Muhammadiyah Dukung Pancasila Diajarkan Sejak Usia Dini .

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Provinsi Banten, HM. Syamsuddin mendukung penuh Pendidikan Moral Pancasila diajarkan sejak tingkat Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tinggi. 

Menurutnya, Muhammadiyah tidak pernah mempersoalkan Pancasila. Sebaliknya mengajak masyarakat untuk mempertahankan Ideologi negara itu dan menginternalisasi melalui pendidikan formal.

“Kami sangat mendukung ideologi tersebut,” ucap Syamsuddin saat memberikan sambutan pada sosialisasi bertema ‘Pancasila dan Pentingnya Pembentukan Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan Formal’ di Serang, Senin (5/4).

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah, kata dia, sudah menanamkan pendidikan Pancasila sejak dini kepada anak didik. Syamsuddin berharap tidak ada lagi paham-paham menyimpang yang mempersoalkan agama dengan negara.

“Gerakan kebangsaan tidak bisa dipertentangkan dengan gerakan keagamaan, gerakan keagamaan harus dipersenyawakan dengan gerakan kebangsaan,” jelasnya. 

Wakil Kepala BPIP, Hariyono menyebut, Muhammadiyah merupakan organisasi besar di Indonesia yang sejak awal berdiri sangat peduli dengan pendidikan karakter kebangsaan dan keagamaan, khususnya untuk meninggalkan mentalitas inlander. 

“Kasman Singodimedjo adalah komandan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Tokoh Muhammadiyah ini sangat Pancasilais dan Nasionalis yang melarang anak muda melakukan kekerasan terhadap bung Karno dan bung Hatta pada 16 Agustus 1945,” tuturnya. 

Selain itu KH. Ahmad Dahlan telah mengajarkan kebhinnekaan sejak dini. Bahkan sekolah, rumah sakit Muhammadiyah waktu itu banyak yang merekrut guru dan pegawai non muslim. “Negara kalau ingin maju harus ada perubahan dan berkemajuan. Ini adalah tekad kita,” tandas Hariyono. 

BPIP mengajak Muhammadiyah untuk terus bersama-sama menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila secara konsisten. “Pancasila sebagai alat pemersatu bisa mempertemukan semua elemen bangsa untuk  membangun bangsa yang maju melalui Islam berkemajuan,” jelas Hariyono.

Dia juga mengimbau jangan sekali-kali mendidik anak untuk benci kepada negara tanpa solusi yang konstruktif, karena tanpa pemerintahan tidak ada ketertiban. Konsekuensinya saat persatuan dan perdamaian terganggu semua warga negara juga terganggu dan tidak bisa maju. 

“Jangan didik anak-anak kita untuk benci kepada negaranya,” pesan Hariyono. 

Acara sarasehan dihadiri sejumlah Pimpinan dan Ormas Muhammadiyah wilayah Banten. Adapun narasumber Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Amirsyah Tambunan, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Lia Kian, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang Ahmad Amarullah, Direktur Pengkajian Materi BPIP Sabri dan Sekretaris PW Muhammadiyah Banten Zakaria Syafei.

Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP M. Akbar Hadi Prabowo dalam laporannya menyampaikan kegiatan hasil sinergi antara BPIP dengan PW Muhammadiyah Banten ini sudah melalui prosedur protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19. [BCG]

]]> .
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Provinsi Banten, HM. Syamsuddin mendukung penuh Pendidikan Moral Pancasila diajarkan sejak tingkat Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tinggi. 

Menurutnya, Muhammadiyah tidak pernah mempersoalkan Pancasila. Sebaliknya mengajak masyarakat untuk mempertahankan Ideologi negara itu dan menginternalisasi melalui pendidikan formal.

“Kami sangat mendukung ideologi tersebut,” ucap Syamsuddin saat memberikan sambutan pada sosialisasi bertema ‘Pancasila dan Pentingnya Pembentukan Karakter Generasi Muda Melalui Pendidikan Formal’ di Serang, Senin (5/4).

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah, kata dia, sudah menanamkan pendidikan Pancasila sejak dini kepada anak didik. Syamsuddin berharap tidak ada lagi paham-paham menyimpang yang mempersoalkan agama dengan negara.

“Gerakan kebangsaan tidak bisa dipertentangkan dengan gerakan keagamaan, gerakan keagamaan harus dipersenyawakan dengan gerakan kebangsaan,” jelasnya. 

Wakil Kepala BPIP, Hariyono menyebut, Muhammadiyah merupakan organisasi besar di Indonesia yang sejak awal berdiri sangat peduli dengan pendidikan karakter kebangsaan dan keagamaan, khususnya untuk meninggalkan mentalitas inlander. 

“Kasman Singodimedjo adalah komandan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Tokoh Muhammadiyah ini sangat Pancasilais dan Nasionalis yang melarang anak muda melakukan kekerasan terhadap bung Karno dan bung Hatta pada 16 Agustus 1945,” tuturnya. 

Selain itu KH. Ahmad Dahlan telah mengajarkan kebhinnekaan sejak dini. Bahkan sekolah, rumah sakit Muhammadiyah waktu itu banyak yang merekrut guru dan pegawai non muslim. “Negara kalau ingin maju harus ada perubahan dan berkemajuan. Ini adalah tekad kita,” tandas Hariyono. 

BPIP mengajak Muhammadiyah untuk terus bersama-sama menggali dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila secara konsisten. “Pancasila sebagai alat pemersatu bisa mempertemukan semua elemen bangsa untuk  membangun bangsa yang maju melalui Islam berkemajuan,” jelas Hariyono.

Dia juga mengimbau jangan sekali-kali mendidik anak untuk benci kepada negara tanpa solusi yang konstruktif, karena tanpa pemerintahan tidak ada ketertiban. Konsekuensinya saat persatuan dan perdamaian terganggu semua warga negara juga terganggu dan tidak bisa maju. 

“Jangan didik anak-anak kita untuk benci kepada negaranya,” pesan Hariyono. 

Acara sarasehan dihadiri sejumlah Pimpinan dan Ormas Muhammadiyah wilayah Banten. Adapun narasumber Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Amirsyah Tambunan, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Lia Kian, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang Ahmad Amarullah, Direktur Pengkajian Materi BPIP Sabri dan Sekretaris PW Muhammadiyah Banten Zakaria Syafei.

Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP M. Akbar Hadi Prabowo dalam laporannya menyampaikan kegiatan hasil sinergi antara BPIP dengan PW Muhammadiyah Banten ini sudah melalui prosedur protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories