Nge-Tweet Soal Jabatan Fadjroel: 2024, Saya Jadi Orang Biasa Lagi

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman lagi-lagi jadi korban bully. Cuitannya di twitter tentang jabatan, banyak mendapat tanggapan miring warga dunia maya. Fadjroel dianggap, sekarang berubah setelah merasakan nikmatnya jabatan.

Sejak masuk lingkaran kekuasaan, Fadjroel kerap jadi sasaran kritik warga dunia maya. salah satunya, ketika Fadjroel membuat cuitan yang menyindir pihak-pihak yang selama ini dikenal doyan mengkritik pemerintah.

Gara-gara cuitan itu, Fadjroel diingatkan banyak orang ketika dirinya masih jadi aktivis. Kemarin, eks aktivis ‘98 ini kembali membuat cuitan di akun Twitter miliknya, @fadjroeL. Isinya, sebenarnya sebuah motivasi yang diposting lewat gambar bercorak warna kuning.

Pria kelahiran Banjarmasin 57 tahun silam ini, mengutip pernyataannya sendiri dalam Webinar Ngobrol CPROCOM de ngan tema: Kenal Dekat Dengan Jubir Presiden/Staf Khusus Presiden, Kamis (11/3).

“Saya banyak belajar kepada Pak Jokowi sebagai Presiden yang sangat merakyat, sederhana, humanis, dan demokratis,” bunyi pesan yang tertulis dalam gambar yang diposting Fadjroel.

Di dalam postingan yang sama, Fadjroel bilang, jabatan baginya hanya atribut sementara. Tahun 2024, jabatan saya sudah selesai. “Saya akan kembali ke dunia semula, menjadi akademisi, aktivis, peneliti, orang biasa. Jangan sampai atribut jabatan, membebani hidup anda. Passion anda adalah hidup anda. Tugas manusia adalah menjadi manusia,” pesannya.

 

Meskipun isinya baik, namun postingan itu justru banyak mendapat tanggapan negatif dari pengguna media sosial. Kebanyakan yang nyentil dari pada yang muji. “Bijak kali bang. masalahnya, rekam jejak anda banyak tersimpan di dunia maya. Anda akan terbebani dan sulit dipercaya orang. Karena setiap ucapan anda kelak akan dicocokkan dengan pendapat anda saat ikut berkuasa,” ulas @archabandung.

“Manusia paling bodoh, mendustai diri sendiri. Hello pendusta,” sindir @sosiaw4n. “Saking gila jabatan cuan, anda jilat majikan sampai nggak ketulungan,” kritik @yamin02275584.

“Setelah nggak menjabat, kritis lagi ya? Nggak seperti sekarang,” seloroh @gerimis pagi5. “Ada beda nggak bang, rasanya ngomong saat jadi aktivis sama jubir,” tanya @BungIrel.

“Kembali seperti semula, anda adalah mengkritisi rezim. Selamat anda berhenti, dan semoga bukan karena memang sudah tidak dibutuhkan lagi,” kata @sasaran nyamuk.

Untuk diketahui, sebelum masuk ke lingkaran kekuasaan, Fadjroel selama ini lebih dikenal sebagai aktivis jalanan. Di era Orde Baru, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sangat vokal menentang pemerintahan Soeharto. Akibat kritiknya itu, Fadjroel pernah dijebloskan ke penjara sebagai tahanan politik karena terlibat Gerakan Lima Agustus ITB (1989) yang menuntut penurunan Soeharto.

Kritik keras Fadjroel juga terdengar nyaring selama Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden 2 periode. Hampir tiap hari, Fajdroel selalu menyampaikan kritik pada SBY. Namun di era Presiden Jokowi, Fadjroel mulai masuk dalam lingkaran Istana. Dalam berbagai kesempatan, Fajdroel yang selama ini jadi aktivis jalanan, justru banyak menyerang balik sejumlah tokoh yang selama ini keras pada pemerintah.

Sikap Fadjroel ini pernah bikin kesal ekonom senior yang juga mantan aktivis, Rizal Ramli. Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur ini mengingatkan Fadjroel untuk tidak lupa masa lalunya. “By the way, just for the record, sehabis dipecat dari ITB karena demo Rudini, aktifiis 25 Agustus kesulitan utk meneruskan kuliah, hanya atas rekomendasi & jaminan pribadi RR (Rizal Ramli) ke Dekan, Fadjroel bisa kuliah S1 di UI. Termasuk rekomendasi S2 di UI. Lupa misi waktu mahasiswa, lupa budi,” kata Rizal di akun twitter nya(19/2).

Direktur Indonesia Political Review, Ujang Komarudin mengatakan, sebagai pejabat, sangat lumrah bila kini Fadjoel sering mendapat kritik. Apalagi, saat ini ada perubahan sikap dari Fadjroel saat masih jadi aktivis dan sekarang di lingkaran kekuasaan.

Kata dia, banyak aktivis yang dulu keras ke pemerintah, mendadak lembut ketika dapat jabatan. “Tidak harus nanti. Jika mau, mundur saja sekarang. Tak usah nunggu 2024. Karena fungsi sebagai Jubir Presiden pun tak dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menganggap pujian Fadjroel ke Jokowi merupakan hal biasa. mengingat, stempel bagian dari pemerintah sudah melekat kepada pria lulusan Universitas Indonesia itu.

Dedi mengakui, Fadjroel masih vokal, tapi untuk halhal baik, bukan kritik. Ia menyayangkan jiwa aktivis dalam diri Fadjroel luntur begitu saja.

“Karakter aktivis seharusnya tidak hilang meskipun ia memiliki jabatan. Jika Fadjroel bisa berhenti menjadi aktivis dan akademisi saat menjabat, lalu berniat kembali saat usai, maka Fadjroel sebenarnya oportunis, ia sama sekali tak menunjukkan sikap aktivis,” pungkasnya. [MEN]

]]> Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman lagi-lagi jadi korban bully. Cuitannya di twitter tentang jabatan, banyak mendapat tanggapan miring warga dunia maya. Fadjroel dianggap, sekarang berubah setelah merasakan nikmatnya jabatan.

Sejak masuk lingkaran kekuasaan, Fadjroel kerap jadi sasaran kritik warga dunia maya. salah satunya, ketika Fadjroel membuat cuitan yang menyindir pihak-pihak yang selama ini dikenal doyan mengkritik pemerintah.

Gara-gara cuitan itu, Fadjroel diingatkan banyak orang ketika dirinya masih jadi aktivis. Kemarin, eks aktivis ‘98 ini kembali membuat cuitan di akun Twitter miliknya, @fadjroeL. Isinya, sebenarnya sebuah motivasi yang diposting lewat gambar bercorak warna kuning.

Pria kelahiran Banjarmasin 57 tahun silam ini, mengutip pernyataannya sendiri dalam Webinar Ngobrol CPROCOM de ngan tema: Kenal Dekat Dengan Jubir Presiden/Staf Khusus Presiden, Kamis (11/3).

“Saya banyak belajar kepada Pak Jokowi sebagai Presiden yang sangat merakyat, sederhana, humanis, dan demokratis,” bunyi pesan yang tertulis dalam gambar yang diposting Fadjroel.

Di dalam postingan yang sama, Fadjroel bilang, jabatan baginya hanya atribut sementara. Tahun 2024, jabatan saya sudah selesai. “Saya akan kembali ke dunia semula, menjadi akademisi, aktivis, peneliti, orang biasa. Jangan sampai atribut jabatan, membebani hidup anda. Passion anda adalah hidup anda. Tugas manusia adalah menjadi manusia,” pesannya.

 

Meskipun isinya baik, namun postingan itu justru banyak mendapat tanggapan negatif dari pengguna media sosial. Kebanyakan yang nyentil dari pada yang muji. “Bijak kali bang. masalahnya, rekam jejak anda banyak tersimpan di dunia maya. Anda akan terbebani dan sulit dipercaya orang. Karena setiap ucapan anda kelak akan dicocokkan dengan pendapat anda saat ikut berkuasa,” ulas @archabandung.

“Manusia paling bodoh, mendustai diri sendiri. Hello pendusta,” sindir @sosiaw4n. “Saking gila jabatan cuan, anda jilat majikan sampai nggak ketulungan,” kritik @yamin02275584.

“Setelah nggak menjabat, kritis lagi ya? Nggak seperti sekarang,” seloroh @gerimis pagi5. “Ada beda nggak bang, rasanya ngomong saat jadi aktivis sama jubir,” tanya @BungIrel.

“Kembali seperti semula, anda adalah mengkritisi rezim. Selamat anda berhenti, dan semoga bukan karena memang sudah tidak dibutuhkan lagi,” kata @sasaran nyamuk.

Untuk diketahui, sebelum masuk ke lingkaran kekuasaan, Fadjroel selama ini lebih dikenal sebagai aktivis jalanan. Di era Orde Baru, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sangat vokal menentang pemerintahan Soeharto. Akibat kritiknya itu, Fadjroel pernah dijebloskan ke penjara sebagai tahanan politik karena terlibat Gerakan Lima Agustus ITB (1989) yang menuntut penurunan Soeharto.

Kritik keras Fadjroel juga terdengar nyaring selama Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden 2 periode. Hampir tiap hari, Fajdroel selalu menyampaikan kritik pada SBY. Namun di era Presiden Jokowi, Fadjroel mulai masuk dalam lingkaran Istana. Dalam berbagai kesempatan, Fajdroel yang selama ini jadi aktivis jalanan, justru banyak menyerang balik sejumlah tokoh yang selama ini keras pada pemerintah.

Sikap Fadjroel ini pernah bikin kesal ekonom senior yang juga mantan aktivis, Rizal Ramli. Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur ini mengingatkan Fadjroel untuk tidak lupa masa lalunya. “By the way, just for the record, sehabis dipecat dari ITB karena demo Rudini, aktifiis 25 Agustus kesulitan utk meneruskan kuliah, hanya atas rekomendasi & jaminan pribadi RR (Rizal Ramli) ke Dekan, Fadjroel bisa kuliah S1 di UI. Termasuk rekomendasi S2 di UI. Lupa misi waktu mahasiswa, lupa budi,” kata Rizal di akun twitter nya(19/2).

Direktur Indonesia Political Review, Ujang Komarudin mengatakan, sebagai pejabat, sangat lumrah bila kini Fadjoel sering mendapat kritik. Apalagi, saat ini ada perubahan sikap dari Fadjroel saat masih jadi aktivis dan sekarang di lingkaran kekuasaan.

Kata dia, banyak aktivis yang dulu keras ke pemerintah, mendadak lembut ketika dapat jabatan. “Tidak harus nanti. Jika mau, mundur saja sekarang. Tak usah nunggu 2024. Karena fungsi sebagai Jubir Presiden pun tak dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah menganggap pujian Fadjroel ke Jokowi merupakan hal biasa. mengingat, stempel bagian dari pemerintah sudah melekat kepada pria lulusan Universitas Indonesia itu.

Dedi mengakui, Fadjroel masih vokal, tapi untuk halhal baik, bukan kritik. Ia menyayangkan jiwa aktivis dalam diri Fadjroel luntur begitu saja.

“Karakter aktivis seharusnya tidak hilang meskipun ia memiliki jabatan. Jika Fadjroel bisa berhenti menjadi aktivis dan akademisi saat menjabat, lalu berniat kembali saat usai, maka Fadjroel sebenarnya oportunis, ia sama sekali tak menunjukkan sikap aktivis,” pungkasnya. [MEN]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories