Muluskan Proyek Hilirisasi Tambang Pemerintah Disarankan Tambah Benefit Investasi

Untuk memuluskan program hilirisasi hasil tambang, Pemerintah perlu mempertimbangkan menambahkan benefit untuk investor. Terutama, proyek strategis berskala besar.

Saran tersebut disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, merespons kebijakan larangan ekspor sejumlah komoditas tambang sekaligus mendorong realisasi pembangunan pabrik baterai di Tanah Air.

Menurutnya, peningkatan daya tarik investasi sangat dibutuhkan.

“Misal dari sisi perizinannya, insentif baik fiskal maupun non fiskal. Hal ini tentu dapat meningkatkan daya tarik investasi,” kata Fahmy Rakyat Merdeka.

Apalagi, lanjutnya, hilirisasi membutuhkan investasi sangat besar.

Untuk ekosistem baterai, Fahmy mewanti-wanti Indonesia Battery Company (IBC) untuk mencari mitra berpengalaman, selain bermodal jumbo.

Untuk diketahui, IBC merupakan anak perusahaan dari Mind ID, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Pertamina (Persero) dan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam.

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Nicholas D Kanter mengungkapkan, perusahaan patungan atau Joint Venture (JV) IBC dengan PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL) dari Korea, dan LG Energy Solution dari China, mundur dari target. Seperti diketahui pembentukan JV untuk mengelola nikel sebagai bahan baku baterai.

Sampai saat ini pembentukan JV tersebut masih dalam tahap pembahasan. Dan valuasi anak usaha yang akan dibentuk masih dalam diskusi serta kajian.

“Semula memang Juni tahun ini JV tersebut resmi terbentuk. Hanya saja, karena masih dalam tahap pembahasan valuasi anak usaha maka target terbentuknya mundur,” ucapnya di Jakarta, Selasa (24/5).

Ia menilai, proyek ini bukan hanya strategis tetapi juga Pemerintah Disarankan Tambah Benefit Investasi Muluskan Proyek Hilirisasi Tambang Untuk memuluskan program hilirisasi hasil tambang, Pemerintah perlu mempertimbangkan menambahkan benefit untuk investor. Terutama, proyek strategis berskala besar. menjadi legacy karena Antam bekerja sama dengan dua pemain baterai terbesar dunia.

 

“Kalau proyek ini jalan akan jadi pertama yang end to end. Ini juga akan jadi battery cells sampai recycle,” katanya.

Namun hingga kini kerja sama tersebut statusnya baru pada tahap penandatanganan framework agreement yang dilakukan pada April 2022, terkait inisiatif pengembangan proyek baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV Battery) terintegrasi.

“Targetnya, di September tahun ini JV tersebut sudah terbentuk,” harapnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Usaha Antam Dolok Robert Silabaan menjelaskan, bila kerja sama dengan dua perusahaan tersebut bisa terealisasi, maka nilai investasi yang akan masuk ke Indonesia sangat besar.

Khususnya dari pengembangan hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik, yakni berkisar antara 15-16 milar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 220 triliun hingga Rp 235 triliun.

“Makanya saat ini kami lagi susun dan lakukan join FS (Feasibility Study),” katanya.

Ia menilai, dengan adanya proyek battery cell dan cycle battery yang menjadi fokus utama wilayah usaha JV tersebut, maka akan mendongkrak produksi Nikel Pick Iron (NPI) Antam.

“Satu tahun, kita bisa tambah produksi sampai 350 ribu nikel konten. Artinya, ini juga akan mendongkrak profit perusahaan ke depannya,” kata dia.

Karena itu, pihaknya siap menanamkan investasi, baik secara minoritas maupun mayoritas agar turut serta dalam pengembangan bisnis nikel ke depan.

Selain itu, upaya pengembangan hilirisasi nikel dilakukan melalui pembangunan proyek smelter di Morowali Utara, Sulawesi Tenggara.

“Kami juga akan memasukkan ekuiti di sana (Morowali), di bawah 1 miliar dolar AS (Rp 14,6 triliun). Ini juga akan meningkatkan produksi kami per tahunnya sebanyak 200-235 ribu ton nikel,” jelasnya.

 

Menurutnya, bila beberapa proyek di sektor nikel tersebut terealisasi, diharapkan Antam bisa memperoleh profit yang lebih tinggi dibanding saat ini.

“Karena dari dua mitra di Maluku Utara, konsumsi nikel ore-nya 34 juta – 36 juta ton per tahun. Sementara di Sulawesi, seluruh nikel ore yang dibutuhkan mencapai 21 juta ton. Jadi dibanding sekarang, berarti ada peningkatan (konsumsi) hingga empat kali lipat,” bebernya.

Informasi saja, produksi bijih nikel sebagai bahan baku feronikel Antam hingga kuartal I-2022 mencapai 2,92 juta wet metric ton (wmt). Atau naik 11 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar 2,64 juta wmt.

Berdasarkan data badan survei geologis Amerika Serikat (AS) atau US Geological Survey, produksi nikel Indonesia mencapai 1 juta metrik ton pada 2021 atau menyumbang 37,04 persen nikel dunia.

Sedangkan menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan nikel Indonesia sebesar 72 juta ton. Atau mencapai 52 persen dari total cadangan nikel dunia pada 2020. Sehingga untuk mengoptimalkan nilai tambah hilirisasi, Pemerintah Indonesia telah menargetkan 53 fasilitas smelter yang akan beroperasi hingga 2024. ■

]]> Untuk memuluskan program hilirisasi hasil tambang, Pemerintah perlu mempertimbangkan menambahkan benefit untuk investor. Terutama, proyek strategis berskala besar.

Saran tersebut disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, merespons kebijakan larangan ekspor sejumlah komoditas tambang sekaligus mendorong realisasi pembangunan pabrik baterai di Tanah Air.

Menurutnya, peningkatan daya tarik investasi sangat dibutuhkan.

“Misal dari sisi perizinannya, insentif baik fiskal maupun non fiskal. Hal ini tentu dapat meningkatkan daya tarik investasi,” kata Fahmy Rakyat Merdeka.

Apalagi, lanjutnya, hilirisasi membutuhkan investasi sangat besar.

Untuk ekosistem baterai, Fahmy mewanti-wanti Indonesia Battery Company (IBC) untuk mencari mitra berpengalaman, selain bermodal jumbo.

Untuk diketahui, IBC merupakan anak perusahaan dari Mind ID, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Pertamina (Persero) dan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam.

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Nicholas D Kanter mengungkapkan, perusahaan patungan atau Joint Venture (JV) IBC dengan PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL) dari Korea, dan LG Energy Solution dari China, mundur dari target. Seperti diketahui pembentukan JV untuk mengelola nikel sebagai bahan baku baterai.

Sampai saat ini pembentukan JV tersebut masih dalam tahap pembahasan. Dan valuasi anak usaha yang akan dibentuk masih dalam diskusi serta kajian.

“Semula memang Juni tahun ini JV tersebut resmi terbentuk. Hanya saja, karena masih dalam tahap pembahasan valuasi anak usaha maka target terbentuknya mundur,” ucapnya di Jakarta, Selasa (24/5).

Ia menilai, proyek ini bukan hanya strategis tetapi juga Pemerintah Disarankan Tambah Benefit Investasi Muluskan Proyek Hilirisasi Tambang Untuk memuluskan program hilirisasi hasil tambang, Pemerintah perlu mempertimbangkan menambahkan benefit untuk investor. Terutama, proyek strategis berskala besar. menjadi legacy karena Antam bekerja sama dengan dua pemain baterai terbesar dunia.

 

“Kalau proyek ini jalan akan jadi pertama yang end to end. Ini juga akan jadi battery cells sampai recycle,” katanya.

Namun hingga kini kerja sama tersebut statusnya baru pada tahap penandatanganan framework agreement yang dilakukan pada April 2022, terkait inisiatif pengembangan proyek baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV Battery) terintegrasi.

“Targetnya, di September tahun ini JV tersebut sudah terbentuk,” harapnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Usaha Antam Dolok Robert Silabaan menjelaskan, bila kerja sama dengan dua perusahaan tersebut bisa terealisasi, maka nilai investasi yang akan masuk ke Indonesia sangat besar.

Khususnya dari pengembangan hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik, yakni berkisar antara 15-16 milar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 220 triliun hingga Rp 235 triliun.

“Makanya saat ini kami lagi susun dan lakukan join FS (Feasibility Study),” katanya.

Ia menilai, dengan adanya proyek battery cell dan cycle battery yang menjadi fokus utama wilayah usaha JV tersebut, maka akan mendongkrak produksi Nikel Pick Iron (NPI) Antam.

“Satu tahun, kita bisa tambah produksi sampai 350 ribu nikel konten. Artinya, ini juga akan mendongkrak profit perusahaan ke depannya,” kata dia.

Karena itu, pihaknya siap menanamkan investasi, baik secara minoritas maupun mayoritas agar turut serta dalam pengembangan bisnis nikel ke depan.

Selain itu, upaya pengembangan hilirisasi nikel dilakukan melalui pembangunan proyek smelter di Morowali Utara, Sulawesi Tenggara.

“Kami juga akan memasukkan ekuiti di sana (Morowali), di bawah 1 miliar dolar AS (Rp 14,6 triliun). Ini juga akan meningkatkan produksi kami per tahunnya sebanyak 200-235 ribu ton nikel,” jelasnya.

 

Menurutnya, bila beberapa proyek di sektor nikel tersebut terealisasi, diharapkan Antam bisa memperoleh profit yang lebih tinggi dibanding saat ini.

“Karena dari dua mitra di Maluku Utara, konsumsi nikel ore-nya 34 juta – 36 juta ton per tahun. Sementara di Sulawesi, seluruh nikel ore yang dibutuhkan mencapai 21 juta ton. Jadi dibanding sekarang, berarti ada peningkatan (konsumsi) hingga empat kali lipat,” bebernya.

Informasi saja, produksi bijih nikel sebagai bahan baku feronikel Antam hingga kuartal I-2022 mencapai 2,92 juta wet metric ton (wmt). Atau naik 11 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar 2,64 juta wmt.

Berdasarkan data badan survei geologis Amerika Serikat (AS) atau US Geological Survey, produksi nikel Indonesia mencapai 1 juta metrik ton pada 2021 atau menyumbang 37,04 persen nikel dunia.

Sedangkan menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan nikel Indonesia sebesar 72 juta ton. Atau mencapai 52 persen dari total cadangan nikel dunia pada 2020. Sehingga untuk mengoptimalkan nilai tambah hilirisasi, Pemerintah Indonesia telah menargetkan 53 fasilitas smelter yang akan beroperasi hingga 2024. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories