Pakar Bioteknologi, Prof. Bimo Ario Tejo, PhD Tahan Mudik, Jaga Prokes, Triple Mutasi India Jangan Dikasih Kendor

Kedatangan 129 warga India yang diangkut pesawat carter AirAsia pada Rabu (21/4), disorot masyarakat luas. Apalagi, 12 di antaranya positif Covid.

Saat ini, India menjadi episentrum kedua Covid dunia, setelah Amerika Serikat. Data Johns Hopkins University AS menyebut, saat ini India mencatat 16.610.841 kasus positif, dengan 189.544 angka kematian. Dengan jumlah kasus harian melampaui angka 300 ribu.

Belum lagi, muncul triple mutasi B.1.618 yang dikenal dengan varian Covid Benggala.

Varian yang dituding menjadi biang kerok gelombang 2 Covid di India ini, ditengarai lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya, B.1.617.

Deretan fakta tersebut cukup membikin bangsa ini ngeri-ngeri sedap. Kekhawatiran bernasib sama seperti India, jelas menghantui. Apalagi, kalau kehadiran triple mutasi itu tak bisa terdeteksi swab test PCR.

Apa yang harus kita lakukan di tengah situasi ini, agar nasib buruk gelombang kedua tak menghampiri Indonesia, dan layanan kesehatan tidak kolaps? Berikut penjelasan Pakar Bioteknologi dan Kimia Farmasi, Associate Professor Universiti Putra Malaysia, Bimo Ario Tejo, PhD kepada wartawan Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini.

Bagaimana Anda memandang kasus kedatangan 129 WNA India ke Tanah Air. Adakah ini menjadi ancaman bagi lonjakan kasus Covid di Indonesia? Terutama bila dikaitkan dengan situasi di Indonesia saat ini, menjelang momen Lebaran?

Tentu menjadi ancaman, sehingga pemerintah langsung menghentikan pemberian visa bagi WN India.

Saya menyayangkan keterlambatan kita dalam bertindak. Padahal, negara-negara lain sudah lebih dulu membatasi kedatangan penumpang dari India, begitu terjadi ledakan gelombang kedua di negara tersebut.

Sementara kita, masih sangat terbuka. Setelah heboh di media massa, pemerintah baru bertindak. Ini sangat disayangkan.

Apalagi, pemerintah juga sudah menerapkan aturan larangan mudik Lebaran, untuk pelaku perjalanan dalam negeri. Mestinya, hal yang sama juga diterapkan untuk akses luar negeri.

Bukan nggak mungkin, varian India sudah masuk duluan, sebelum pemerintah membatasi kedatangan pengunjung dari India.

Kalau mobilitas masyarakat masih tinggi, terutama menjelang Lebaran, penyebarannya tentu bisa lebih luas.

Seberapa bahaya, varian India dibanding varian lain, seperti varian Inggris atau Brazil? 

Potensi bahayanya belum diketahui secara pasti, karena varian ini terisolasi di India.

Sampai saat ini, belum banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan India.

Kemungkinan lebih cepat menular, bisa saja ada. Karena itu, kita tetap harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Ledakan gelombang kedua di India, kabarnya dipicu oleh kemunculan varian triple mutasi. Sebelumnya, juga ada mutasi ganda. Apa hal yang ditakutkan terkait kemunculan jenis varian ini?

Varian mutasi ganda (B1.617) di India terdeteksi dengan dua mutasi, yaitu E484Q dan L452R.

Mutasi L452R berpotensi mengurangi efektivitas antibodi, seperti yang dijumpai pada varian B.1.429 (California) yang juga memiliki mutasi L452R.

Namun, belum bisa dipastikan, apakah varian mutasi ganda ini bertanggung jawab atas tsunami Covid-19 di India saat ini.

 

Sejauh ini, mutasi ganda telah ditemukan di beberapa negara seperti Jerman, Belgia, Inggris, Switzerland, Amerika Serikat, Australia dan Singapura.

Sedangkan varian triple mutasi (B1.618), berbeda dengan varian mutasi ganda atau double mutation (B1.617).

Varian dengan 3 mutasi yang terdeteksi di negara bagian Benggala Barat, memiliki potensi bahaya. Karena salah satu mutasinya adalah E484K, yang terindikasi dapat mengurangi efektivitas antibodi.

Bagaimana pengaruh varian ganda dan triple mutasi terhadap efikasi vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia, seperti Sinovac dan AstraZeneca?

Belum diketahui, karena varian ini baru ditemukan. Tapi apa pun itu, disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah yang terbaik. Karena vaksinasi juga tak membuat kita serta-merta kebal.

Vaksinasi hanya bisa meringankan gejala atau derajat keparahan bila terinfeksi, tapi tidak menutup kemungkinan keterpaparan.

Bagaimana dengan tes PCR? Apakah masih bisa mendeteksi varian India?

Varian-varian itu masih bisa dideteksi dengan PCR. Karena di Indonesia, tes PCR tidak memakai gen S yang merupakan lokasi mutasi-mutasi tersebut.

Kalau untuk pengobatannya, bagaimana? Apakah ada obat khusus dibanding pengobatan Covid sebelumnya?

Tidak ada perbedaan jenis obat yang diberikan untuk pasien Covid yang terinfeksi varian yang berbeda-beda. Tetap mengikuti protokol pengobatan yang ada.

Sebenarnya, apa sih yang membuat virus cepat bermutasi?

Mutasi terjadi karena penularan yang meluas. Setiap kali virus menular dari orang yang satu ke orang yang lain, mutasi akan terjadi.

Sehingga, satu-satunya jalan untuk menghambat mutasi virus adalah dengan menekan laju penularan. Dengan penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tak perlu.

Mengenai potensi ledakan kasus Covid, apakah mungkin Indonesia bisa seperti India?

Mungkin saja, jika mobilitas menjelang Lebaran tidak dikendalikan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah, agar hal itu tidak terjadi?

Yang jelas, pemerintah harus konsisten menerapkan aturan pembatasan mudik Lebaran. Aturan yang ada sudah cukup bagus, hanya saja konsistensi pelaksanaannya yang masih sangat kurang. [HES]

]]> Kedatangan 129 warga India yang diangkut pesawat carter AirAsia pada Rabu (21/4), disorot masyarakat luas. Apalagi, 12 di antaranya positif Covid.

Saat ini, India menjadi episentrum kedua Covid dunia, setelah Amerika Serikat. Data Johns Hopkins University AS menyebut, saat ini India mencatat 16.610.841 kasus positif, dengan 189.544 angka kematian. Dengan jumlah kasus harian melampaui angka 300 ribu.

Belum lagi, muncul triple mutasi B.1.618 yang dikenal dengan varian Covid Benggala.

Varian yang dituding menjadi biang kerok gelombang 2 Covid di India ini, ditengarai lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya, B.1.617.

Deretan fakta tersebut cukup membikin bangsa ini ngeri-ngeri sedap. Kekhawatiran bernasib sama seperti India, jelas menghantui. Apalagi, kalau kehadiran triple mutasi itu tak bisa terdeteksi swab test PCR.

Apa yang harus kita lakukan di tengah situasi ini, agar nasib buruk gelombang kedua tak menghampiri Indonesia, dan layanan kesehatan tidak kolaps? Berikut penjelasan Pakar Bioteknologi dan Kimia Farmasi, Associate Professor Universiti Putra Malaysia, Bimo Ario Tejo, PhD kepada wartawan Rakyat Merdeka/RM.id, Firsty Hestyarini.

Bagaimana Anda memandang kasus kedatangan 129 WNA India ke Tanah Air. Adakah ini menjadi ancaman bagi lonjakan kasus Covid di Indonesia? Terutama bila dikaitkan dengan situasi di Indonesia saat ini, menjelang momen Lebaran?

Tentu menjadi ancaman, sehingga pemerintah langsung menghentikan pemberian visa bagi WN India.

Saya menyayangkan keterlambatan kita dalam bertindak. Padahal, negara-negara lain sudah lebih dulu membatasi kedatangan penumpang dari India, begitu terjadi ledakan gelombang kedua di negara tersebut.

Sementara kita, masih sangat terbuka. Setelah heboh di media massa, pemerintah baru bertindak. Ini sangat disayangkan.

Apalagi, pemerintah juga sudah menerapkan aturan larangan mudik Lebaran, untuk pelaku perjalanan dalam negeri. Mestinya, hal yang sama juga diterapkan untuk akses luar negeri.

Bukan nggak mungkin, varian India sudah masuk duluan, sebelum pemerintah membatasi kedatangan pengunjung dari India.

Kalau mobilitas masyarakat masih tinggi, terutama menjelang Lebaran, penyebarannya tentu bisa lebih luas.

Seberapa bahaya, varian India dibanding varian lain, seperti varian Inggris atau Brazil? 

Potensi bahayanya belum diketahui secara pasti, karena varian ini terisolasi di India.

Sampai saat ini, belum banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan India.

Kemungkinan lebih cepat menular, bisa saja ada. Karena itu, kita tetap harus tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Ledakan gelombang kedua di India, kabarnya dipicu oleh kemunculan varian triple mutasi. Sebelumnya, juga ada mutasi ganda. Apa hal yang ditakutkan terkait kemunculan jenis varian ini?

Varian mutasi ganda (B1.617) di India terdeteksi dengan dua mutasi, yaitu E484Q dan L452R.

Mutasi L452R berpotensi mengurangi efektivitas antibodi, seperti yang dijumpai pada varian B.1.429 (California) yang juga memiliki mutasi L452R.

Namun, belum bisa dipastikan, apakah varian mutasi ganda ini bertanggung jawab atas tsunami Covid-19 di India saat ini.

 

Sejauh ini, mutasi ganda telah ditemukan di beberapa negara seperti Jerman, Belgia, Inggris, Switzerland, Amerika Serikat, Australia dan Singapura.

Sedangkan varian triple mutasi (B1.618), berbeda dengan varian mutasi ganda atau double mutation (B1.617).

Varian dengan 3 mutasi yang terdeteksi di negara bagian Benggala Barat, memiliki potensi bahaya. Karena salah satu mutasinya adalah E484K, yang terindikasi dapat mengurangi efektivitas antibodi.

Bagaimana pengaruh varian ganda dan triple mutasi terhadap efikasi vaksin yang saat ini digunakan di Indonesia, seperti Sinovac dan AstraZeneca?

Belum diketahui, karena varian ini baru ditemukan. Tapi apa pun itu, disiplin menjalankan protokol kesehatan adalah yang terbaik. Karena vaksinasi juga tak membuat kita serta-merta kebal.

Vaksinasi hanya bisa meringankan gejala atau derajat keparahan bila terinfeksi, tapi tidak menutup kemungkinan keterpaparan.

Bagaimana dengan tes PCR? Apakah masih bisa mendeteksi varian India?

Varian-varian itu masih bisa dideteksi dengan PCR. Karena di Indonesia, tes PCR tidak memakai gen S yang merupakan lokasi mutasi-mutasi tersebut.

Kalau untuk pengobatannya, bagaimana? Apakah ada obat khusus dibanding pengobatan Covid sebelumnya?

Tidak ada perbedaan jenis obat yang diberikan untuk pasien Covid yang terinfeksi varian yang berbeda-beda. Tetap mengikuti protokol pengobatan yang ada.

Sebenarnya, apa sih yang membuat virus cepat bermutasi?

Mutasi terjadi karena penularan yang meluas. Setiap kali virus menular dari orang yang satu ke orang yang lain, mutasi akan terjadi.

Sehingga, satu-satunya jalan untuk menghambat mutasi virus adalah dengan menekan laju penularan. Dengan penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tak perlu.

Mengenai potensi ledakan kasus Covid, apakah mungkin Indonesia bisa seperti India?

Mungkin saja, jika mobilitas menjelang Lebaran tidak dikendalikan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah, agar hal itu tidak terjadi?

Yang jelas, pemerintah harus konsisten menerapkan aturan pembatasan mudik Lebaran. Aturan yang ada sudah cukup bagus, hanya saja konsistensi pelaksanaannya yang masih sangat kurang. [HES]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories