Moderasi Beragama Perlu Diintegrasikan Dalam Kurikulum Pendidikan Nasional

Keberagaman menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak Ibu Pertiwi ini lahir. Itu telah diakui seluruh penjuru bumi. Bahkan, pluralisme tersebut telah membentuk kultur bangsa Indonesia yang toleran dan mencintai sesama. Namun, akhir-akhir ini, kerap dijumpai praktik-praktik intoleransi yang mencoreng nilai luhur dan kearifan lokal budaya bangsa ini.

Ketua Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah Mahmudi Affan Rangkuti menyayangkan fenomena yang kerap terjadi belakangan ini. Menurutnya, perlu ada penguatan nilai-nilai agama dan kebangsaan yang fundamental, khususnya dalam hal keberagaman, sejak dini, melalui aspek pendidikan dan moderasi beragama.

“Pendidikan dan moderasi beragama menjadi cara jitu untuk memupuk toleransi untuk persatuan negeri ini. Pendidikan dan moderasi beragama ini harus terus disampaikan ke masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan. Dengan begitu, toleransi akan bisa tumbuh dengan baik sehingga persatuan itu otomatis akan semakin erat,” kata Mahmudi Jakarta, Rabu (5/1).

Ia melanjutkan, hal tersebut perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengembalikan karakter luhur bangsa terkait hidup masyarakat bangsa secara bersama-sama dan saling berdampingan dalam bingkai toleransi yang ada di negeri ini. Sehingga, moderasi beragama perlu diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan nasional.

“Moderasi beragama perlu untuk menjadi mata ajar di sekolah-sekolah. Moderasi beragama memiliki banyak manfaat sebagai pengungkit sifat dan naluri kemanusiaan yang pada dasarnya sifat dan naluri manusia ini diciptakan untuk selalu mendambakan rasa cinta, kasih dan sayang. Ini perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama ini perlu diajarkan mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. “Sehingga setelah mereka itu selesai menempuh pendidikan, tinggal mempertebal atau memperdalam kembali toleransi dan moderasi beragama itu. Ini penting agar budaya-budaya luhur bangsa tidak hilang begitu saja akibat adanya budaya-budaya luar yang bisa merusak budaya yang dimiliki bangsa ini,” katanya.

Ia menilai, maraknya kasus dan praktik intoleransi di negeri ini beberapa tahun belakangan tidak lepas dari kurangnya rasa memahami arti nilai keluhuran atas rasa cinta dan kasih sayang. “Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna karena memiliki akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini semua berbasis cinta, kasih dan sayang, maka perbuatan kepada manusia lainnya juga semestinya atas nama tersebut. Ini yang mesti ditanamkan agar pemahaman itu semakin kuat,” ujarnya.

 

Mahmudi menjelaskan, dari sudut pandang ajaran Islam, sejatinya toleransi adalah keniscayaan. Buah dari nilai-nilai bahwa Islam adalah agama yang damai. Konsep rahmatal lil alamin. Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati bukan memaksa.

“Karena keragamaan umat manusia dalam beragama adalah kehendak Allah SWT. Menolak keragaman sama halnya menolak kehendak Allah SWT. Maka, titik temu dalam keragaman adalah toleransi dalam bentuk moderasi atau menjadi titik tengah. Tidak ke kiri dan juga tidak ke kanan,” ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI).

Mahmudi juga menyinggung mengenai peran tokoh agama, adat, dan masyarakat untuk bisa ikut terjun bersama mendorong moderasi beragama kepada umat atau pengikutnya. Ia meyakini, pelibatan dan kesadaran para tokoh mampu mempengaruhi percepatan untuk mewujudkan moderasi beragama secara menyeluruh disemua lapisan masyarakat.

“Saya pun yakin para pengikutnya dan simpatisannya itu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah dicontohkan para tokoh atau pemimpinnya mengenai betapa pentingnya saling bertoleransi antas sesama umat dan juga masyarakat lainnya,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) ini optimis, 2022 bisa menjadi tahun toleransi dan moderasi beragama. “Mewakili Al-Washliyah, kami pasti sangat optimis. Karena sesuatu yang baik sudah seharusnya dioptimiskan dalam memperkuat peradaban yang damai dan sejahtera. Sebagaimana tahun 2022, agenda kami berfokus pada, menyuarakan dakwah damai oleh seluruh Dai Al Washliyah,” tandas Mahmudi. [WUR]

]]> Keberagaman menjadi ciri khas bangsa Indonesia sejak Ibu Pertiwi ini lahir. Itu telah diakui seluruh penjuru bumi. Bahkan, pluralisme tersebut telah membentuk kultur bangsa Indonesia yang toleran dan mencintai sesama. Namun, akhir-akhir ini, kerap dijumpai praktik-praktik intoleransi yang mencoreng nilai luhur dan kearifan lokal budaya bangsa ini.

Ketua Pengurus Besar (PB) Al-Washliyah Mahmudi Affan Rangkuti menyayangkan fenomena yang kerap terjadi belakangan ini. Menurutnya, perlu ada penguatan nilai-nilai agama dan kebangsaan yang fundamental, khususnya dalam hal keberagaman, sejak dini, melalui aspek pendidikan dan moderasi beragama.

“Pendidikan dan moderasi beragama menjadi cara jitu untuk memupuk toleransi untuk persatuan negeri ini. Pendidikan dan moderasi beragama ini harus terus disampaikan ke masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan. Dengan begitu, toleransi akan bisa tumbuh dengan baik sehingga persatuan itu otomatis akan semakin erat,” kata Mahmudi Jakarta, Rabu (5/1).

Ia melanjutkan, hal tersebut perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengembalikan karakter luhur bangsa terkait hidup masyarakat bangsa secara bersama-sama dan saling berdampingan dalam bingkai toleransi yang ada di negeri ini. Sehingga, moderasi beragama perlu diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan nasional.

“Moderasi beragama perlu untuk menjadi mata ajar di sekolah-sekolah. Moderasi beragama memiliki banyak manfaat sebagai pengungkit sifat dan naluri kemanusiaan yang pada dasarnya sifat dan naluri manusia ini diciptakan untuk selalu mendambakan rasa cinta, kasih dan sayang. Ini perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama ini perlu diajarkan mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. “Sehingga setelah mereka itu selesai menempuh pendidikan, tinggal mempertebal atau memperdalam kembali toleransi dan moderasi beragama itu. Ini penting agar budaya-budaya luhur bangsa tidak hilang begitu saja akibat adanya budaya-budaya luar yang bisa merusak budaya yang dimiliki bangsa ini,” katanya.

Ia menilai, maraknya kasus dan praktik intoleransi di negeri ini beberapa tahun belakangan tidak lepas dari kurangnya rasa memahami arti nilai keluhuran atas rasa cinta dan kasih sayang. “Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna karena memiliki akal dan pikiran. Akal dan pikiran ini semua berbasis cinta, kasih dan sayang, maka perbuatan kepada manusia lainnya juga semestinya atas nama tersebut. Ini yang mesti ditanamkan agar pemahaman itu semakin kuat,” ujarnya.

 

Mahmudi menjelaskan, dari sudut pandang ajaran Islam, sejatinya toleransi adalah keniscayaan. Buah dari nilai-nilai bahwa Islam adalah agama yang damai. Konsep rahmatal lil alamin. Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati bukan memaksa.

“Karena keragamaan umat manusia dalam beragama adalah kehendak Allah SWT. Menolak keragaman sama halnya menolak kehendak Allah SWT. Maka, titik temu dalam keragaman adalah toleransi dalam bentuk moderasi atau menjadi titik tengah. Tidak ke kiri dan juga tidak ke kanan,” ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI).

Mahmudi juga menyinggung mengenai peran tokoh agama, adat, dan masyarakat untuk bisa ikut terjun bersama mendorong moderasi beragama kepada umat atau pengikutnya. Ia meyakini, pelibatan dan kesadaran para tokoh mampu mempengaruhi percepatan untuk mewujudkan moderasi beragama secara menyeluruh disemua lapisan masyarakat.

“Saya pun yakin para pengikutnya dan simpatisannya itu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang sudah dicontohkan para tokoh atau pemimpinnya mengenai betapa pentingnya saling bertoleransi antas sesama umat dan juga masyarakat lainnya,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI) ini optimis, 2022 bisa menjadi tahun toleransi dan moderasi beragama. “Mewakili Al-Washliyah, kami pasti sangat optimis. Karena sesuatu yang baik sudah seharusnya dioptimiskan dalam memperkuat peradaban yang damai dan sejahtera. Sebagaimana tahun 2022, agenda kami berfokus pada, menyuarakan dakwah damai oleh seluruh Dai Al Washliyah,” tandas Mahmudi. [WUR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories