MS Glow: Tidak Benar Kami Meminta Uang Damai Pada Putra Siregar

Pernyataan Septi Siregar, istri bos PStore Putra Siregar soal MS Glow meminta uang damai Rp 60 miliar untuk menyelesaikan kasus sengketa merek, viral di media sosial.

Tim kuasa hukum MS Glow, Arman Haris membantah isu miring tersebut. Ia menjelaskan, ketika kasus sengketa merk antara MS Glow dan PS Glow mencuat, pihaknya memang pernah menghubungi PS Glow untuk melakukan konfirmasi. Namun tidak pernah membicarakan soal uang damai.

“Kami sempat lakukan somasi dan ada proses mediasi. Pada saat mediasi dengan pihak Putra Siregar, justru pihak merekalah yang menawarkan Rp 60 miliar tersebut untuk berdamai,” jelas Arman.

Ia pun mengklarifikasi pernyataan Septi yang menyebut bahwa merek MS Glow belum terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pada Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam komentarnya, Septi menyebut MS Glow hanya terdaftar di kelas 32 untuk minuman serbuk. Padahal, menurut Arman, MS Glow adalah merek dagang yang dimiliki Shandy Purnamasari dan telah terdaftar di Ditjen HAKI pada 20 September 2016 dengan nomor pendaftaran IDM000633038 untuk kelas barang atau jasa 3.

“Memang kami juga mendaftarkan merek untuk kelas 32 kategori minuman serbuk, karena MS Glow juga memiliki produk minuman serbuk dengan subbrand MS Slim,” ujar Arman.

Dia pun meminta semua pihak tidak menyebarkan opini terkait putusan Pengadilan Niaga Surabaya, soal permintaan penghentian produksi MS Glow. Lantaran hal itu tidak termuat dalam putusan majelis hakim. “Hal ini bisa dilihat dalam hasil putusan majelis hakim,” timpalnya.

 

Sengketa merek ini bermula pada 2020, ketika Putra Siregar dan istrinya meminta bertemu dengan Shandy Purnamasari dan Gilang Widya Pramana di Malang, Jawa Timur.

Saat itu Putra Siregar banyak bertanya tentang bisnis perawatan kulit yang dijalankan oleh Shandy dan Gilang mulai dari strategi bisnis, sistem produksi, dan pemasaran.

Pengusaha ponsel itu beralasan ingin membantu pemasaran dengan membuka cabang MS Glow di Batam, Kepulauan Riau.

Hingga satu tahun kemudian, pihak MS Glow mendapatkan informasi dari pabrik kemasan produk MS Glow, bahwa terdapat pihak yang mengatasnamakan Putra Siregar meminta dibuatkan kemasan produk kecantikan yang sama persis dengan kemasan MS Glow menggunakan merek PS Glow.

Pihak MS Glow mencoba mengonfirmasi dan mediasi hal tersebut kepada Putra Siregar, namun tidak dicapai kesepakatan atas sengketa merek ini hingga kasusnya bergulir di ranah hukum. ■

]]> Pernyataan Septi Siregar, istri bos PStore Putra Siregar soal MS Glow meminta uang damai Rp 60 miliar untuk menyelesaikan kasus sengketa merek, viral di media sosial.

Tim kuasa hukum MS Glow, Arman Haris membantah isu miring tersebut. Ia menjelaskan, ketika kasus sengketa merk antara MS Glow dan PS Glow mencuat, pihaknya memang pernah menghubungi PS Glow untuk melakukan konfirmasi. Namun tidak pernah membicarakan soal uang damai.

“Kami sempat lakukan somasi dan ada proses mediasi. Pada saat mediasi dengan pihak Putra Siregar, justru pihak merekalah yang menawarkan Rp 60 miliar tersebut untuk berdamai,” jelas Arman.

Ia pun mengklarifikasi pernyataan Septi yang menyebut bahwa merek MS Glow belum terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pada Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam komentarnya, Septi menyebut MS Glow hanya terdaftar di kelas 32 untuk minuman serbuk. Padahal, menurut Arman, MS Glow adalah merek dagang yang dimiliki Shandy Purnamasari dan telah terdaftar di Ditjen HAKI pada 20 September 2016 dengan nomor pendaftaran IDM000633038 untuk kelas barang atau jasa 3.

“Memang kami juga mendaftarkan merek untuk kelas 32 kategori minuman serbuk, karena MS Glow juga memiliki produk minuman serbuk dengan subbrand MS Slim,” ujar Arman.

Dia pun meminta semua pihak tidak menyebarkan opini terkait putusan Pengadilan Niaga Surabaya, soal permintaan penghentian produksi MS Glow. Lantaran hal itu tidak termuat dalam putusan majelis hakim. “Hal ini bisa dilihat dalam hasil putusan majelis hakim,” timpalnya.

 

Sengketa merek ini bermula pada 2020, ketika Putra Siregar dan istrinya meminta bertemu dengan Shandy Purnamasari dan Gilang Widya Pramana di Malang, Jawa Timur.

Saat itu Putra Siregar banyak bertanya tentang bisnis perawatan kulit yang dijalankan oleh Shandy dan Gilang mulai dari strategi bisnis, sistem produksi, dan pemasaran.

Pengusaha ponsel itu beralasan ingin membantu pemasaran dengan membuka cabang MS Glow di Batam, Kepulauan Riau.

Hingga satu tahun kemudian, pihak MS Glow mendapatkan informasi dari pabrik kemasan produk MS Glow, bahwa terdapat pihak yang mengatasnamakan Putra Siregar meminta dibuatkan kemasan produk kecantikan yang sama persis dengan kemasan MS Glow menggunakan merek PS Glow.

Pihak MS Glow mencoba mengonfirmasi dan mediasi hal tersebut kepada Putra Siregar, namun tidak dicapai kesepakatan atas sengketa merek ini hingga kasusnya bergulir di ranah hukum. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories