Ngaco, Vaksin Bisa Bikin Gejala Covid-19 Tambah Berat .

Belakangan, beredar video tentang vaksin Covid-19, yang disebut bisa membuat kita terinfeksi gejala Covid-19 berat.

Informasi itu membuat sebagian masyarakat kebingungan, sehingga banyak juga yang menjadi enggan divaksin karena percaya pada hoax tersebut.

Terkait hal ini, Kandidat PhD dari Kobe University Jepang, dr. Adam Prabata menjelaskan, asumsi itu dilatarbelakangi oleh fakta terjadinya antibody dependent enhancement (ADE) atau peningkatan derajat keparahan penyakit yang diperantarai antibodi.

“Hal ini terjadi karena antibodi yang tidak optimal karena kurangnya efek penetralisir virus. Antibodi yang tidak optimal itu kemudian berikatan dengan virus. Sehingga, risiko infeksi meningkat, karena virus lebih mudah masuk sel tertentu.Akibatnya, terjadi peningkatan proses radang akibat kompleks imun,” jelas Adam via laman Instagram-nya, Senin (19/7).

Singkatnya, dalam kondisi respon antibodi efektif, antibodi mengganggu kemampuan virus menginfeksi dan mengganggu ikatan virus dengan reseptor, yang merupakan tempat menempelnya virus.

Sedangkan dalam kondisi ADE, ikatan virus dengan antibodi justru membantu masuknya virus ke dalam sel tubuh.

Namun, hingga saat ini, tak ada laporan mengenai kejadian ADE pada orang yang telah divaksin Covid-19.

Vaksin Covid-19 terbukti tidak menyebabkan meningkatnya risiko dan kejadian kasus Covid-19 berat.

“Kesimpulannya, ADE akibat vaksin yang diduga dapat membuat orang terkena Covid-19 dengan gejala lebih berat, hanya sebatas dugaan. Faktanya, hal itu tidak terjadi, baik pada saat vaksin dalam penelitian atau diberikan ke masyarakat,” tandas Adam. [HES]

]]> .
Belakangan, beredar video tentang vaksin Covid-19, yang disebut bisa membuat kita terinfeksi gejala Covid-19 berat.

Informasi itu membuat sebagian masyarakat kebingungan, sehingga banyak juga yang menjadi enggan divaksin karena percaya pada hoax tersebut.

Terkait hal ini, Kandidat PhD dari Kobe University Jepang, dr. Adam Prabata menjelaskan, asumsi itu dilatarbelakangi oleh fakta terjadinya antibody dependent enhancement (ADE) atau peningkatan derajat keparahan penyakit yang diperantarai antibodi.

“Hal ini terjadi karena antibodi yang tidak optimal karena kurangnya efek penetralisir virus. Antibodi yang tidak optimal itu kemudian berikatan dengan virus. Sehingga, risiko infeksi meningkat, karena virus lebih mudah masuk sel tertentu.Akibatnya, terjadi peningkatan proses radang akibat kompleks imun,” jelas Adam via laman Instagram-nya, Senin (19/7).

Singkatnya, dalam kondisi respon antibodi efektif, antibodi mengganggu kemampuan virus menginfeksi dan mengganggu ikatan virus dengan reseptor, yang merupakan tempat menempelnya virus.

Sedangkan dalam kondisi ADE, ikatan virus dengan antibodi justru membantu masuknya virus ke dalam sel tubuh.

Namun, hingga saat ini, tak ada laporan mengenai kejadian ADE pada orang yang telah divaksin Covid-19.

Vaksin Covid-19 terbukti tidak menyebabkan meningkatnya risiko dan kejadian kasus Covid-19 berat.

“Kesimpulannya, ADE akibat vaksin yang diduga dapat membuat orang terkena Covid-19 dengan gejala lebih berat, hanya sebatas dugaan. Faktanya, hal itu tidak terjadi, baik pada saat vaksin dalam penelitian atau diberikan ke masyarakat,” tandas Adam. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories