NLE Bikin Pergerakan Logistik Makin Ngebut .

Implementasi sistem National Logistic Ecosystem (NLE) diyakini mampu memperbaiki manajemen supply chain atau rantai pasokan. Sehingga proses logistik bisa menghasilkan biaya yang lebih efisien dan siklus produksi yang semakin cepat.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, pada prinsipnya pelaku usaha logistik nasional mendukung program NLE guna merangkai semua kegiatan supply chain secara nasional.

Menurutnya, NLE adalah ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang. NLE juga mengenalkan satu konsep kolaborasi digital yang memungkinkan entitas logistik terhubung dengan pemerintah serta platform logistik lainnya. Kemudian, NLE memperkaya peran Indonesia national single window (INSW).

“Implementasi NLE masih perlu terus dikawal agar bisa terealisasi seperti yang diharapkan. ALFI melihat NLE ini seharusnya juga meliputi bandara, pelaku logistik, eksportir importir serta semua stakeholders. NLE sebagai platform besarnya,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (28/8).

Wakil Direktur Utama PT Interport Mandiri Utama ini menjelaskan, ALFI bersama stakeholders terkait siap memberikan masukan konstruktif termasuk timetablenya terkait penerapan NLE. Apalagi, sejak awal ALFI telah terlibat dalam program implementasi NLE tersebut.

Yukki menuturkan, NLE  juga idealnya diikuti dengan kesiapan pembangunan infrastrukturnya yang terintegrasi melalui kolaborasi dan sinergi antar pihak, seperti Pemda/Pemprov, Kementerian PUPR, Kemenhub, serta perusahaan BUMN dan swasta.

Adapun yang berkaitan dengan komoditas perlu melibatkan instansi Kementerian atau Lembaga seperti Kementerian ESDM, Kemendag, Kemenperin, Kementan, dan KKP.

“Kolaborasi semua pihak menjadi syarat utama agar implementasi NLE bisa berjalan baik sehingga daya saing produk/komoditas nasional bisa terwujud dan pertumbuhan ekonomi wilayah dan nasional juga tercapai,” tuturnya.

Yukki mengaku optimis target Pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional ke angka 17 persen sebelum 2024 melalui NLE cukup realistis. Karena, pergerakan nilai ekonomi suatu negara sangat didukung oleh logistik yang baik. Digitalisasi logistik telah menjadi keharusan di dalam ekonomi digital.

“Logistik dalam industry 4.0 tidak semata-mata memindahkan barang dari satu pihak kepada pihak lain, melainkan lebih menekankan kepada pentingnya perpindahan data dari satu entitas kepada entitas lain,” ungkapnya.

Chairman Asean Freight Forwarders Association (AFFA) itu juga melihat sekarang ini kecepatan data bergerak jauh melebihi pergerakan barang, sehingga konektivitas masyarakat logistik menjadi keharusan. [KPJ]

]]> .
Implementasi sistem National Logistic Ecosystem (NLE) diyakini mampu memperbaiki manajemen supply chain atau rantai pasokan. Sehingga proses logistik bisa menghasilkan biaya yang lebih efisien dan siklus produksi yang semakin cepat.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, pada prinsipnya pelaku usaha logistik nasional mendukung program NLE guna merangkai semua kegiatan supply chain secara nasional.

Menurutnya, NLE adalah ekosistem logistik yang menyelaraskan arus lalu lintas barang dan dokumen internasional sejak kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang. NLE juga mengenalkan satu konsep kolaborasi digital yang memungkinkan entitas logistik terhubung dengan pemerintah serta platform logistik lainnya. Kemudian, NLE memperkaya peran Indonesia national single window (INSW).

“Implementasi NLE masih perlu terus dikawal agar bisa terealisasi seperti yang diharapkan. ALFI melihat NLE ini seharusnya juga meliputi bandara, pelaku logistik, eksportir importir serta semua stakeholders. NLE sebagai platform besarnya,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (28/8).

Wakil Direktur Utama PT Interport Mandiri Utama ini menjelaskan, ALFI bersama stakeholders terkait siap memberikan masukan konstruktif termasuk timetablenya terkait penerapan NLE. Apalagi, sejak awal ALFI telah terlibat dalam program implementasi NLE tersebut.

Yukki menuturkan, NLE  juga idealnya diikuti dengan kesiapan pembangunan infrastrukturnya yang terintegrasi melalui kolaborasi dan sinergi antar pihak, seperti Pemda/Pemprov, Kementerian PUPR, Kemenhub, serta perusahaan BUMN dan swasta.

Adapun yang berkaitan dengan komoditas perlu melibatkan instansi Kementerian atau Lembaga seperti Kementerian ESDM, Kemendag, Kemenperin, Kementan, dan KKP.

“Kolaborasi semua pihak menjadi syarat utama agar implementasi NLE bisa berjalan baik sehingga daya saing produk/komoditas nasional bisa terwujud dan pertumbuhan ekonomi wilayah dan nasional juga tercapai,” tuturnya.

Yukki mengaku optimis target Pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional ke angka 17 persen sebelum 2024 melalui NLE cukup realistis. Karena, pergerakan nilai ekonomi suatu negara sangat didukung oleh logistik yang baik. Digitalisasi logistik telah menjadi keharusan di dalam ekonomi digital.

“Logistik dalam industry 4.0 tidak semata-mata memindahkan barang dari satu pihak kepada pihak lain, melainkan lebih menekankan kepada pentingnya perpindahan data dari satu entitas kepada entitas lain,” ungkapnya.

Chairman Asean Freight Forwarders Association (AFFA) itu juga melihat sekarang ini kecepatan data bergerak jauh melebihi pergerakan barang, sehingga konektivitas masyarakat logistik menjadi keharusan. [KPJ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories