Mural Hilang, Kini Bertebaran Poster Protes Di Solo Yang Mau Ngritik, Monggo Gibran Di-WA Atau DM Yaa…

Kritikan ke pemerintah di Kota Solo “bermetamorfosis”. Setelah mural hilang, kini muncul kritikan dalam bentuk poster. Menanggapi hal ini, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tetap santuy. Putra sulung Presiden Jokowi ini bahkan mempersilakan orang yang mau mengkritiknya mengirim pesan lewat WhatsApp (WA) atau Direct Message (DM) di media sosialnya.
 
Sejak pekan lalu, poster-poster kritikan bertebaran di beberapa titik keramaian. Isinya, kebanyakan soal penanganan pandemi Covid-19, termasuk Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
 
Di Jalan Diponegoro, tepatnya di depan Pasar Antik Triwindu, Kawasan Wisata Ngarsopuro, tertempel poster “Berani Membatasi, Harus Menghidupi. #GWSIndonesia, #Bansos?”. Di sudut poster terdapat gambar anak-anak yang menangis sambil berkata: luwe no sayang (lapar nih sayang).
 
Poster lainnya berada di Simpang Empat Panggung. Isinya, “Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh sesama”. Lalu, ada juga poster “Jualan Dipenjara, Nggak Jualan Mati Kelaparan”. 
 
Poster lain muncul di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan. Poster yang terpasang di pintu besi itu mempersoalkan cara pemerintah menghadapi kritik. “Kinerjanya yang diperbaiki, bukan kritiknya yang dibatasi,” demikian tulisan di dalam poster ini.
 
Menanggapi hal ini, Gibran menegaskan, tidak alergi kritik. Hanya saja, ia tidak menjamin poster-poster itu akan bertahan lama. Sebab, petugas akan membersihkan coretan atau poster yang tidak berizin.
 
“Saya lihat dulu. Kalau di tempat umum, di rumah-rumah orang, orangnya mungkin merasa terganggu, tidak nyaman, ya nanti kami bersihkan,” ucapnya, saat ditanya wartawan, di Balai Kota Solo, kemarin.
 
Soal kritik tentang sanksi penjara bagi pedagang kecil yang melanggar PPKM, Gibran memastikan, di Solo tidak pernah ada. Bahkan, petugas di Solo tidak pernah memberi sanksi denda. Paling sebatas teguran dari Satpol PP.

 

Terkait tulisan tentang kritik yang dibatasi, ayah Jan Ethes ini menegaskan, tidak pernah membatasi kritikan. Ia justru mempersilakan masyarakat yang mau mengkritik bisa langsung disampaikan ke dirinya. 
 
“Kritik nggak ada yang kita batasi. Silakan. Bisa lewat nomor saya, bersurat, DM medsos. Kalau butuh saya datangi, ya saya sowan,” ucapnya.
 
Gibran mengaku, selama ini sudah banyak menerima masukan, baik melalui WhatsApp maupun audiensi secara langsung. Dari masukan itu, perbaikan kebijakan dilakukan. Termasuk dalam pelonggaran pendidikan tatap muka (PTM).
 
“Pedagang pasar sudah audiensi dengan kami. Kemarin kami undang komunitas mural. Pelonggaran PTM, sekarang ini kan juga dari masukan masyarakat, kita terbuka kok,” ucapnya.
 
Sikap Gibran ini membuat bangga politisi senior PDIP Hendrawan Supratikno. Menurut dia, dengan keterbukaan itu, Gibran menunjukkan sikap dewasa. “Dia sudah berdialektika dengan dinamika masyarakat, dan sedang mengakumulasi kearifan sebagai tokoh publik,” ucapnya. [MEN]

]]> Kritikan ke pemerintah di Kota Solo “bermetamorfosis”. Setelah mural hilang, kini muncul kritikan dalam bentuk poster. Menanggapi hal ini, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tetap santuy. Putra sulung Presiden Jokowi ini bahkan mempersilakan orang yang mau mengkritiknya mengirim pesan lewat WhatsApp (WA) atau Direct Message (DM) di media sosialnya.
 
Sejak pekan lalu, poster-poster kritikan bertebaran di beberapa titik keramaian. Isinya, kebanyakan soal penanganan pandemi Covid-19, termasuk Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
 
Di Jalan Diponegoro, tepatnya di depan Pasar Antik Triwindu, Kawasan Wisata Ngarsopuro, tertempel poster “Berani Membatasi, Harus Menghidupi. #GWSIndonesia, #Bansos?”. Di sudut poster terdapat gambar anak-anak yang menangis sambil berkata: luwe no sayang (lapar nih sayang).
 
Poster lainnya berada di Simpang Empat Panggung. Isinya, “Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh sesama”. Lalu, ada juga poster “Jualan Dipenjara, Nggak Jualan Mati Kelaparan”. 
 
Poster lain muncul di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan. Poster yang terpasang di pintu besi itu mempersoalkan cara pemerintah menghadapi kritik. “Kinerjanya yang diperbaiki, bukan kritiknya yang dibatasi,” demikian tulisan di dalam poster ini.
 
Menanggapi hal ini, Gibran menegaskan, tidak alergi kritik. Hanya saja, ia tidak menjamin poster-poster itu akan bertahan lama. Sebab, petugas akan membersihkan coretan atau poster yang tidak berizin.
 
“Saya lihat dulu. Kalau di tempat umum, di rumah-rumah orang, orangnya mungkin merasa terganggu, tidak nyaman, ya nanti kami bersihkan,” ucapnya, saat ditanya wartawan, di Balai Kota Solo, kemarin.
 
Soal kritik tentang sanksi penjara bagi pedagang kecil yang melanggar PPKM, Gibran memastikan, di Solo tidak pernah ada. Bahkan, petugas di Solo tidak pernah memberi sanksi denda. Paling sebatas teguran dari Satpol PP.

 

Terkait tulisan tentang kritik yang dibatasi, ayah Jan Ethes ini menegaskan, tidak pernah membatasi kritikan. Ia justru mempersilakan masyarakat yang mau mengkritik bisa langsung disampaikan ke dirinya. 
 
“Kritik nggak ada yang kita batasi. Silakan. Bisa lewat nomor saya, bersurat, DM medsos. Kalau butuh saya datangi, ya saya sowan,” ucapnya.
 
Gibran mengaku, selama ini sudah banyak menerima masukan, baik melalui WhatsApp maupun audiensi secara langsung. Dari masukan itu, perbaikan kebijakan dilakukan. Termasuk dalam pelonggaran pendidikan tatap muka (PTM).
 
“Pedagang pasar sudah audiensi dengan kami. Kemarin kami undang komunitas mural. Pelonggaran PTM, sekarang ini kan juga dari masukan masyarakat, kita terbuka kok,” ucapnya.
 
Sikap Gibran ini membuat bangga politisi senior PDIP Hendrawan Supratikno. Menurut dia, dengan keterbukaan itu, Gibran menunjukkan sikap dewasa. “Dia sudah berdialektika dengan dinamika masyarakat, dan sedang mengakumulasi kearifan sebagai tokoh publik,” ucapnya. [MEN]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories