Ngeri, 77 Kelurahan Di DKI Rawan Peredaran Narkoba

77 Kelurahan di Jakarta rawan peredaran narkoba. Temuan tersebut merupakan hasil pemetaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi DKI Jakarta.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BNN DKI Jakarta, Kombes Monang Sidabuke memaparkan, ada lima faktor pendukung kawasan tersebut masuk kategori rawan peredaran narkoba. Yakni, banyak lokasi hiburan, tempat kos dan hunian dengan privasi yang tinggi, tingginya angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik, dan rendahnya interaksi sosial masyarakat.

Monang menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan. Salah satunya dengan membangun Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) di lima wilayah Jakarta.

“BNNK sudah ada di Jakarta Utara, Timur, dan Selatan. untuk Jakarta Pusat dan Barat, sedang dalam proses. Sementara, kedua wilayah itu ditangani oleh BNN tingkat Provinsi,” katanya di Jakarta, kemarin.

Bentuk pengawasan dilakukan BNN, lanjutnya, dengan melakukan metode Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yakni, soft skill, hard skill, dan smart skill.

Metode soft skill lebih ke pencegahan secara preventif. “Kami melakukan edukasi ke Kelurahan dari bidang pemberdayaan masyarakat, melakukan edukasi, melatih masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk jadi aktivis atau penyuluh narkoba,” jelasnya.

Kemudian, hard skill yakni melakukan penegakan hukum secara terukur. Dan untuk smart skill yakni mengidentifikasi dan menganalisa jaringan narkoba di wilayah DKI dengan menggunakan teknologi canggih.

Monang mengatakan, BNN DKI berupaya agar 77 Kelurahan rawan tersebut berkurang. BNN DKI akan mengedukasi masyarakat untuk tidak menggunakan narkoba.

“Kami memiliki Program Desa Bersinar yakni Program edukasi melibatkan Pemerintah Daerah mulai dari Kelurahan sampai Rukun Tetangga (RT),” katanya.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth berharap, Ibu Kota bisa terbebas dari narkoba.

Kent, sapaan akrabnya, menilai, narkoba merupakan racun perusak bagi generasi muda penerus bangsa.Oleh sebab itu, Polisi harus memberantas bandar narkoba hingga ke akar-akarnya.

 

“Narkoba efeknya sangat berbahaya, dapat mengakibatkan kerusakan syaraf hingga kematian,” ujar Kent.

Selain itu, narkoba bisa memberikan dampak buruk ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Seperti aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, hingga keamanan.

Kent meminta, penegak hukum menjatuhkan hukuman mati kepada bandar maupun pengedar narkoba.

“Karena akibat perbuatan mereka (bandar narkoba) bisa mengakibatkan kehancuran satu generasi. Tidak ada toleransi untuk peredaran narkoba di Indonesia, khususnya Jakarta,” tegasnya.

Kent mengimbau, orangtua untuk mengawasi dan memberikan pendidikan bernilai moral dan spiritual.

“Ajarkan anak agar tumbuh menjadi anak yang memiliki pertahanan diri dari pengaruh lingkungan yang negatif,” tuturnya.

Penyuluh Narkoba Ahli Muda Direktorat Advokasi BNN, Eva Fitri Yuanita mengatakan, kota besar seperti Jakarta menjadi tujuan dan sasaran para pemasok narkoba. Makanya, banyak kalangan dari kalangan bawa hingga atas menjadi korban narkoba.

Dia mengungkapkan, ada peningkatan penyalahgunaan narkoba pada rentang usia 15 sampai 64 tahun. Dari 1,80 persen di tahun 2019 menjadi 1,95 persen pada 2021.

“Banyak generasi Z atau remaja menjadi korban narkoba. Mereka harus diedukasi agar masa depan Indonesia lebih aman dan nyaman tanpa permasalahan narkoba,” kata Eva di Jakarta, Selasa (31/5).

Eva menuturkan, terdapat berbagai jenis obat terlarang yang sering beredar di Indonesia. Yakni, ganja, sabu-sabu, ekstasi, amphetamine, dextro, nipam dan pil koplo.

Menurutnya, BNN memiliki strategi dan kebijakan bernama War on Drugs. Yakni, aksi edukasi informasi yang tepat, ringan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Aksi tersebut berupa P4GN serta Pemberdayaan Masyarakat, Rehabilitasi, IT Development and Research, dan kerja sama.

“Semoga dari program ini mendatangkan banyak manfaat dan kita bisa berdiskusi karena untuk mencegah itu lebih sulit daripada mengobati,” ujar Eva. ■

]]> 77 Kelurahan di Jakarta rawan peredaran narkoba. Temuan tersebut merupakan hasil pemetaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi DKI Jakarta.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BNN DKI Jakarta, Kombes Monang Sidabuke memaparkan, ada lima faktor pendukung kawasan tersebut masuk kategori rawan peredaran narkoba. Yakni, banyak lokasi hiburan, tempat kos dan hunian dengan privasi yang tinggi, tingginya angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik, dan rendahnya interaksi sosial masyarakat.

Monang menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan. Salah satunya dengan membangun Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) di lima wilayah Jakarta.

“BNNK sudah ada di Jakarta Utara, Timur, dan Selatan. untuk Jakarta Pusat dan Barat, sedang dalam proses. Sementara, kedua wilayah itu ditangani oleh BNN tingkat Provinsi,” katanya di Jakarta, kemarin.

Bentuk pengawasan dilakukan BNN, lanjutnya, dengan melakukan metode Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yakni, soft skill, hard skill, dan smart skill.

Metode soft skill lebih ke pencegahan secara preventif. “Kami melakukan edukasi ke Kelurahan dari bidang pemberdayaan masyarakat, melakukan edukasi, melatih masyarakat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk jadi aktivis atau penyuluh narkoba,” jelasnya.

Kemudian, hard skill yakni melakukan penegakan hukum secara terukur. Dan untuk smart skill yakni mengidentifikasi dan menganalisa jaringan narkoba di wilayah DKI dengan menggunakan teknologi canggih.

Monang mengatakan, BNN DKI berupaya agar 77 Kelurahan rawan tersebut berkurang. BNN DKI akan mengedukasi masyarakat untuk tidak menggunakan narkoba.

“Kami memiliki Program Desa Bersinar yakni Program edukasi melibatkan Pemerintah Daerah mulai dari Kelurahan sampai Rukun Tetangga (RT),” katanya.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth berharap, Ibu Kota bisa terbebas dari narkoba.

Kent, sapaan akrabnya, menilai, narkoba merupakan racun perusak bagi generasi muda penerus bangsa.Oleh sebab itu, Polisi harus memberantas bandar narkoba hingga ke akar-akarnya.

 

“Narkoba efeknya sangat berbahaya, dapat mengakibatkan kerusakan syaraf hingga kematian,” ujar Kent.

Selain itu, narkoba bisa memberikan dampak buruk ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Seperti aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, hingga keamanan.

Kent meminta, penegak hukum menjatuhkan hukuman mati kepada bandar maupun pengedar narkoba.

“Karena akibat perbuatan mereka (bandar narkoba) bisa mengakibatkan kehancuran satu generasi. Tidak ada toleransi untuk peredaran narkoba di Indonesia, khususnya Jakarta,” tegasnya.

Kent mengimbau, orangtua untuk mengawasi dan memberikan pendidikan bernilai moral dan spiritual.

“Ajarkan anak agar tumbuh menjadi anak yang memiliki pertahanan diri dari pengaruh lingkungan yang negatif,” tuturnya.

Penyuluh Narkoba Ahli Muda Direktorat Advokasi BNN, Eva Fitri Yuanita mengatakan, kota besar seperti Jakarta menjadi tujuan dan sasaran para pemasok narkoba. Makanya, banyak kalangan dari kalangan bawa hingga atas menjadi korban narkoba.

Dia mengungkapkan, ada peningkatan penyalahgunaan narkoba pada rentang usia 15 sampai 64 tahun. Dari 1,80 persen di tahun 2019 menjadi 1,95 persen pada 2021.

“Banyak generasi Z atau remaja menjadi korban narkoba. Mereka harus diedukasi agar masa depan Indonesia lebih aman dan nyaman tanpa permasalahan narkoba,” kata Eva di Jakarta, Selasa (31/5).

Eva menuturkan, terdapat berbagai jenis obat terlarang yang sering beredar di Indonesia. Yakni, ganja, sabu-sabu, ekstasi, amphetamine, dextro, nipam dan pil koplo.

Menurutnya, BNN memiliki strategi dan kebijakan bernama War on Drugs. Yakni, aksi edukasi informasi yang tepat, ringan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Aksi tersebut berupa P4GN serta Pemberdayaan Masyarakat, Rehabilitasi, IT Development and Research, dan kerja sama.

“Semoga dari program ini mendatangkan banyak manfaat dan kita bisa berdiskusi karena untuk mencegah itu lebih sulit daripada mengobati,” ujar Eva. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories