Neraca Dagang Surplus, Rupiah Malah Loyo

Hari ini rupiah dibuka loyo lagi. Nilai tukar rupiah kembali melemah 0,07 persen ke level Rp 14.420 per dolar AS, dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp 14.410 per dolar AS.

Selain rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,29 persen, yen Jepang minus 0,13 persen, dolar Singapura turun 0,10 persen, dan dolar Taiwan minus 0,08 persen.

Indeks dolar AS naik 0,11 persen menuju 91,933. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,05 persen ke level Rp 17.135, terhadap dolar Australia juga naik 0,16 persen ke level Rp 11.136, dan terhadap yuan China menguat 0,09 persen ke level Rp 2.214.

Analis PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Rully Arya Wisnubroto melihat, tekanan terhadap rupiah masih disebabkan oleh penguatan dolar AS seiring dengan naiknya imbal hasil (yield) obligasi AS, terutama US treasury 10 tahun. Di mana saat ini masih tercatat di level yang cukup tinggi di kisaran 1,6 persen.

Selain ditambah pelaku pasar juga tengah menanti hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) pada Rabu waktu AS, setelah Presiden AS Joe Biden mengesahkan paket stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS. “Sementara dari dalam negeri, publikasi neraca dagang masih belum bisa meredam volatilitas pasar, terbukti rupiah masih melemah,” katanya, Rabu (17/3).

Data ekonomi dari dalam negeri belum mampu menopang rupiah. Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) sebesar 2,01 miliar dolar AS pada Februari 2021. Nilai ekspor tumbuh 8,56 persen (yoy), sementara nilai impor tumbuh 11,86 persen (yoy) pada Februari 2021.

“Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 14.200-14.300 per dolar AS,” jelasnya. [DWI]

]]> Hari ini rupiah dibuka loyo lagi. Nilai tukar rupiah kembali melemah 0,07 persen ke level Rp 14.420 per dolar AS, dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp 14.410 per dolar AS.

Selain rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,29 persen, yen Jepang minus 0,13 persen, dolar Singapura turun 0,10 persen, dan dolar Taiwan minus 0,08 persen.

Indeks dolar AS naik 0,11 persen menuju 91,933. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menguat 0,05 persen ke level Rp 17.135, terhadap dolar Australia juga naik 0,16 persen ke level Rp 11.136, dan terhadap yuan China menguat 0,09 persen ke level Rp 2.214.

Analis PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Rully Arya Wisnubroto melihat, tekanan terhadap rupiah masih disebabkan oleh penguatan dolar AS seiring dengan naiknya imbal hasil (yield) obligasi AS, terutama US treasury 10 tahun. Di mana saat ini masih tercatat di level yang cukup tinggi di kisaran 1,6 persen.

Selain ditambah pelaku pasar juga tengah menanti hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) pada Rabu waktu AS, setelah Presiden AS Joe Biden mengesahkan paket stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS. “Sementara dari dalam negeri, publikasi neraca dagang masih belum bisa meredam volatilitas pasar, terbukti rupiah masih melemah,” katanya, Rabu (17/3).

Data ekonomi dari dalam negeri belum mampu menopang rupiah. Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) sebesar 2,01 miliar dolar AS pada Februari 2021. Nilai ekspor tumbuh 8,56 persen (yoy), sementara nilai impor tumbuh 11,86 persen (yoy) pada Februari 2021.

“Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 14.200-14.300 per dolar AS,” jelasnya. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories