Omicron Menggila, Rupiah Makin Loyo

Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,21 persen cukup dalam di level Rp 14.385 per dolar AS dibanding perdagangan Jumat (17/12) di level Rp 14.355 per dolar AS.

Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS tercatat bervariasi. Baht Thailand melemah 0,29 persen, ringgit Malaysia turun 0,2 persen, won Korea Selatan anjlok 0,72 persen, dan yuan China melemah 0,04 persen. Sedangkan peso Filipina menguat 0,06 persen, dolar Singapura naik 0,01 persen, yen Jepang naik 0,04 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Indeks dolar AS yang mengukur terhadap enam mata uang saingannya turun dari 96,938 ke level 96,629. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,30 persen ke level Rp 16.137, terhadap poundsterling Inggris melesat 0,42 persen ke level Rp 18.984, dan terhadap dolar Australia naik 0,39 persen ke level Rp 10.221.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Pasar masih mengantisipasi The Fed mempercepat kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga acuan.

“Sentimen tapering dan kenaikan suku bunga acuan menjadi pendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya,” jelas Ariston, Senin (20/12).

Tak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran pasar terhadap penyebaran varian baru Omicron juga menambah sentimen negatif untuk rupiah. Sebab, Omicron berpotensi membuat proses pemulihan ekonomi dunia melambat.

“Nilai tukar rupiah pun berpotensi melemah terhadap dolar AS dengan berkembangnya kekhawatiran pasar terhadap penyebaran varian Omicron di Indonesia,” ungkapnya.

Ariston memproyeksi mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp 14.330 per dolar AS hingga Rp 14.400 per dolar AS sepanjang hari ini. [DWI]

]]> Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,21 persen cukup dalam di level Rp 14.385 per dolar AS dibanding perdagangan Jumat (17/12) di level Rp 14.355 per dolar AS.

Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS tercatat bervariasi. Baht Thailand melemah 0,29 persen, ringgit Malaysia turun 0,2 persen, won Korea Selatan anjlok 0,72 persen, dan yuan China melemah 0,04 persen. Sedangkan peso Filipina menguat 0,06 persen, dolar Singapura naik 0,01 persen, yen Jepang naik 0,04 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Indeks dolar AS yang mengukur terhadap enam mata uang saingannya turun dari 96,938 ke level 96,629. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,30 persen ke level Rp 16.137, terhadap poundsterling Inggris melesat 0,42 persen ke level Rp 18.984, dan terhadap dolar Australia naik 0,39 persen ke level Rp 10.221.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Pasar masih mengantisipasi The Fed mempercepat kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga acuan.

“Sentimen tapering dan kenaikan suku bunga acuan menjadi pendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya,” jelas Ariston, Senin (20/12).

Tak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari kekhawatiran pasar terhadap penyebaran varian baru Omicron juga menambah sentimen negatif untuk rupiah. Sebab, Omicron berpotensi membuat proses pemulihan ekonomi dunia melambat.

“Nilai tukar rupiah pun berpotensi melemah terhadap dolar AS dengan berkembangnya kekhawatiran pasar terhadap penyebaran varian Omicron di Indonesia,” ungkapnya.

Ariston memproyeksi mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp 14.330 per dolar AS hingga Rp 14.400 per dolar AS sepanjang hari ini. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories