Neuroleadership Bisa Lahirkan Pemimpin-Pemimpin Hebat di Masa Mendatang

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Prof Taruna Ikrar mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin hebat melalui Neuroleadership, ilmu yang menggabungkan kepemimpinan dan fungsi otak.

Taruna menjelaskan, otak tercipta sebagai penentu kebijakan. Bagian ini yang bertanggung jawab atas proses pengambilan keputusan.

“Kepemimpinan adalah sebuah seni yang membutuhkan keterampilan khusus. Dengan ini, seorang pemimpin akan dapat menentukan arah yang tepat dan bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan,” ujar Taruna saat menjadi pembicara dalam diskusi via Zoom bertajuk “Pendidikan, Teknologi, dan Kesehatan; Gagasan Indonesia Modern Berbisnis Neuroleadership”, yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Jumat (19/3). 

Nah, keterampilan tersebut terbentuk melalui berbagai gejolak emosi yang merupakan proses interaksi di otak. Proses tersebut bermula dari otak tengah yang terstimulasi ke otak depan.

Dari sanalah kemudian muncul kebijakan yang diteruskan menuju otak belakang. Dari proses ini, akan muncul kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.

Dibutuhkan kepekaan pemimpin dalam melakukan analisis sebelum mengambil keputusan. Seorang pemimpin memiliki pengalaman panjang dan pengetahuan luas, akan mampu mengaitkan dan menghubungkan saraf-saraf otak dengan batin dalam mengambil keputusan.

“Sehingga keputusannya pun menjadi akurat,” jelas Taruna yang juga merupakan kader HMI ini. Dia juga menjelaskan, ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu.

Di antaranya, faktor akademik, kultural, dan teologi keagamaan. Seorang pemimpin berbasis NeuroLeadership akan mampu menemukan harapan rakyat. Bukan menakut-nakuti rakyat dengan berbagai ancaman.

Semakin besar harapan yang ditumbuhkan, akan membuat kepemimpinannya berlaku efektif. “Walau memang terkadang banyak sekali godaan untuk menebar ancaman yang secara neurosains sangat kuat di otak,” jelas dia.

NeuroLeadership merupakan paradigma baru. Dari situ muncul pendekatan baru untuk melihat perilaku manusia berdasarkan struktur otaknya. Di dalam otak, ada 187 miliar sel saraf. 

Tiap satu sel punya kemampuan yang sama dengan satu komputer tercanggih saat ini. Koneksi itu yang menentukan prototype atau karakter seseorang.

“Apakah dia seorang yang tenang atau emosional, pemikir ekstrim, lateral atau moderat. Sinyalemen dan karakter itu dapat dipetakan dan tergambar di dalam otak,” beber Taruna.

 

Pendekatan ini bahkan bisa digunakan untuk melihat kecenderungan politik seseorang berdasarkan karakter dasar partai atau calon yang dipilih.

Di Amerika Serikat (AS), jelas Taruna, pernah dibuat sebuah penelitian yang melihat kecenderungan pemilih berdasarkan struktur otaknya. Ternyata ada perbedaan struktur otak antara mereka yang memilih partai Demokrat yang notabene masyarakat kelas bawah, dan partai Republik yang notabene kalangan menengah ke atas.

Bahkan, kecenderungan pilihan itu dapat menetap hingga tujuh turunan, kecuali faktor lingkungan berhasil mengubahnya.

Faktor genetik, memang memberi andil besar terhadap karakter seseorang. Tapi faktor lingkungan memperkaya karakter tersebut.

“Orang yang dibesarkan di lingkungan kepemimpinan yang baik oleh seorang presiden, misalnya, akan membentuk karakter pemimpin pada dirinya. Kalau karakter kurang baik, seperti anak mafia, pada akhirnya ikut menjadi mafia,” jelasnya.

NeuroLeadership membahasakan kebenaran dengan bahasa akademik dan dapat dipertanggungjawabkan. “Dengan NeuroLeadership, seorang pemimpin dituntut untuk terus bergerak, tumbuh, dan berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari,” tutur dia.

NeuroLeadership memperjuangkan positive psychology, yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang kekuatan. Bagi Taruna, kepemimpinan berbasis otak sehat merupakan suatu kebutuhan dan harapan baru.

Sebab ke depan, dunia dihadapkan pada sesuatu yang tidak pasti, berubah-ubah, kompleks, dan ambigu.

NeuroLeadership bisa menjaga kewarasan dan ketenangan kondisi Indonesia. Pemimpin dengan NeuroLeadership akan berpola pikir bertumbuh (growth) dan transformasional, tidak tetap alias fixed dan tidak terbuka terhadap perubahan.

Juga menjauhkan pemimpin dengan otak destruktif, yang tidak mengenal kultur, sejarah, filosofi dan kondisi sosial bangsa Indonesia. Pemimpin model ini biasanya membentuk gaya memimpin otoriter.

NeuroLeadership juga bisa menjadi keteladanan, ketika fenomena sudah tidak lagi mampu menjelaskan kompleksitas.

“Dengan demikian, seluruh rakyat Indonesia dapat berbangga, karena telah memiliki model pemimpin ideal. Itulah kepemimpinan NeuroLeadership yang terpatri di dalam diri sendiri,” tandasnya. [KAL]

]]> Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Prof Taruna Ikrar mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin hebat melalui Neuroleadership, ilmu yang menggabungkan kepemimpinan dan fungsi otak.

Taruna menjelaskan, otak tercipta sebagai penentu kebijakan. Bagian ini yang bertanggung jawab atas proses pengambilan keputusan.

“Kepemimpinan adalah sebuah seni yang membutuhkan keterampilan khusus. Dengan ini, seorang pemimpin akan dapat menentukan arah yang tepat dan bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan,” ujar Taruna saat menjadi pembicara dalam diskusi via Zoom bertajuk “Pendidikan, Teknologi, dan Kesehatan; Gagasan Indonesia Modern Berbisnis Neuroleadership”, yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Jumat (19/3). 

Nah, keterampilan tersebut terbentuk melalui berbagai gejolak emosi yang merupakan proses interaksi di otak. Proses tersebut bermula dari otak tengah yang terstimulasi ke otak depan.

Dari sanalah kemudian muncul kebijakan yang diteruskan menuju otak belakang. Dari proses ini, akan muncul kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.

Dibutuhkan kepekaan pemimpin dalam melakukan analisis sebelum mengambil keputusan. Seorang pemimpin memiliki pengalaman panjang dan pengetahuan luas, akan mampu mengaitkan dan menghubungkan saraf-saraf otak dengan batin dalam mengambil keputusan.

“Sehingga keputusannya pun menjadi akurat,” jelas Taruna yang juga merupakan kader HMI ini. Dia juga menjelaskan, ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu.

Di antaranya, faktor akademik, kultural, dan teologi keagamaan. Seorang pemimpin berbasis NeuroLeadership akan mampu menemukan harapan rakyat. Bukan menakut-nakuti rakyat dengan berbagai ancaman.

Semakin besar harapan yang ditumbuhkan, akan membuat kepemimpinannya berlaku efektif. “Walau memang terkadang banyak sekali godaan untuk menebar ancaman yang secara neurosains sangat kuat di otak,” jelas dia.

NeuroLeadership merupakan paradigma baru. Dari situ muncul pendekatan baru untuk melihat perilaku manusia berdasarkan struktur otaknya. Di dalam otak, ada 187 miliar sel saraf. 

Tiap satu sel punya kemampuan yang sama dengan satu komputer tercanggih saat ini. Koneksi itu yang menentukan prototype atau karakter seseorang.

“Apakah dia seorang yang tenang atau emosional, pemikir ekstrim, lateral atau moderat. Sinyalemen dan karakter itu dapat dipetakan dan tergambar di dalam otak,” beber Taruna.

 

Pendekatan ini bahkan bisa digunakan untuk melihat kecenderungan politik seseorang berdasarkan karakter dasar partai atau calon yang dipilih.

Di Amerika Serikat (AS), jelas Taruna, pernah dibuat sebuah penelitian yang melihat kecenderungan pemilih berdasarkan struktur otaknya. Ternyata ada perbedaan struktur otak antara mereka yang memilih partai Demokrat yang notabene masyarakat kelas bawah, dan partai Republik yang notabene kalangan menengah ke atas.

Bahkan, kecenderungan pilihan itu dapat menetap hingga tujuh turunan, kecuali faktor lingkungan berhasil mengubahnya.

Faktor genetik, memang memberi andil besar terhadap karakter seseorang. Tapi faktor lingkungan memperkaya karakter tersebut.

“Orang yang dibesarkan di lingkungan kepemimpinan yang baik oleh seorang presiden, misalnya, akan membentuk karakter pemimpin pada dirinya. Kalau karakter kurang baik, seperti anak mafia, pada akhirnya ikut menjadi mafia,” jelasnya.

NeuroLeadership membahasakan kebenaran dengan bahasa akademik dan dapat dipertanggungjawabkan. “Dengan NeuroLeadership, seorang pemimpin dituntut untuk terus bergerak, tumbuh, dan berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari,” tutur dia.

NeuroLeadership memperjuangkan positive psychology, yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang kekuatan. Bagi Taruna, kepemimpinan berbasis otak sehat merupakan suatu kebutuhan dan harapan baru.

Sebab ke depan, dunia dihadapkan pada sesuatu yang tidak pasti, berubah-ubah, kompleks, dan ambigu.

NeuroLeadership bisa menjaga kewarasan dan ketenangan kondisi Indonesia. Pemimpin dengan NeuroLeadership akan berpola pikir bertumbuh (growth) dan transformasional, tidak tetap alias fixed dan tidak terbuka terhadap perubahan.

Juga menjauhkan pemimpin dengan otak destruktif, yang tidak mengenal kultur, sejarah, filosofi dan kondisi sosial bangsa Indonesia. Pemimpin model ini biasanya membentuk gaya memimpin otoriter.

NeuroLeadership juga bisa menjadi keteladanan, ketika fenomena sudah tidak lagi mampu menjelaskan kompleksitas.

“Dengan demikian, seluruh rakyat Indonesia dapat berbangga, karena telah memiliki model pemimpin ideal. Itulah kepemimpinan NeuroLeadership yang terpatri di dalam diri sendiri,” tandasnya. [KAL]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories