Pakar: Merger Salah Satu Pilihan Perusahaan Farmasi Hadapi Tantangan Kesehatan

Pandemi Covid-19 menyadarkan semua pihak bahwa ketersediaan obat, termasuk yang berbasis bioteknologi sangat penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Strategi merger menjadi salah satu pilihan perusahaan farmasi dunia untuk menghadapi tantangan kesehatan

Hal tersebut disampaikan pakar farmasi Dr Raymond Tjandrawinata dalam buku terbarunya yang berjudul “Strategi Merger dan Akuisisi, Pada Perusahaan Farmasi Besar Dunia Bidang Farmasi dan Biolteknologi” seperti dikutip, Rabu (5/10).

Raymond mengatakan, pentingnya ketersediaan produk farmasi baik pada saat terjadi pandemi maupun tidak, rupanya mendorong perusahaan-perusahaan farmasi kelas dunia untuk menyikapinya dengan manajemen modern. Perusahaan farmasi dan bioteknologi kelas dunia, melakukan praktik merger dan akuisisi yang diprediksi semakin mencuat terutama pada saat pasca pandemi Сovid-19.

Raymond menceritakan pengalaman saat bekerja pada salah satu perusahaan farmasi terkemuka, SmithKline Beecham Pharmaceuticals (SB) di South San Francisco, CA. Pada tahun 1998-2000, SB mempersiapkan diri untuk bergabung (merge) dengan perusahaan dunia lainnya, Glaxo Welcome (GW), hingga akhirnya bergabung menjadi GlaxoSmithKline (GSK) dengan valuasi gabungan saat itu sebesar 180 juta dolar AS. 

“Hasil dari penggabungan itu tentunya sudah termasuk dalam literatur klasik manajemen strategis perusahaan,” ujarnya

Menurut dia, industri farmasi menyadari dampak dan perubahan besar: tekanan penetapan harga dan langkah ke arah pencegahan, diagnosis, dan pengobatan. Perubahan-perubahan ini mengubah tatanan yang sudah ada, dan membuka pintu bagi persaingan baru terutama pascapandemi Сovid-19.

“Ini memaksa perusahaan untuk memikirkan kembali di mana mereka bermain dan dengan siapa mereka bermain, membutuhkan penekanan yang semakin besar pada kolaborasi dan kemitraan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, ada tiga ‘bidang bermain’ baru yang muncul sebagai respons terhadap gelombang kesehatan pasca Covid-19: teknologi farmasi, genetika, dan imunoterapi. 

Semakin banyak perusahaan farmasi dan alat kesehatan bermitra dan berintegrasi dengan bisnis teknologi dalam upaya untuk mengatasi penyakit diabetes yang besar dan meningkat. Sebagai contohnya adalah Sanofi dan Verily, unit sains hayati dari induk Google Alphabet, mengumumkan pada September 2016 bahwa mereka akan menginvestasikan sekitar 500 juta dolar AS dalam usaha patungan untuk menggabungkan perangkat, perangkat lunak, dan obat-obatan.

Namun, kata dia, bila melihat aktivitas investasi Google Alphabet, jelaslah bahwa perawatan merupakan bagian utama dari kesepakatan dan ini. Sejak tahun 2020, raksasa teknologi dan dana ventura afiliasinya telah melakukan 25 deals terkait kesehatan yang secara kolektif bernilai lebih dari 1,6 miliar dolar AS.

Aksi korporasi terkait kesehatan di mana perusahaan dan afiliasi berpartisipasi berjumlah lebih dari 100 dalam dua tahun terakhir. Hingga saat ini, Alpha afiliasinya telah terlibat dalam 76 deals untuk perusahaan kesehatan dan bioteknologi, dengan besaran secara kolektif bernilai lebih dari 4 miliar dolar AS.

Beberapa perusaaan portofolionya telah melakukan penilaian benilai miliaran dolar, termasuk platform skrining kanker Grail, perusahaan penyunting gen Editas, serta penyedia perawatan primer One Medical.

Banyak contoh meger dan akusisi dari korporasi farmasi internasional yang disajikan dalam buku ini, sehingga dapat menjadi rujukan ketika hedak menentukan format yang tepat saat hendak melakukan akusisi dan merger.

]]> Pandemi Covid-19 menyadarkan semua pihak bahwa ketersediaan obat, termasuk yang berbasis bioteknologi sangat penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Strategi merger menjadi salah satu pilihan perusahaan farmasi dunia untuk menghadapi tantangan kesehatan

Hal tersebut disampaikan pakar farmasi Dr Raymond Tjandrawinata dalam buku terbarunya yang berjudul “Strategi Merger dan Akuisisi, Pada Perusahaan Farmasi Besar Dunia Bidang Farmasi dan Biolteknologi” seperti dikutip, Rabu (5/10).

Raymond mengatakan, pentingnya ketersediaan produk farmasi baik pada saat terjadi pandemi maupun tidak, rupanya mendorong perusahaan-perusahaan farmasi kelas dunia untuk menyikapinya dengan manajemen modern. Perusahaan farmasi dan bioteknologi kelas dunia, melakukan praktik merger dan akuisisi yang diprediksi semakin mencuat terutama pada saat pasca pandemi Сovid-19.

Raymond menceritakan pengalaman saat bekerja pada salah satu perusahaan farmasi terkemuka, SmithKline Beecham Pharmaceuticals (SB) di South San Francisco, CA. Pada tahun 1998-2000, SB mempersiapkan diri untuk bergabung (merge) dengan perusahaan dunia lainnya, Glaxo Welcome (GW), hingga akhirnya bergabung menjadi GlaxoSmithKline (GSK) dengan valuasi gabungan saat itu sebesar 180 juta dolar AS. 

“Hasil dari penggabungan itu tentunya sudah termasuk dalam literatur klasik manajemen strategis perusahaan,” ujarnya

Menurut dia, industri farmasi menyadari dampak dan perubahan besar: tekanan penetapan harga dan langkah ke arah pencegahan, diagnosis, dan pengobatan. Perubahan-perubahan ini mengubah tatanan yang sudah ada, dan membuka pintu bagi persaingan baru terutama pascapandemi Сovid-19.

“Ini memaksa perusahaan untuk memikirkan kembali di mana mereka bermain dan dengan siapa mereka bermain, membutuhkan penekanan yang semakin besar pada kolaborasi dan kemitraan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, ada tiga ‘bidang bermain’ baru yang muncul sebagai respons terhadap gelombang kesehatan pasca Covid-19: teknologi farmasi, genetika, dan imunoterapi. 

Semakin banyak perusahaan farmasi dan alat kesehatan bermitra dan berintegrasi dengan bisnis teknologi dalam upaya untuk mengatasi penyakit diabetes yang besar dan meningkat. Sebagai contohnya adalah Sanofi dan Verily, unit sains hayati dari induk Google Alphabet, mengumumkan pada September 2016 bahwa mereka akan menginvestasikan sekitar 500 juta dolar AS dalam usaha patungan untuk menggabungkan perangkat, perangkat lunak, dan obat-obatan.

Namun, kata dia, bila melihat aktivitas investasi Google Alphabet, jelaslah bahwa perawatan merupakan bagian utama dari kesepakatan dan ini. Sejak tahun 2020, raksasa teknologi dan dana ventura afiliasinya telah melakukan 25 deals terkait kesehatan yang secara kolektif bernilai lebih dari 1,6 miliar dolar AS.

Aksi korporasi terkait kesehatan di mana perusahaan dan afiliasi berpartisipasi berjumlah lebih dari 100 dalam dua tahun terakhir. Hingga saat ini, Alpha afiliasinya telah terlibat dalam 76 deals untuk perusahaan kesehatan dan bioteknologi, dengan besaran secara kolektif bernilai lebih dari 4 miliar dolar AS.

Beberapa perusaaan portofolionya telah melakukan penilaian benilai miliaran dolar, termasuk platform skrining kanker Grail, perusahaan penyunting gen Editas, serta penyedia perawatan primer One Medical.

Banyak contoh meger dan akusisi dari korporasi farmasi internasional yang disajikan dalam buku ini, sehingga dapat menjadi rujukan ketika hedak menentukan format yang tepat saat hendak melakukan akusisi dan merger.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories