OJK Minta Perusahaan Pembiayaan Asah Kemampuan Hadapi Pandemi

Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk terhadap industri pembiayaan di tahun 2020. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perusahaan pembiayaan bisa meningkatkan kemampuan dalam beradaptasi menghadapi kondisi pandemi.

Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yustianus Dapot menjelaskan, peningkatan kemampuan ini harus dipadukan dengan beragam strategi agar perusahaan bisa bertahan di masa Covid-19.

“Tetap optimis dan meningkatan kemampuan untuk tetap tumbuh positif dengan selalu menjaga kualitas pembiayaan, serta tingkat kesehatan keuangan,” ujar Yustianus dalam sambutannya di acara Iconomics Multifinance Awards 2021, dikutip Jumat (26/3).

Menurutnya ,perusahaan pembiayaan melakukan berbagai macam strategi khusus, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital. Selain diharapkan terjadi efisiensi, hal ini juga bisa membuat peningkatan bisnis di bidang pembiayaan.

“OJK menaruh harapan dan keyakinan yang sangat tinggi terhadap industri pembiayaan untuk terus tumbuh secara sehat, kredibel dan memiliki daya tahan terhadap krisis,” harapnya.

Yustianus memandang, tantangan sungguh berat ketika menghadapi awal pandemi di tahun 2020. Perusahaan pembiayaan sangat berat untuk tumbuh. Kualitas bidang pembiayaan yang bermasalah juga menunjukkan tren kenaikan dengan Non Performing Financing Nett (NPF) nett sebesar 1,4 persen dan NPF gross sebesar 3,87 persen. 

Nah, saat ini, tantangan utama yang dihadapi industri pembiayaan di antaranya adalah turunnya kemampuan membayar debitur yang dapat menyebabkan naiknya rasio NPF perusahaan pembiayaan.

Yustianus menjelaskan, dampak dari pandemi Covid-19 lebih banyak terjadi pada aspek pendanaan. OJK sudah berdiskusi dengan beberapa perusahaan pembiayaan tertentu sebagai sampel.

Dari beberapa diskusi, dia menarik garis merah bahwa sebenarnya perusahaan pembiayaan optimis di tahun 2021.

“Seperti pada pembiayaan otomotif itu diperkirakan sampai akhir tahun akan meningkat dan tidak jauh berbeda pertumbuhan dibanding sebelum terjadinya pandemi,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Founder & CEO Iconomics Bram S. Putro menyampaikan, dalam berbagai data menunjukkan penurunan kinerja multifinance dinyatakan banyak pihak cenderung lebih terkendali terutama berkat kebijakan pemerintah khususnya kebijakan restrukturisasi kredit. “Hasilnya, bisa dilihat rasio NPF dapat ditekan di posisi 4,01 persen di akhir tahun 2020,” tutur Bram.

Dia menyatakan, tahun lalu memang tahun yang berat. Tapi, bukan tanpa prestasi. Sekecil apapun pencapaian, layak untuk diapresiasi. Hal ini demi mendorong pencapaian yang lebih besar pada masa-masa yang akan datang.

“Iconomics memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan multifinance lewat Iconomics Multifinance Awards 2021,” ujarnya.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada perusahaan multifinance terbaik di Indonesia yang mampu menunjukkan ketahanan fundamentalnya dalam menghadapi krisis.

Untuk mengetahui perusahaan pembiayaan/multifinance di Indonesia yang berkinerja baik di tahun 2020, Iconomics melakukan kegiatan riset terhadap 124 multifinance di Indonesia.

Hasil riset tersebut digunakan sebagai dasar pemberian penghargaan Iconomics Multifinance Award 2021. “Tim riset Iconomics melakukan quantitative research dan media monitoring yang dilakukan pada periode Januari-Februari 2021,” beber Bram.

Selain kinerja keuangan, tim peneliti Iconomics juga meneliti aksi korporasi yang dilakukan multifinance selama tahun 2020.

Multifinance dari kategori corporate action memiliki aksi korporasi terbaik dari segi keunggulan pembiayaan, strategi marketing, strategi digitalisasi dan strategi pengembangan kerjasama antarbisnis. Hasilnya, Iconomics memilih 32 perusahaan pembiayaan terbaik. [JAR]

]]> Pandemi Covid-19 memberikan dampak buruk terhadap industri pembiayaan di tahun 2020. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perusahaan pembiayaan bisa meningkatkan kemampuan dalam beradaptasi menghadapi kondisi pandemi.

Direktur Pengawasan Lembaga Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yustianus Dapot menjelaskan, peningkatan kemampuan ini harus dipadukan dengan beragam strategi agar perusahaan bisa bertahan di masa Covid-19.

“Tetap optimis dan meningkatan kemampuan untuk tetap tumbuh positif dengan selalu menjaga kualitas pembiayaan, serta tingkat kesehatan keuangan,” ujar Yustianus dalam sambutannya di acara Iconomics Multifinance Awards 2021, dikutip Jumat (26/3).

Menurutnya ,perusahaan pembiayaan melakukan berbagai macam strategi khusus, terutama dalam memanfaatkan teknologi digital. Selain diharapkan terjadi efisiensi, hal ini juga bisa membuat peningkatan bisnis di bidang pembiayaan.

“OJK menaruh harapan dan keyakinan yang sangat tinggi terhadap industri pembiayaan untuk terus tumbuh secara sehat, kredibel dan memiliki daya tahan terhadap krisis,” harapnya.

Yustianus memandang, tantangan sungguh berat ketika menghadapi awal pandemi di tahun 2020. Perusahaan pembiayaan sangat berat untuk tumbuh. Kualitas bidang pembiayaan yang bermasalah juga menunjukkan tren kenaikan dengan Non Performing Financing Nett (NPF) nett sebesar 1,4 persen dan NPF gross sebesar 3,87 persen. 

Nah, saat ini, tantangan utama yang dihadapi industri pembiayaan di antaranya adalah turunnya kemampuan membayar debitur yang dapat menyebabkan naiknya rasio NPF perusahaan pembiayaan.

Yustianus menjelaskan, dampak dari pandemi Covid-19 lebih banyak terjadi pada aspek pendanaan. OJK sudah berdiskusi dengan beberapa perusahaan pembiayaan tertentu sebagai sampel.

Dari beberapa diskusi, dia menarik garis merah bahwa sebenarnya perusahaan pembiayaan optimis di tahun 2021.

“Seperti pada pembiayaan otomotif itu diperkirakan sampai akhir tahun akan meningkat dan tidak jauh berbeda pertumbuhan dibanding sebelum terjadinya pandemi,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Founder & CEO Iconomics Bram S. Putro menyampaikan, dalam berbagai data menunjukkan penurunan kinerja multifinance dinyatakan banyak pihak cenderung lebih terkendali terutama berkat kebijakan pemerintah khususnya kebijakan restrukturisasi kredit. “Hasilnya, bisa dilihat rasio NPF dapat ditekan di posisi 4,01 persen di akhir tahun 2020,” tutur Bram.

Dia menyatakan, tahun lalu memang tahun yang berat. Tapi, bukan tanpa prestasi. Sekecil apapun pencapaian, layak untuk diapresiasi. Hal ini demi mendorong pencapaian yang lebih besar pada masa-masa yang akan datang.

“Iconomics memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan multifinance lewat Iconomics Multifinance Awards 2021,” ujarnya.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada perusahaan multifinance terbaik di Indonesia yang mampu menunjukkan ketahanan fundamentalnya dalam menghadapi krisis.

Untuk mengetahui perusahaan pembiayaan/multifinance di Indonesia yang berkinerja baik di tahun 2020, Iconomics melakukan kegiatan riset terhadap 124 multifinance di Indonesia.

Hasil riset tersebut digunakan sebagai dasar pemberian penghargaan Iconomics Multifinance Award 2021. “Tim riset Iconomics melakukan quantitative research dan media monitoring yang dilakukan pada periode Januari-Februari 2021,” beber Bram.

Selain kinerja keuangan, tim peneliti Iconomics juga meneliti aksi korporasi yang dilakukan multifinance selama tahun 2020.

Multifinance dari kategori corporate action memiliki aksi korporasi terbaik dari segi keunggulan pembiayaan, strategi marketing, strategi digitalisasi dan strategi pengembangan kerjasama antarbisnis. Hasilnya, Iconomics memilih 32 perusahaan pembiayaan terbaik. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories