Mitigasi Bencana Antaboga .

Air mata kita belum kering dengan musibah banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi dan Lindu datang mengguncang wilayah Malang dan Sangihe Sulawesi Utara. Para relawan masih kesulitan mendistribusikan bantuan kepada saudara-saudara kita di ujung timur Pulau Flores. Hal ini dikarenakan medan susah dijangkau, baik melalui transportasi darat maupun laut. Ancaman nyata dari pemanasan global menyemai datangnya badai Siklon Seroja. Wilayah Indonesia timur yang selama ini dikenal daerah kekurangan air justru diterjang banjir bandang. Kerusakan hutan dan ekosistem hulu sedikit banyak ikut memberikan andil terjadinya banjir dan tanah longsor.

“Bangsa ini sedang diuji dengan berbagai bencana alam dan non alam termasuk pendemi Covid -19 yang belum tuntas, Mo,” celetuk Petruk sedih. Romo Semar menarik napas panjang. Matanya nanar memandang dengan tatapan kosong. Romo Semar heran dengan perilaku para elite bukannya berempati kepada para korban, malah sibuk mematut diri menjadi “ratu adil” tahun 2024 mendatang. Krisis dan bencana memerlukan ratu adil bukan “ratu pingin”. Kopi pahit dan ubi rebus dibiarkan dingin. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman goro-goro di khayangan Saptapretala.

Kocap kacarito, Antaboga seorang dewa yang bersemayam di bawah bumi lapisan ketujuh atau disebut juga khayangan Saptapretala. Konon Antaboga sebelum menjadi dewa adalah seekor naga besar dengan nama Nagasena. Atas jasa-jasanya kepada para dewa, Nagasena diangkat menjadi dewa dan diberi tugas menjaga ketenteraman dasar bumi. Selain itu Nagasena diberi aji Kawastrawan oleh Bethara Guru. Kesaktian aji Kawastrawan dapat memgubah wujud dari seekor naga menjadi manusia.

Perkawinan Dewa Antaboga dengan Dewi Supertah anak Dewa Ismaya melahirkan Dewi Nagagini dan Bambang Ngatatmala. Dewi Nagagini diperistri Bima atau Werkudara lalu kemudian berputra Raden Antareja.

Pada suatu hari khayangan Saptapretala terjadi goro-goro. Dewa Antaboga menelan Cupu Lingga Manik dan tersangkut di tenggorokan. Akibatnya fatal, Antaboga berubah wujud menjadi naga besar. Karena menahan sakit yang luar biasa, ekor naga mobat mabit menghancurkan lempengan dasar bumi. Terjadilah lindu dan gempa bumi mengakibatkan air samudera meluap ke daratan. Terjadilah banjir bandang di mana-mana.

Dewa Narada turun ke dasar bumi untuk membantu Antaboga. Cupu Lingga Manik berhasil dikeluarkan dari tenggorokan. Akan tetapi terjadi keanehan. Begitu Cupu dikeluarkan berubah wujud seorang wanita cantik jelita. Wanita jadi-jadian tersebut dibawa Narada untuk menghadap Bethara Guru. Melihat kecantikan sang dewi, Bethara Guru berniat untuk mempersuntingnya. Namun ditolak dengan halus karena tidak sepantasnya Bethara Guru jatuh hati kepadanya. Bethara Guru murka dan marah cintanya ditolak. Wanita tersebut dikutuk turun ke bumi dan diberi nama Dewi Wulangsih. Karena Dewi Wulangsih sebagai penyebab terjadinya bencana di dasar bumi. Maka oleh Bethara Guru Dewi Wulangsih diberi tugas untuk menyelamatkan rakyat dari bencana alam yang terjadi di mayapada.

“Dewi Wulangsih diberi tugas menjaga bencana alam, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Kita harus mulai berteman dengan bencana alam. Penanganan korban bencana alam tidak bisa setengah hati. Karena kerusakan dan pembangunan kembali akibat bencana alam memerlukan biaya besar,” papar Romo Semar. “Setidaknya ada tiga hal pokok untuk memitigasi resiko bencana alam. Yaitu pemahaman terhadap bencana itu sendiri, manajemen bencana dan kepemimpinan yang solid,” sambung Romo Semar. Oye

]]> .
Air mata kita belum kering dengan musibah banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi dan Lindu datang mengguncang wilayah Malang dan Sangihe Sulawesi Utara. Para relawan masih kesulitan mendistribusikan bantuan kepada saudara-saudara kita di ujung timur Pulau Flores. Hal ini dikarenakan medan susah dijangkau, baik melalui transportasi darat maupun laut. Ancaman nyata dari pemanasan global menyemai datangnya badai Siklon Seroja. Wilayah Indonesia timur yang selama ini dikenal daerah kekurangan air justru diterjang banjir bandang. Kerusakan hutan dan ekosistem hulu sedikit banyak ikut memberikan andil terjadinya banjir dan tanah longsor.

“Bangsa ini sedang diuji dengan berbagai bencana alam dan non alam termasuk pendemi Covid -19 yang belum tuntas, Mo,” celetuk Petruk sedih. Romo Semar menarik napas panjang. Matanya nanar memandang dengan tatapan kosong. Romo Semar heran dengan perilaku para elite bukannya berempati kepada para korban, malah sibuk mematut diri menjadi “ratu adil” tahun 2024 mendatang. Krisis dan bencana memerlukan ratu adil bukan “ratu pingin”. Kopi pahit dan ubi rebus dibiarkan dingin. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman goro-goro di khayangan Saptapretala.

Kocap kacarito, Antaboga seorang dewa yang bersemayam di bawah bumi lapisan ketujuh atau disebut juga khayangan Saptapretala. Konon Antaboga sebelum menjadi dewa adalah seekor naga besar dengan nama Nagasena. Atas jasa-jasanya kepada para dewa, Nagasena diangkat menjadi dewa dan diberi tugas menjaga ketenteraman dasar bumi. Selain itu Nagasena diberi aji Kawastrawan oleh Bethara Guru. Kesaktian aji Kawastrawan dapat memgubah wujud dari seekor naga menjadi manusia.

Perkawinan Dewa Antaboga dengan Dewi Supertah anak Dewa Ismaya melahirkan Dewi Nagagini dan Bambang Ngatatmala. Dewi Nagagini diperistri Bima atau Werkudara lalu kemudian berputra Raden Antareja.

Pada suatu hari khayangan Saptapretala terjadi goro-goro. Dewa Antaboga menelan Cupu Lingga Manik dan tersangkut di tenggorokan. Akibatnya fatal, Antaboga berubah wujud menjadi naga besar. Karena menahan sakit yang luar biasa, ekor naga mobat mabit menghancurkan lempengan dasar bumi. Terjadilah lindu dan gempa bumi mengakibatkan air samudera meluap ke daratan. Terjadilah banjir bandang di mana-mana.

Dewa Narada turun ke dasar bumi untuk membantu Antaboga. Cupu Lingga Manik berhasil dikeluarkan dari tenggorokan. Akan tetapi terjadi keanehan. Begitu Cupu dikeluarkan berubah wujud seorang wanita cantik jelita. Wanita jadi-jadian tersebut dibawa Narada untuk menghadap Bethara Guru. Melihat kecantikan sang dewi, Bethara Guru berniat untuk mempersuntingnya. Namun ditolak dengan halus karena tidak sepantasnya Bethara Guru jatuh hati kepadanya. Bethara Guru murka dan marah cintanya ditolak. Wanita tersebut dikutuk turun ke bumi dan diberi nama Dewi Wulangsih. Karena Dewi Wulangsih sebagai penyebab terjadinya bencana di dasar bumi. Maka oleh Bethara Guru Dewi Wulangsih diberi tugas untuk menyelamatkan rakyat dari bencana alam yang terjadi di mayapada.

“Dewi Wulangsih diberi tugas menjaga bencana alam, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Kita harus mulai berteman dengan bencana alam. Penanganan korban bencana alam tidak bisa setengah hati. Karena kerusakan dan pembangunan kembali akibat bencana alam memerlukan biaya besar,” papar Romo Semar. “Setidaknya ada tiga hal pokok untuk memitigasi resiko bencana alam. Yaitu pemahaman terhadap bencana itu sendiri, manajemen bencana dan kepemimpinan yang solid,” sambung Romo Semar. Oye
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories