Miliarder Naik Jadi 172 Ribu Orang Yang Kaya Makin Kaya, Yang Kere Makin Kere .

Selama pandemi Corona, nasib bak langit dan bumi dirasakan orang kaya dan orang kere. Orang kaya tambah kaya. Orang kere semakin kere.

Ini bukan hoaks. Tapi, fakta yang kaya semakin kaya itu, terungkap dalam Laporan Credit Suisse bertema “Global Wealth Databook 2021”. Di sana disebutkan, jumlah orang kaya Indonesia sepanjang 2020 meningkat. Pertama, orang yang memiliki kekayaan bersih sekitar 1-5 juta dolar AS atau Rp 14,4-72 miliar mencapai 150.678 orang. Kedua, yang memiliki harta 5-10 juta dolar AS atau Rp 72-144 miliar tembus 12.403 orang.

Ketiga, orang yang memiliki kekayaan bersih di rentang 10-50 juta dolar AS atau Rp 144-720 miliar sebanyak 7.616 orang. Keempat, yang punya harta 50-100 juta atau Rp 720 miliar sampai Rp 1,44 triliun bertambah 626 orang. Kelima, yang memiliki kekayaan bersih sekitar 100-500 juta dolar AS atau Rp 1,44-7,2 triliun sebanyak 367 orang. Keenam, terdapat 50 orang di Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih dari 500 juta dolar AS atau Rp 7,2 triliun.

Jika dijumlah, hampir mencapai 172 ribu orang. Angka ini bertambah dari tahun 2019 yang hanya 106 ribu orang.

Ekonom senior Faisal Basri sampai terheran-heran dengan laporan ini. Kok bisa, saat ekonomi merosot, jumlah yang kaya justru melesat. “Pandemi mengakibatkan perekonomian Indonesia merosot (kontraksi). Namun, jumlah orang dewasa dengan kekayaan di atas 1 juta dolar AS naik tajam sebesar 61,7 persen, dari 106.215 orang tahun 2019 menjadi 171.740 orang,” katanya, melalui akun @FaisalBasri.

Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef, Mirah Midadan mengatakan, pandemi membuat ketimpangan semakin melebar. Beberapa di antaranya mencakup aspek kemiskinan dan pengangguran.

Saat pandemi, penduduk miskin di perkotaan cenderung meningkat. Pada 2020 saja, peningkatannya mencapai 10 persen. “Hal ini memiliki keterkaitan dengan banyaknya PHK belakangan ini,” beber Mirah.

 

Bicara kemiskinan, memang tidak lepas dari angka pengangguran. Merujuk data Badan Pusat Statistik, pada 2020, DKI Jakarta menempati posisi pertama sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi. Disusul Banten dan Jawa Barat.

“Karena di daerah-daerah itu merupakan kawasan industri, tempat pertumbuhan ekonomi kita. Berarti, dampak efek pandemi benar terasa di tiga daerah ini. Banyaknya angka PHK membuat angka pengangguran naik,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, Sabtu (27/3), ada 29,4 juta orang terdampak pandemi. Jumlah itu termasuk mereka yang terkena PHK, dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.

Laporan BPS per September 2020, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta jiwa. Jumlah tersebut mengakibatkan tingkat kemiskinan RI kembali menembus dua digit di angka 10,19 persen dari total populasi.

Jumlah penduduk miskin pada September bertambah 1,13 juta dibandingkan dengan Maret 2020. Jika dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin naik 2,76 juta orang. Kenaikan jumlah penduduk miskin di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Jika dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 1,32 persen sedangkan di perdesaan naik 0,60 persen.

Lantas, kenapa yang kaya makin kaya, yang bokek makin cekak? Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menganalisis, ada tiga faktor yang membuat 172 ribu orang Indonesia tambah kaya. Pertama, mereka punya kemampuan mengatur penurunan nilai aset. Kedua, banyak orang kaya muncul dari sektor komoditas yang harganya naik selama pandemi. Ketiga, mereka yang tambah kaya karena menikmati insentif perpajakan.

“Orang kaya itu banyak menikmati insentif perpajakan dari pemerintah. Banyak belanja pajak yang justru dinikmati orang kaya. Mungkin itu salah satu faktor juga. Membuat jumlah orang kaya meningkat,” ulas Bhima. [MEN]

]]> .
Selama pandemi Corona, nasib bak langit dan bumi dirasakan orang kaya dan orang kere. Orang kaya tambah kaya. Orang kere semakin kere.
Ini bukan hoaks. Tapi, fakta yang kaya semakin kaya itu, terungkap dalam Laporan Credit Suisse bertema “Global Wealth Databook 2021”. Di sana disebutkan, jumlah orang kaya Indonesia sepanjang 2020 meningkat. Pertama, orang yang memiliki kekayaan bersih sekitar 1-5 juta dolar AS atau Rp 14,4-72 miliar mencapai 150.678 orang. Kedua, yang memiliki harta 5-10 juta dolar AS atau Rp 72-144 miliar tembus 12.403 orang.
Ketiga, orang yang memiliki kekayaan bersih di rentang 10-50 juta dolar AS atau Rp 144-720 miliar sebanyak 7.616 orang. Keempat, yang punya harta 50-100 juta atau Rp 720 miliar sampai Rp 1,44 triliun bertambah 626 orang. Kelima, yang memiliki kekayaan bersih sekitar 100-500 juta dolar AS atau Rp 1,44-7,2 triliun sebanyak 367 orang. Keenam, terdapat 50 orang di Indonesia yang memiliki kekayaan bersih lebih dari 500 juta dolar AS atau Rp 7,2 triliun.
Jika dijumlah, hampir mencapai 172 ribu orang. Angka ini bertambah dari tahun 2019 yang hanya 106 ribu orang.
Ekonom senior Faisal Basri sampai terheran-heran dengan laporan ini. Kok bisa, saat ekonomi merosot, jumlah yang kaya justru melesat. “Pandemi mengakibatkan perekonomian Indonesia merosot (kontraksi). Namun, jumlah orang dewasa dengan kekayaan di atas 1 juta dolar AS naik tajam sebesar 61,7 persen, dari 106.215 orang tahun 2019 menjadi 171.740 orang,” katanya, melalui akun @FaisalBasri.
Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef, Mirah Midadan mengatakan, pandemi membuat ketimpangan semakin melebar. Beberapa di antaranya mencakup aspek kemiskinan dan pengangguran.
Saat pandemi, penduduk miskin di perkotaan cenderung meningkat. Pada 2020 saja, peningkatannya mencapai 10 persen. “Hal ini memiliki keterkaitan dengan banyaknya PHK belakangan ini,” beber Mirah.

 

Bicara kemiskinan, memang tidak lepas dari angka pengangguran. Merujuk data Badan Pusat Statistik, pada 2020, DKI Jakarta menempati posisi pertama sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi. Disusul Banten dan Jawa Barat.
“Karena di daerah-daerah itu merupakan kawasan industri, tempat pertumbuhan ekonomi kita. Berarti, dampak efek pandemi benar terasa di tiga daerah ini. Banyaknya angka PHK membuat angka pengangguran naik,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, Sabtu (27/3), ada 29,4 juta orang terdampak pandemi. Jumlah itu termasuk mereka yang terkena PHK, dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.
Laporan BPS per September 2020, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta jiwa. Jumlah tersebut mengakibatkan tingkat kemiskinan RI kembali menembus dua digit di angka 10,19 persen dari total populasi.
Jumlah penduduk miskin pada September bertambah 1,13 juta dibandingkan dengan Maret 2020. Jika dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin naik 2,76 juta orang. Kenaikan jumlah penduduk miskin di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Jika dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 1,32 persen sedangkan di perdesaan naik 0,60 persen.
Lantas, kenapa yang kaya makin kaya, yang bokek makin cekak? Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menganalisis, ada tiga faktor yang membuat 172 ribu orang Indonesia tambah kaya. Pertama, mereka punya kemampuan mengatur penurunan nilai aset. Kedua, banyak orang kaya muncul dari sektor komoditas yang harganya naik selama pandemi. Ketiga, mereka yang tambah kaya karena menikmati insentif perpajakan.
“Orang kaya itu banyak menikmati insentif perpajakan dari pemerintah. Banyak belanja pajak yang justru dinikmati orang kaya. Mungkin itu salah satu faktor juga. Membuat jumlah orang kaya meningkat,” ulas Bhima. [MEN]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories