Naik 0,33 Persen, Rupiah Hajar Balik Dolar AS

Setelah melemah terus dari awal pekan, rupiah hari ini mulai bangkit. Rupiah menguat 47 poin atau 0,33 persen ke level Rp 14.380 per dolar AS, dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.428 per dolar AS.

Sejak pembukaan, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.380-14.380 per dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang saingannya terpantau menguat 0,57 poin atau 0,06 persen ke level 91,92.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro merangkak naik sebesar 0,50 persen ke level Rp 17.180, terhadap dolar Australia menguat 0,11 ke level Rp 11.123 dan terhadap yuan China juga naik sebesar 0,09 persen ke level Rp 2.212.

Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra melihat, pada konferensi pers yang diadakan dini hari tadi, The Fed menepis isu mengenai kenaikan suku bunga acuan tahun ini. The Fed juga memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS tahun ini sebesar 6,5 persen dan inflasi AS sebesar 2,2 persen.

“Tapi the Fed tidak akan terburu-buru memperketat kebijakan moneternya. Mungkin tahun 2023, kebijakannya baru diubah,” imbuhnya, Kamis (18/3).

Pada pembukaan pasar ini, Ariston melihat minat pasar terhadap aset berisiko meninggi karena sikap the Fed tersebut. Hal ini terlihat dari indeks saham Asia yang dibuka menguat.

Di sisi lain, sambung dia, yield obligasi pemerintah AS tenor jangka panjang yang terus naik bisa menahan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kemarin, yield tenor 10 tahun sempat menyentuh kisaran 1,68 persen atau level tertinggi sejak Januari 2020. Saat ini, meski sudah terkoreksi di kisaran 1,63 persen tapi masih terbilang di level tinggi. 

“Dolar menguat karena yield ini,” katanya.

Ia memperkirakan, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp 14.380-Rp 14.465 per dolar AS. [DWI]

]]> Setelah melemah terus dari awal pekan, rupiah hari ini mulai bangkit. Rupiah menguat 47 poin atau 0,33 persen ke level Rp 14.380 per dolar AS, dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.428 per dolar AS.

Sejak pembukaan, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.380-14.380 per dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang saingannya terpantau menguat 0,57 poin atau 0,06 persen ke level 91,92.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro merangkak naik sebesar 0,50 persen ke level Rp 17.180, terhadap dolar Australia menguat 0,11 ke level Rp 11.123 dan terhadap yuan China juga naik sebesar 0,09 persen ke level Rp 2.212.

Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra melihat, pada konferensi pers yang diadakan dini hari tadi, The Fed menepis isu mengenai kenaikan suku bunga acuan tahun ini. The Fed juga memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS tahun ini sebesar 6,5 persen dan inflasi AS sebesar 2,2 persen.

“Tapi the Fed tidak akan terburu-buru memperketat kebijakan moneternya. Mungkin tahun 2023, kebijakannya baru diubah,” imbuhnya, Kamis (18/3).

Pada pembukaan pasar ini, Ariston melihat minat pasar terhadap aset berisiko meninggi karena sikap the Fed tersebut. Hal ini terlihat dari indeks saham Asia yang dibuka menguat.

Di sisi lain, sambung dia, yield obligasi pemerintah AS tenor jangka panjang yang terus naik bisa menahan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kemarin, yield tenor 10 tahun sempat menyentuh kisaran 1,68 persen atau level tertinggi sejak Januari 2020. Saat ini, meski sudah terkoreksi di kisaran 1,63 persen tapi masih terbilang di level tinggi. 

“Dolar menguat karena yield ini,” katanya.

Ia memperkirakan, nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp 14.380-Rp 14.465 per dolar AS. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories