calon dari internal partai? Bang Surya mengatakan, partainya tahu diri. Butuh proses pembe­lajaran untuk sampai ke tahapan itu. Kalau mau jadi partai hebat dan kuat, learning process-nya harus sampai matang beneran, bukan dikarbit.

“Kalau sekedar memajukan nama, ya bisa saja. Apalagi ketua umum NasDem kan tidak terlalu bodoh dibanding yang lain, tapi dia tahu diri. Dari sisi kematan­gan, maupun profesionalisme,” kata Bang Surya. Dalam proses pembelajaran, seorang calon pe­mimpin akan mendapatkan jam terbang, asam garam, suka duka sampai kemampuan economic survival.

Paloh juga merasa mendapat­kan kebebasan memilih dan menilai calon, saat partainya tidak memajukan nama dari internal. “Pasti beda isi omongan dan subyektifitas saya, kalau NasDem punya calon dari dalam,” katanya.

Rabu malam, selepas bertemu pimpinan media massa, Bang Surya semeja dengan Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung di acara HUT Pak JK ke-80 di Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Komposisi ini sempat dicandai oleh Rosiana Silalahi, host acara malam itu. “Pak JK duduknya dengan Pak SP, ngeri. Ini pilpres, makcomblangnya,” katanya. Nah, siapa duet yang akan dikawinkan itu? Kita tunggu saja ya. [Ratna Susilowati]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories