Ninjau Proyek Pake Sarung Gibran Nyeleneh

Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka terus dibicarakan publik. Setelah disambangi sejumlah petinggi partai politik dan menteri, putra sulung Jokowi ini membuat sensasi lagi. Dia blusukan mengenakan sarung. Gibran emang nyeleneh.

Gibran meninjau Pintu Air Demangan di Jalan Tanggul, Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (1/4). Menariknya, Gibran tidak mengenakan pakaian dinas. Ayah Jan Ethes ini justru mengenakan beskap berwarna putih, sarung cokelat, lengkap dengan blangkon yang warnanya seperti sarung, sepatu slop, dan tak lupa masker berwarna hitam. Seperti gaya Priyayi zaman dulu.

Meski agak ribet, ternyata jalan yang dilalui Gibran cukup jauh saat menyusuri bantaran sungai. Tidak hanya melenggang. Gibran mengisi kegiatan tersebut dengan membagikan masker kepada masyarakat yang ditemuinya. Sambil meminta masyarakat mengenakan masker ketika berada di tempat umum.

Sesampainya di lokasi, Gibran disambut pengelola pintui air. Selembar kertas pun disodorkan untuk ditandatanganinya. Baru kemudian ia mengenakan alat pelindung diri (APD). Bukan seperti APD tenaga kesehatan saat melayani pasien Corona. Tetapi lebih kepada baju safety K3, seperti rompi dan helm proyek. Sepatu slopnya, diganti sepatu boots.

Sesekali ia bertanya ke pihak pengelola, mau tahu progres pengerjaannya. Ada salah satu pegawai yang membawakan denah lokasi proyek tersebut. Puas meninjau, Gibran memberi sejumlah usulan, seperti penerangan didesain dengan lampu klasik seperti di Istana Puro Mangkunegaran.

“Saya berharap revitalisasi pintu air Demangan segera selesai. Sehingga bisa dinikmati manfaatnya. Bisa juga sebagai objek wisata dan sarana olahraga dengan joging track,” tuturnya.

Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Yudi Triana Dewi mengatakan, pembangunan kembali pintu air Demangan tahap kedua masih menyasar konstruksi pintu air. “Masih ada kendala, ada tiga rumah di RW 13 Kelurahan Sangkrah yang sangat dekat dengan pintu air yang harus direlokasi,” ungkapnya

Pelaksana proyek tahap pertama, telah menyelesaikan struktur pondasi beton untuk pintu air dan pompa. Anggaran tahap pertama mencapai Rp 41 miliar, sedangkan tahap kedua sesuai kontrak senilai Rp 71 miliar. Tahap kedua telah dimulai sejak 2 Oktober lalu dan diharapkan selesai 25 Desemberer 2021.

Foto-foto Gibran meninjau Pintu Air Demangan dengan mengenakan sarung ini dipasang Gibran di akun Instagramnya, kemarin. Videonya juga dipasang di YouTube.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengomentari gaya Gibran tersebut. Menurut dia, kostum primordialis semacam ini, sah-sah saja. Namun, jika tidak tepat momentumnya, justru menyisakan penilaian yang tidak baik

“Gibran terkesan mengejar sensasi dibanding subtansi kerja. Aktivitas semacam ini kental nuansa pencitraan. Dan, itu tidak tepat dilakukan, berlebihan. Terlebih peninjauan lapangan, tentu yang diperlukan kegesitan, bukan kegenitan citra politis,” ulas Dedi saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Netizen yang mengetahui sepak terjang Gibran pun, banyak kasih komentar. “Anak karo bapak podo wae, gak aleman,” cuit @SoemadiRito. “Makin viral, makin banyak yang waswas,” kata @dwyt_farm. “Pake acara tandatangan peminjaman APD ya?” kelakar @IndonesiaR4Y4.

Ada juga yang nganggap Gibran mulai nyeleneh. “Salah kostum kalo buat jalan. Hahaha,” sebut @canthingku. “Kenapa nggak disiapkan ‘meja jalan’?” sindir @Om_Bregas1. “Kalau lagi turun ke lapangan, mendingan mas wali kota pake sepatu kets aja supaya lebih enak bergerak. Walaupun bajunya, baju daerah. Cocok juga kok,” saran @Ine_Dwine. “Demang Indonesia,” pungkas @c413ul. [MEN]

]]> Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka terus dibicarakan publik. Setelah disambangi sejumlah petinggi partai politik dan menteri, putra sulung Jokowi ini membuat sensasi lagi. Dia blusukan mengenakan sarung. Gibran emang nyeleneh.

Gibran meninjau Pintu Air Demangan di Jalan Tanggul, Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (1/4). Menariknya, Gibran tidak mengenakan pakaian dinas. Ayah Jan Ethes ini justru mengenakan beskap berwarna putih, sarung cokelat, lengkap dengan blangkon yang warnanya seperti sarung, sepatu slop, dan tak lupa masker berwarna hitam. Seperti gaya Priyayi zaman dulu.

Meski agak ribet, ternyata jalan yang dilalui Gibran cukup jauh saat menyusuri bantaran sungai. Tidak hanya melenggang. Gibran mengisi kegiatan tersebut dengan membagikan masker kepada masyarakat yang ditemuinya. Sambil meminta masyarakat mengenakan masker ketika berada di tempat umum.

Sesampainya di lokasi, Gibran disambut pengelola pintui air. Selembar kertas pun disodorkan untuk ditandatanganinya. Baru kemudian ia mengenakan alat pelindung diri (APD). Bukan seperti APD tenaga kesehatan saat melayani pasien Corona. Tetapi lebih kepada baju safety K3, seperti rompi dan helm proyek. Sepatu slopnya, diganti sepatu boots.

Sesekali ia bertanya ke pihak pengelola, mau tahu progres pengerjaannya. Ada salah satu pegawai yang membawakan denah lokasi proyek tersebut. Puas meninjau, Gibran memberi sejumlah usulan, seperti penerangan didesain dengan lampu klasik seperti di Istana Puro Mangkunegaran.

“Saya berharap revitalisasi pintu air Demangan segera selesai. Sehingga bisa dinikmati manfaatnya. Bisa juga sebagai objek wisata dan sarana olahraga dengan joging track,” tuturnya.

Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Yudi Triana Dewi mengatakan, pembangunan kembali pintu air Demangan tahap kedua masih menyasar konstruksi pintu air. “Masih ada kendala, ada tiga rumah di RW 13 Kelurahan Sangkrah yang sangat dekat dengan pintu air yang harus direlokasi,” ungkapnya

Pelaksana proyek tahap pertama, telah menyelesaikan struktur pondasi beton untuk pintu air dan pompa. Anggaran tahap pertama mencapai Rp 41 miliar, sedangkan tahap kedua sesuai kontrak senilai Rp 71 miliar. Tahap kedua telah dimulai sejak 2 Oktober lalu dan diharapkan selesai 25 Desemberer 2021.

Foto-foto Gibran meninjau Pintu Air Demangan dengan mengenakan sarung ini dipasang Gibran di akun Instagramnya, kemarin. Videonya juga dipasang di YouTube.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengomentari gaya Gibran tersebut. Menurut dia, kostum primordialis semacam ini, sah-sah saja. Namun, jika tidak tepat momentumnya, justru menyisakan penilaian yang tidak baik

“Gibran terkesan mengejar sensasi dibanding subtansi kerja. Aktivitas semacam ini kental nuansa pencitraan. Dan, itu tidak tepat dilakukan, berlebihan. Terlebih peninjauan lapangan, tentu yang diperlukan kegesitan, bukan kegenitan citra politis,” ulas Dedi saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Netizen yang mengetahui sepak terjang Gibran pun, banyak kasih komentar. “Anak karo bapak podo wae, gak aleman,” cuit @SoemadiRito. “Makin viral, makin banyak yang waswas,” kata @dwyt_farm. “Pake acara tandatangan peminjaman APD ya?” kelakar @IndonesiaR4Y4.

Ada juga yang nganggap Gibran mulai nyeleneh. “Salah kostum kalo buat jalan. Hahaha,” sebut @canthingku. “Kenapa nggak disiapkan ‘meja jalan’?” sindir @Om_Bregas1. “Kalau lagi turun ke lapangan, mendingan mas wali kota pake sepatu kets aja supaya lebih enak bergerak. Walaupun bajunya, baju daerah. Cocok juga kok,” saran @Ine_Dwine. “Demang Indonesia,” pungkas @c413ul. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories