Orang Dengan Komorbid Aman Divaksin Covid-19 .

Orang dengan komorbid alias penyakit penyerta dan penyakit kronis, bisa menerima vaksinasi Covid-19. Tapi ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan sebelum menjalaninya.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, di tahap awal vaksinasi, pemerintah masih berhati-hati. Pasien dengan komorbid, penyakit kronik serta penyintas Covid-19 tidak diperbolehkan menjalani vaksinasi.

“Orang dengan tekanan darah di atas 140, yang punya gula darah, kita lakukan penundaan. Kemudian penyakit kronis seperti kelainan darah, gangguan kekebalan seperti lupus, itu juga tidak boleh diberikan,” ujar Nadia dalam Talk Show yang diselenggarakan RM.id bertema “Vaksin Covid-19 dan Komorbid” secara virtual, kemarin.

Kemudian, aturan itu di-review kembali setelah 1,5 juta orang di tahap awal mendapatkan vaksinasi. Di tahap kedua vaksinasi yang menyasar pelayan publik dan orang berusia di atas 60 tahun, kriteria ini diperlonggar.

“Artinya, hampir semua penyakit, baik itu komorbid maupun penyakit kronis tadi, termasuk penyintas kanker, masih memungkinkan mendapatkan vaksinasi,” imbuhnya.

Orang dengan tekanan darah 180, masih bisa mendapatkan vaksin. Begitu juga dengan orang dengan masalah gula darah. Mereka dipermudah mendapatkan vaksinasi dengan tidak perlu membawa hasil hemoglobin A1c (HbA1c). Cukup melakukan pemeriksaan rutin saja dengan hasil gula darah di bawah batas normal.

Sementara, untuk penyakit autoimun seperti lupus, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), vaksinasi bisa diberikan selama dia dalam kondisi remisi.

Artinya, tidak sedang mengalami serangan atau sudah beberapa tahun penyakitnya terkontrol dengan baik dengan jenis obat tertentu.

Tetapi untuk orang dengan autoimun, mereka perlu membawa surat keterangan untuk bisa mendapatkan vaksinasi.

“Jadi untuk penderita autoimun tidak perlu takut jika sudah ada rekomendasi dari dokter untuk mendapatkan vaksin,” beber Nadia.

Bagaimana dengan penderita gagal ginjal kronis? Mereka juga bisa mendapatkan vaksinasi. Bahkan, bagi yang sudah transplantasi ginjal sekali pun. Asalkan, kondisinya stabil dan tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan yang menekan imun.

“Prinsipnya, penyakit ginjal maupun pasien yang dalam transplantasi ginjal tentunya bisa mendapatkan vaksinasi ini,” urai Nadia.

Nadia juga memastikan, tidak ada kendala dalam penggunaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac terhadap mereka yang memiliki komorbid dan penyakit kronik. Asal sudah diizinkan oleh dokter yang merawatnya, vaksinasi akan diberikan.

“Tidak ada efek atau gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang berat atau perlu perawatan. AstraZeneca dan Sinovac sangat aman,” tuturnya.

Nadia juga menjelaskan, yang paling banyak ditemukan saat vaksinasi adalah orang yang memiliki komorbid hipertensi. [JAR]

]]> .
Orang dengan komorbid alias penyakit penyerta dan penyakit kronis, bisa menerima vaksinasi Covid-19. Tapi ada sejumlah hal yang mesti diperhatikan sebelum menjalaninya.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, di tahap awal vaksinasi, pemerintah masih berhati-hati. Pasien dengan komorbid, penyakit kronik serta penyintas Covid-19 tidak diperbolehkan menjalani vaksinasi.

“Orang dengan tekanan darah di atas 140, yang punya gula darah, kita lakukan penundaan. Kemudian penyakit kronis seperti kelainan darah, gangguan kekebalan seperti lupus, itu juga tidak boleh diberikan,” ujar Nadia dalam Talk Show yang diselenggarakan RM.id bertema “Vaksin Covid-19 dan Komorbid” secara virtual, kemarin.

Kemudian, aturan itu di-review kembali setelah 1,5 juta orang di tahap awal mendapatkan vaksinasi. Di tahap kedua vaksinasi yang menyasar pelayan publik dan orang berusia di atas 60 tahun, kriteria ini diperlonggar.

“Artinya, hampir semua penyakit, baik itu komorbid maupun penyakit kronis tadi, termasuk penyintas kanker, masih memungkinkan mendapatkan vaksinasi,” imbuhnya.

Orang dengan tekanan darah 180, masih bisa mendapatkan vaksin. Begitu juga dengan orang dengan masalah gula darah. Mereka dipermudah mendapatkan vaksinasi dengan tidak perlu membawa hasil hemoglobin A1c (HbA1c). Cukup melakukan pemeriksaan rutin saja dengan hasil gula darah di bawah batas normal.

Sementara, untuk penyakit autoimun seperti lupus, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), vaksinasi bisa diberikan selama dia dalam kondisi remisi.

Artinya, tidak sedang mengalami serangan atau sudah beberapa tahun penyakitnya terkontrol dengan baik dengan jenis obat tertentu.

Tetapi untuk orang dengan autoimun, mereka perlu membawa surat keterangan untuk bisa mendapatkan vaksinasi.

“Jadi untuk penderita autoimun tidak perlu takut jika sudah ada rekomendasi dari dokter untuk mendapatkan vaksin,” beber Nadia.

Bagaimana dengan penderita gagal ginjal kronis? Mereka juga bisa mendapatkan vaksinasi. Bahkan, bagi yang sudah transplantasi ginjal sekali pun. Asalkan, kondisinya stabil dan tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan yang menekan imun.

“Prinsipnya, penyakit ginjal maupun pasien yang dalam transplantasi ginjal tentunya bisa mendapatkan vaksinasi ini,” urai Nadia.

Nadia juga memastikan, tidak ada kendala dalam penggunaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac terhadap mereka yang memiliki komorbid dan penyakit kronik. Asal sudah diizinkan oleh dokter yang merawatnya, vaksinasi akan diberikan.

“Tidak ada efek atau gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang berat atau perlu perawatan. AstraZeneca dan Sinovac sangat aman,” tuturnya.

Nadia juga menjelaskan, yang paling banyak ditemukan saat vaksinasi adalah orang yang memiliki komorbid hipertensi. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories