Modernisasi Senjata Jangan Omdo Bu Sri, Duitnya Ada?

Agar tragedi tenggelamnya Nanggala-402 tak terulang, banyak pihak mendesak pemerintah secepatnya melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Senjata-senjata yang sudah sepuh kandangin saja. Jangan juga beli yang bekas dan teknologinya kacangan. Persoalannya, apakah kocek negara tersedia? Gimana Bu Sri Mulyani, duitnya ada?

Modernisasi alutsista sebenarnya sudah disuarakan juga oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat menggelar jumpa pers terkait tenggelamnya Nanggala-402 di Bali, Kamis (22/4). Saat itu, Ketum Partai Gerindra ini mengatakan akan segera menyerahkan masterplan pertahanan Indonesia kepada Presiden Joko Widodo dalam 2 sampai 3 minggu ke depan. Masterplan ini untuk digunakan 25 tahun ke depan.

Masterplan ini telah disusun Prabowo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto selama kurang lebih satu tahun. Sejak tahun lalu, Jokowi telah memerintahkan Prabowo membuat strategi pertahanan Indonesia.

Prabowo mengakui, untuk modernisasi alutsista bukanlah perkara mudah. Setiap kepala negara, termasuk Presiden Jokowi berada di posisi dilema. Di satu sisi, Presiden ingin alutsista kuat, tapi di sisi lain program kesejahteraan juga harus dilakukan. Mengingat, untuk modernisasi alutsista ini, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Sementara saat ini pemerintah lagi direpotkan dengan pandemi Corona yang ikut menguras habis keuangan negara.

“Tapi, sekarang mendesak, kita harus modernisasi alutsista kita lebih cepat lagi dan kami yakin, saya yakin, bahwa dalam waktu dekat, kelengkapan kita bisa modernisasi untuk tiga matra, darat, laut dan udara,” kata Prabowo.

Lantas apakah negara ada duitnya? Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo memastikan, duit buat modernisasi alutsista ada. Tapi, ia mengaku tak tahu persis detail peruntukannnya ke mana aja. “Ya pastinya ada mas. Cuma saya belum lihat detailnya,” kata anak buah Menteri Keuangan Sri Mulyani itu, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah bilang anggaran yang diplot untuk Kementerian Pertahanan (Kemhan) tahun ini sebetulnya cukup besar. Mencapai Rp 137,3 triliun. “Kedua terbesar,” ucapnya, 29 September 2020 lalu.

Sebagaimana kementerian lain, akibat Covid-19, Kemhan juga terkena imbas refocusing anggaran. Sri Mul menyunatnya lagi sebesar Rp 6,28 triliun dari pagu anggaran Rp 137,3 triliun.

Juru Bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui, secara akumulatif, anggaran yang diplot untuk Kemhan memang lebih besar dari kementerian lain. Namun, asal tahu saja, duit sebanyak itu ternyata masih harus dibagi lagi untuk 5 Unit Organisasi (UO) yakni Kemhan, Mabes TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

 

“Jadi dari total anggaran 2021 kurang lebih 136 Triliun itu terbagi ke 5 Unit organisasi tersebut. Lebih dari 44 persennya sudah digunakan untuk belanja rutin prajurit dan pegawai,” kata Dahnil, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Lalu berapa sisa untuk modernisasi alutsista? “Kurang lebih sekitar 25 persen digunakan untuk belanja modal, termasuk dalam hal ini belanja alutsista,” sambungnya.

Jika dihitung, maka 25 persen dari Rp 136 triliun adalah sekitar Rp 34 triliun. Segitulah uang yang ada untuk modernisasi alutsista.

Kalau semuanya mau dipakai untuk beli kapal selam yang sejenis dengan KRI Nanggala-402, maka cuma dapat 6 kapal selam baru. Dimana saat ini harganya ditaksir 400 juta dolar AS per unit, atau setara Rp 5,7 triliun berdasarkan kurs dolar kemarin, Rp 14.465 per dolar AS. Belum lagi untuk pesawat tempur dan alutsista lainnya yang perunitnya bisa seharga ratusan juta dolar AS juga.

“Yang jelas, Pak Menteri Pertahanan dan TNI terus mencari skema terbaik untuk memperoleh alutsista yang terbaik di tengah keterbatasan anggaran yang kita miliki,” sambung Dahnil.

Apakah akan beli lagi alutsista bekas? Untuk yang satu ini, Dahnil menggeleng. “Pada saat ini, tidak ada pembelian alutsista bekas, tentu kita ingin membeli alutsista baru dan canggih,” tegasnya.

Melihat kondisi ini, Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon mengamini, anggaran yang diplot untuk sektor pertahanan masih jauh dari harapan. Hanya 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara jika merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang tercantum dalam UUNomor 15 tahun 2015 adalah 1,5 persen.

“Jadi kembali lagi ke political will presiden sebagai pemegang mandat. Mau dibawa ke level mana pertahanan kita. Setara dengan Australia, Korea Selatan atau setara dengan Timor Leste,” sambung Effendi kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [SAR]

]]> Agar tragedi tenggelamnya Nanggala-402 tak terulang, banyak pihak mendesak pemerintah secepatnya melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Senjata-senjata yang sudah sepuh kandangin saja. Jangan juga beli yang bekas dan teknologinya kacangan. Persoalannya, apakah kocek negara tersedia? Gimana Bu Sri Mulyani, duitnya ada?

Modernisasi alutsista sebenarnya sudah disuarakan juga oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat menggelar jumpa pers terkait tenggelamnya Nanggala-402 di Bali, Kamis (22/4). Saat itu, Ketum Partai Gerindra ini mengatakan akan segera menyerahkan masterplan pertahanan Indonesia kepada Presiden Joko Widodo dalam 2 sampai 3 minggu ke depan. Masterplan ini untuk digunakan 25 tahun ke depan.

Masterplan ini telah disusun Prabowo bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto selama kurang lebih satu tahun. Sejak tahun lalu, Jokowi telah memerintahkan Prabowo membuat strategi pertahanan Indonesia.

Prabowo mengakui, untuk modernisasi alutsista bukanlah perkara mudah. Setiap kepala negara, termasuk Presiden Jokowi berada di posisi dilema. Di satu sisi, Presiden ingin alutsista kuat, tapi di sisi lain program kesejahteraan juga harus dilakukan. Mengingat, untuk modernisasi alutsista ini, dana yang dibutuhkan tidak sedikit. Sementara saat ini pemerintah lagi direpotkan dengan pandemi Corona yang ikut menguras habis keuangan negara.

“Tapi, sekarang mendesak, kita harus modernisasi alutsista kita lebih cepat lagi dan kami yakin, saya yakin, bahwa dalam waktu dekat, kelengkapan kita bisa modernisasi untuk tiga matra, darat, laut dan udara,” kata Prabowo.

Lantas apakah negara ada duitnya? Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo memastikan, duit buat modernisasi alutsista ada. Tapi, ia mengaku tak tahu persis detail peruntukannnya ke mana aja. “Ya pastinya ada mas. Cuma saya belum lihat detailnya,” kata anak buah Menteri Keuangan Sri Mulyani itu, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah bilang anggaran yang diplot untuk Kementerian Pertahanan (Kemhan) tahun ini sebetulnya cukup besar. Mencapai Rp 137,3 triliun. “Kedua terbesar,” ucapnya, 29 September 2020 lalu.

Sebagaimana kementerian lain, akibat Covid-19, Kemhan juga terkena imbas refocusing anggaran. Sri Mul menyunatnya lagi sebesar Rp 6,28 triliun dari pagu anggaran Rp 137,3 triliun.

Juru Bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui, secara akumulatif, anggaran yang diplot untuk Kemhan memang lebih besar dari kementerian lain. Namun, asal tahu saja, duit sebanyak itu ternyata masih harus dibagi lagi untuk 5 Unit Organisasi (UO) yakni Kemhan, Mabes TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

 

“Jadi dari total anggaran 2021 kurang lebih 136 Triliun itu terbagi ke 5 Unit organisasi tersebut. Lebih dari 44 persennya sudah digunakan untuk belanja rutin prajurit dan pegawai,” kata Dahnil, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Lalu berapa sisa untuk modernisasi alutsista? “Kurang lebih sekitar 25 persen digunakan untuk belanja modal, termasuk dalam hal ini belanja alutsista,” sambungnya.

Jika dihitung, maka 25 persen dari Rp 136 triliun adalah sekitar Rp 34 triliun. Segitulah uang yang ada untuk modernisasi alutsista.

Kalau semuanya mau dipakai untuk beli kapal selam yang sejenis dengan KRI Nanggala-402, maka cuma dapat 6 kapal selam baru. Dimana saat ini harganya ditaksir 400 juta dolar AS per unit, atau setara Rp 5,7 triliun berdasarkan kurs dolar kemarin, Rp 14.465 per dolar AS. Belum lagi untuk pesawat tempur dan alutsista lainnya yang perunitnya bisa seharga ratusan juta dolar AS juga.

“Yang jelas, Pak Menteri Pertahanan dan TNI terus mencari skema terbaik untuk memperoleh alutsista yang terbaik di tengah keterbatasan anggaran yang kita miliki,” sambung Dahnil.

Apakah akan beli lagi alutsista bekas? Untuk yang satu ini, Dahnil menggeleng. “Pada saat ini, tidak ada pembelian alutsista bekas, tentu kita ingin membeli alutsista baru dan canggih,” tegasnya.

Melihat kondisi ini, Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon mengamini, anggaran yang diplot untuk sektor pertahanan masih jauh dari harapan. Hanya 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara jika merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang tercantum dalam UUNomor 15 tahun 2015 adalah 1,5 persen.

“Jadi kembali lagi ke political will presiden sebagai pemegang mandat. Mau dibawa ke level mana pertahanan kita. Setara dengan Australia, Korea Selatan atau setara dengan Timor Leste,” sambung Effendi kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories