Modal Nyapres Moeldoko Masih Tipis .

Jenderal (Purn) Moeldoko dihebohkan berambisi jadi Capres di 2024. Lalu, seberapa peluangnya? Ternyata masih tipis. Dari beberapa hasil survei, elektabilitas Kepala Staf Kepresidenan (KSP) itu, hanya nol koma dan berada di posisi paling buncit.

Nama Moeldoko dalam beberapa pekan terakhir memang lagi jadi pembicaraan. Dia dituding akan mendongkel Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY dari kursi ketua umum Partai Demokrat. Moedoko juga disebut-sebut ingin maju jadi Capres 2024.

Moeldoko memang sudah masuk dalam beberapa survei. Meski begitu, posisinya masih di urutan terbawah. Kalah jauh dari AHY yang selalu masuk enam besar.

Misalnya, hasil survei teranyar dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis Senin (22/2), elektabilitas Moeldoko hanya 0,0 persen. Setara dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Grace Natalie.

Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) juga menempatkan Moeldoko pada posisi buncit. Elektabilitas eks Panglima TNIitu hanya 0,2 persen. Survei tersebut dirilis Minggu (21/2). Hasil yang sama juga pada hasil survei Index Politica Indonesia. Elektabilitas Moeldoko hanya 0,8 persen.

Kenapa elektabilitas Moeldoko rendah? Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno mengatakan, karena popularitas rendah. Pasalnya orang tidak begitu kenal dia.

Menurut Adi, Moeldoko tidak bisa memanfaatkan jabatannya sebagai KSP. “Sekarang orang malah lebih mengenal Ali Ngabalin dari KSP. Dia lebih banyak tampil,” bebernya kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Apakah isu kudeta Partai Demokrat belum bisa menaikkan elektabilitas dia? Belum. Menurutnya, kudeta Partai Demokrat merupakan isu elit. Rakyat tidak merasakannya. “Isu rakyat itu ekonomi, vaksin, harga pangan,” ujarnya.

Menurut dia, Moeldoko kalah jauh dari AHY. Di setiap survei, posisi AHY stabil di posisi enam besar. Moeldoko juga kalah dari Gatot Nurmantyo. Elektabilitas Gatot di survei terakhir 3,4 persen.

“Moeldoko masih memiliki pekerjaan rumah cukup berat untuk mampu bersaing dengan kandidat lain,” ujarnya.

Apakah peluang Moeldoko sudah tertutup untuk jadi Capres? Adi mengatakan, belum. “Kalau ada partai yang mendukung kan bisa saja,” ujarnya, sambil tertawa.

Hal senada dikatakan Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. Dia menilai, kans Moeldoko sebagai capres masih sangat kecil. Aura dan magnet politiknya masih rendah, sehingga figurnya jauh tertinggal dari calon-calon yang ada saat ini.

Ada beberapa faktor penyebab Moeldoko belum juga muncul. Pertama, modal sosial. Eks Panglima TNI itu belum pernah ikut dalam kontestasi politik dan memegang posisi penting di partai politik.

 

“Berbeda dengan Prabowo yang sudah berkali-kali maju di Pilpres dan Ketua Umum partai. Begitu juga AHY yang pernah nyalon di Pilkada DKI dan Ketua Umum partai,” katanya.

Faktor lainnya, kata Karyono, posisi Moeldoko yang saat ini menjadi KSP juga membelenggunya masuk di kancah politik. Berbeda dengan Menteri Sosial (Mensos) yang bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Meski begitu, Karyono menilai, bukan berarti peluang Moeldoko di kontestasi pilpres 2024 tertutup. Masih banyak waktu untuk mendongkrak elektabilitasnya.

“Selama dia memiliki strategi dan tim yang hebat,” cetusnya.

Lantas bagaimana tanggapan orang dekat Moeldoko? Darmizal mengaku, tidak khawatir dengan sejumlah survei saat ini. Dia malah mengapresiasi munculnya nama Moeldoko di beberapa hasil survei.

“Sebab, sampai saat ini Pak Moeldoko sama sekali belum berniat dan melangkah untuk menjadi capres. Tapi, ternyata masyarakat sudah ada yang menghendakinya,” kata Darmizal kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan dalam keterpilihan itu bukan tingginya elektabilitas saat ini. Tapi yang terpenting adalah trennya, dari nothing menjadi something.

Menurutnya, sosok Moeldoko yang humble, mudah bergaul dan mendengar menjadi modal politik yang kuat. “Rumahnya bisa kapan saja diketok untuk ditemui. Itu modal kuat bagi seorang pemimpin,” katanya.

Sebelumnya, Moeldoko membantah ingin menjadi capres di Pilpres 2024. Dia mengaku tidak pernah memikirkan hal itu. Saat ini dia hanya sibuk dengan tugas sebagai KSP. “Kerjaan gue setumpuk gini, (masa) ngurusi yang enggak-enggak saja,” ujar Moeldoko, Rabu (3/2).

Warganet ikutan berkomentar. @YanHarahap mendorong Moeldoko untuk bikin partai sendiri jika ingin maju jadi Capres. “Pak Moel, peringkat masih buncit. Segera bikin Partai Politik sendiri. Mumpung masih ada waktu. Ingat! Bikin Parpol sendiri!,” ujarnya.

Sementara akun @ArdianZA__ mengatakan masuknya nama Moeldoko dalam survei Capres akan membuat AHY pusing. “Melihat fakta ini. Anak Pepo akan makin gelisah dan galau,” ujarnya.

Akun @SobatNKRImengatakan, Isu kudeta Partai Demokrat terhadap Moeldoko membuat blunder. “Moeldoko mendapatkan berkah dari isu kudeta dan dukungan moril dan simpati dari masyarakat,” cuitnya. [QAR]

]]> .
Jenderal (Purn) Moeldoko dihebohkan berambisi jadi Capres di 2024. Lalu, seberapa peluangnya? Ternyata masih tipis. Dari beberapa hasil survei, elektabilitas Kepala Staf Kepresidenan (KSP) itu, hanya nol koma dan berada di posisi paling buncit.

Nama Moeldoko dalam beberapa pekan terakhir memang lagi jadi pembicaraan. Dia dituding akan mendongkel Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY dari kursi ketua umum Partai Demokrat. Moedoko juga disebut-sebut ingin maju jadi Capres 2024.

Moeldoko memang sudah masuk dalam beberapa survei. Meski begitu, posisinya masih di urutan terbawah. Kalah jauh dari AHY yang selalu masuk enam besar.

Misalnya, hasil survei teranyar dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis Senin (22/2), elektabilitas Moeldoko hanya 0,0 persen. Setara dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Grace Natalie.

Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) juga menempatkan Moeldoko pada posisi buncit. Elektabilitas eks Panglima TNIitu hanya 0,2 persen. Survei tersebut dirilis Minggu (21/2). Hasil yang sama juga pada hasil survei Index Politica Indonesia. Elektabilitas Moeldoko hanya 0,8 persen.

Kenapa elektabilitas Moeldoko rendah? Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno mengatakan, karena popularitas rendah. Pasalnya orang tidak begitu kenal dia.

Menurut Adi, Moeldoko tidak bisa memanfaatkan jabatannya sebagai KSP. “Sekarang orang malah lebih mengenal Ali Ngabalin dari KSP. Dia lebih banyak tampil,” bebernya kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Apakah isu kudeta Partai Demokrat belum bisa menaikkan elektabilitas dia? Belum. Menurutnya, kudeta Partai Demokrat merupakan isu elit. Rakyat tidak merasakannya. “Isu rakyat itu ekonomi, vaksin, harga pangan,” ujarnya.

Menurut dia, Moeldoko kalah jauh dari AHY. Di setiap survei, posisi AHY stabil di posisi enam besar. Moeldoko juga kalah dari Gatot Nurmantyo. Elektabilitas Gatot di survei terakhir 3,4 persen.

“Moeldoko masih memiliki pekerjaan rumah cukup berat untuk mampu bersaing dengan kandidat lain,” ujarnya.

Apakah peluang Moeldoko sudah tertutup untuk jadi Capres? Adi mengatakan, belum. “Kalau ada partai yang mendukung kan bisa saja,” ujarnya, sambil tertawa.

Hal senada dikatakan Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. Dia menilai, kans Moeldoko sebagai capres masih sangat kecil. Aura dan magnet politiknya masih rendah, sehingga figurnya jauh tertinggal dari calon-calon yang ada saat ini.

Ada beberapa faktor penyebab Moeldoko belum juga muncul. Pertama, modal sosial. Eks Panglima TNI itu belum pernah ikut dalam kontestasi politik dan memegang posisi penting di partai politik.

 

“Berbeda dengan Prabowo yang sudah berkali-kali maju di Pilpres dan Ketua Umum partai. Begitu juga AHY yang pernah nyalon di Pilkada DKI dan Ketua Umum partai,” katanya.

Faktor lainnya, kata Karyono, posisi Moeldoko yang saat ini menjadi KSP juga membelenggunya masuk di kancah politik. Berbeda dengan Menteri Sosial (Mensos) yang bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Meski begitu, Karyono menilai, bukan berarti peluang Moeldoko di kontestasi pilpres 2024 tertutup. Masih banyak waktu untuk mendongkrak elektabilitasnya.

“Selama dia memiliki strategi dan tim yang hebat,” cetusnya.

Lantas bagaimana tanggapan orang dekat Moeldoko? Darmizal mengaku, tidak khawatir dengan sejumlah survei saat ini. Dia malah mengapresiasi munculnya nama Moeldoko di beberapa hasil survei.

“Sebab, sampai saat ini Pak Moeldoko sama sekali belum berniat dan melangkah untuk menjadi capres. Tapi, ternyata masyarakat sudah ada yang menghendakinya,” kata Darmizal kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan dalam keterpilihan itu bukan tingginya elektabilitas saat ini. Tapi yang terpenting adalah trennya, dari nothing menjadi something.

Menurutnya, sosok Moeldoko yang humble, mudah bergaul dan mendengar menjadi modal politik yang kuat. “Rumahnya bisa kapan saja diketok untuk ditemui. Itu modal kuat bagi seorang pemimpin,” katanya.

Sebelumnya, Moeldoko membantah ingin menjadi capres di Pilpres 2024. Dia mengaku tidak pernah memikirkan hal itu. Saat ini dia hanya sibuk dengan tugas sebagai KSP. “Kerjaan gue setumpuk gini, (masa) ngurusi yang enggak-enggak saja,” ujar Moeldoko, Rabu (3/2).

Warganet ikutan berkomentar. @YanHarahap mendorong Moeldoko untuk bikin partai sendiri jika ingin maju jadi Capres. “Pak Moel, peringkat masih buncit. Segera bikin Partai Politik sendiri. Mumpung masih ada waktu. Ingat! Bikin Parpol sendiri!,” ujarnya.

Sementara akun @ArdianZA__ mengatakan masuknya nama Moeldoko dalam survei Capres akan membuat AHY pusing. “Melihat fakta ini. Anak Pepo akan makin gelisah dan galau,” ujarnya.

Akun @SobatNKRImengatakan, Isu kudeta Partai Demokrat terhadap Moeldoko membuat blunder. “Moeldoko mendapatkan berkah dari isu kudeta dan dukungan moril dan simpati dari masyarakat,” cuitnya. [QAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories