Nurdin Abdullah Klaim Uang Yang Disita KPK Adalah Bantuan Masjid .

Gubernur Sulawesi Selatan nonaktif Nurdin Abdullah mengklaim, uang yang miliaran rupiah yang disita penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan bantuan untuk pembangunan masjid.

“Pokoknya itu kan uang masjid ya, bantuan masjid. Itu bantuan masjid, nantilah, kita jelasin nanti,” ujar Nurdin usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Gedung KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (5/3).

Nurdin membantah semua tuduhan KPK terhadap dirinya. Meski demikian, politikus PDIP itu menyatakan tetap menghargai proses hukum yang tengah dilakukan komisi antirasuah tersebut.

“Nggak, nggak, nggak ada yang benar. Pokoknya kita tunggu aja nanti di pengadilan. Kita hargai proses hukum,” tuturnya.

Menurut Nurdin, dalam pemeriksaan hari ini, penyidik belum memberikan pertanyaan soal kasus yang menjeratnya. “Pemeriksaannya nanti hari Senin. Tadi menandatangani seluruh, penyitaan,” tandas Nurdin seraya memasuki mobil tahanan.

Dalam penggeledahan beberapa hari lalu, tim penyidik KPK mengamankan uang Rp1,4 miliar serta 10 ribu dolar AS (setara Rp 142 juta) dan 190 ribu dolar Singapura (sekitar Rp 2 miliar). Uang disita dari rumah dinas dan pribadi Nurdin.

KPK menetapkan Nurdin Abdullah bersama Sekretaris Dinas (Sekdis) PUPR Sulsel Edy Rahmat dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba Agung Sucipto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji dan gratifikasi pengadaan barang dan jasa, perizinan, dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sumsel Tahun Anggaran 2020-2021.

Nurdin, melalui Edy, menerima uang sebesar Rp 2 miliar dari Agung terkait proyek-proyek infrastruktur di Bulukumba, Sulsel.

Selain itu, dia juga menerima fee proyek dari beberapa kontraktor lain sebesar Rp 3,4 miliar. Jadi total uang yang diterima Nurdin sebesar Rp 5,4 miliar.

Nurdin, Edy, dan Agung dijebloskan ke rumah tahanan (rutan). Nurdin dan Agung di rutan Gedung Merah Putih KPK, sementara Edy di rutan Gedung ACLC KPK, Kavling C1. [OKT]

]]> .
Gubernur Sulawesi Selatan nonaktif Nurdin Abdullah mengklaim, uang yang miliaran rupiah yang disita penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan bantuan untuk pembangunan masjid.

“Pokoknya itu kan uang masjid ya, bantuan masjid. Itu bantuan masjid, nantilah, kita jelasin nanti,” ujar Nurdin usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Gedung KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (5/3).

Nurdin membantah semua tuduhan KPK terhadap dirinya. Meski demikian, politikus PDIP itu menyatakan tetap menghargai proses hukum yang tengah dilakukan komisi antirasuah tersebut.

“Nggak, nggak, nggak ada yang benar. Pokoknya kita tunggu aja nanti di pengadilan. Kita hargai proses hukum,” tuturnya.

Menurut Nurdin, dalam pemeriksaan hari ini, penyidik belum memberikan pertanyaan soal kasus yang menjeratnya. “Pemeriksaannya nanti hari Senin. Tadi menandatangani seluruh, penyitaan,” tandas Nurdin seraya memasuki mobil tahanan.

Dalam penggeledahan beberapa hari lalu, tim penyidik KPK mengamankan uang Rp1,4 miliar serta 10 ribu dolar AS (setara Rp 142 juta) dan 190 ribu dolar Singapura (sekitar Rp 2 miliar). Uang disita dari rumah dinas dan pribadi Nurdin.

KPK menetapkan Nurdin Abdullah bersama Sekretaris Dinas (Sekdis) PUPR Sulsel Edy Rahmat dan Direktur PT Agung Perdana Bulukumba Agung Sucipto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji dan gratifikasi pengadaan barang dan jasa, perizinan, dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sumsel Tahun Anggaran 2020-2021.

Nurdin, melalui Edy, menerima uang sebesar Rp 2 miliar dari Agung terkait proyek-proyek infrastruktur di Bulukumba, Sulsel.

Selain itu, dia juga menerima fee proyek dari beberapa kontraktor lain sebesar Rp 3,4 miliar. Jadi total uang yang diterima Nurdin sebesar Rp 5,4 miliar.

Nurdin, Edy, dan Agung dijebloskan ke rumah tahanan (rutan). Nurdin dan Agung di rutan Gedung Merah Putih KPK, sementara Edy di rutan Gedung ACLC KPK, Kavling C1. [OKT]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories