Menkes Terjun Ke Kudus “Semua Dokter Kelelahan, Capeknya Minta Ampun”

Melonjaknya pasien yang terpapar Corona di Kudus membuat para dokter kewalahan dan kelelahan. Akibatnya, banyak dokter yang juga ikut terpapar. Agar Corona di Kudus bisa segera dijinakkan, kemarin, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terjun langsung ke Kota Kretek tersebut.

Lonjakan kasus positif Corona di Kudus memang memprihatinkan. Hanya dalam sepekan, kasus Corona meningkat 30 kali lipat. Dari 26 kasus menjadi 929 kasus.

Lonjakan kasus tersebut membuat rumah sakit kewalahan merawat pasien. Ruang ICU penuh, sementara pasien terus berdarangan. Sebagian pasien terpaksa dirawat di bangku-bangku, sebagian lagi dirujuk daerah lain.

Yang lebih mencemaskan, banyak tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat, yang terpapar virus asal China itu. Sampai Jumat lalu, ada 358 nakes yang terinfeksi Corona. Akibatnya, pelayanan pasien Corona di Puskesmas dan rumah sakit, ikut terganggu.

Melihat kondisi ini, BGS-sapaan Menkes Budi Gunadi Sadikin- langsung terjun ke Kudus. Tiba di Kudus, dia langsung mendatangi sejumlah rumah sakit dan Puskesmas. Puskesmas Jati, salah satu Puskesmas yang dikunjungi BGS. Bupati Kudus, Hartopo ikut mendampingi BGS.

Usai berkeliling, BGS langsung membuat keputusan dan memberikan bantuan agar makin banyak pasien Corona yang bisa dirawat. Apa saja bantuannya? Dia bilang, akan segera menambah 38 dokter dan 70 perawat untuk menggantikan tenaga kesehatan yang saat ini sedang menjalani isolasi mandiri karena kena Corona.

Selain itu, BGS juga memberikan 50 ribu alat tes cepat antigen dan 30 ventilator. Harapannya, alat ini bisa digunakan untuk melakukan penelusuran kontak erat dan merawat pasien yang kritis. Selain itu, eks bos Bank Mandiri ini juga memberikan tambahan 50 ribu dosis vaksis untuk mempercepat pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok. Kemudian, BGS juga mengirim mobil PCR dari Yogya.

“Saya minta tracing dan testing ditingkatkan. Dengan cara-cara ini, Insya Allah bisa dikendalikan,” ujar BGS.

Selesai dari Kudus, BGS tak langsung pulang ke Jakarta. Ia lebih dulu melipir ke Semarang, menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam pertemuan sekitar satu jam itu, BGS meminta bantuan kepada Ganjar untuk ikut menyelesaikan amukan Corona di Kudus.

“Beliau kan pembina, jadi bisa mendukung Bupati Kudus kalau tekanannya terlalu banyak. Kadang-kadang, Bupati pusing mesti ngapain, tapi kalau ada kakaknya, maka dia tenang. Sebagai kakak, Pak Gubernur bisa membantu backup,” kata BGS.

Lalu apa tanggapan Ganjar? Politisi PDIP itu mengaku siap membantu. Kata dia, selama ini Pemprov Jateng sudah menerjunkan banyak orang ke Kudus untuk membantu penanganan Corona. TNI dan Polri juga sudah mengerahkan personel untuk membantu.

 

Ganjar juga mengungkapkan, beberapa daerah bersedia membantu penanganan Corona di Kudus. Mulai dari fasilitas kesehatan hingga tenaga kesehatan. Kota Semarang sudah menyiapkan ambulans hingga rumah sakit. RSUD milik Pemprov Jateng seperti RS Tugurejo Semarang juga sudah bersiap. Dokter penyakit dalam dan dokter umum dari RSUD Moewardi Solo juga dikirimkan untuk membantu.

Secara politik, lanjut dia, sudah menjadi tugasnya untuk melakukan pembinaan pada Bupati Kudus. Karena itu, ia minta Bupati Kudus tidak perlu ragu meminta bantuan. “Kalau harus melakukan tindakan tertentu, lakukan saja, kalau ada kompetensi yang kurang, segera cari agar keputusan bisa cepat dan semua berjalan,” kata Ganjar.

Dia juga mendukung kebijakan Bupati Kudus yang menerapkan dua hari saja mulai kemarin sampai hari ini. Ganjar meminta, masyarakat Kudus mendukung penuh kebijakan tersebut dengan tidak keluar rumah selama dua hari.

IDI Bicara Corona Di Kudus

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ahmad Ipul mengungkapkan, lonjakan kasus Corona yang dialami tenaga medis di Kudus salah satu penyebabnya faktor kelelahan. Sampai Jumat lalu, tercatat ada 33 dokter yang terjangkit Corona bersama ratusan tenaga kesehatan lainnya.

Menurut Ahmad, pasien Corona di Kudus memang melonjak tajam, sampai-sampai over load alias kelebihan beban. Pasien yang datang terus menerus ini mengakibatkan dokter keletihan dan akhirnya terpapar.

“Kebanyakan dokter merasa kelelahan. Beberapa dokter IGD dengan jumlah pasien segitu, mereka capeknya minta ampun, sehingga akhirnya terpapar,” kata Ahmad, kemarin.

Saat kelelahan itu, ia menduga, para dokter menjadi lalai dalam menerapkan protokol kesehatan atau pemakaian alat pelindung diri (APD), sehingga potensi terpapar menjadi lebih tinggi. Untuk sementara ini, para dokter yang terjangkit Corona dalam keadaan baik dan hanya perlu menjalani isolasi mandiri. Hanya sebagian kecil yang memiliki gejala ringan.

Bagaimana tanggapan epidemiolog?

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, lonjakan kasus yang terjadi di Kudus ini antara lain karena lemahnya sistem surveilans, baik itu testing maupun tracing atau pelacakan di daerah. Akibatnya tidak cepat dalam mendeteksi pasien Corona.

Menurut dia, Rasio lacak isolasi (RLI) Indonesia masih 1,1 poin. Level tersebut di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menerapkan 30 orang terlacak per 1 kasus Corona.

Jika testing, tracing, dan treatment (3T) tak diperbaiki, kata dia, ledakan kasus di Kudus bisa terjadi di daerah lain. “Kalau sudah meledak, orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan akan semakin bertambah banyak dan bisa membuat fasilitas pelayanan kesehatan kewalahan,” kata Tri, tadi malam. [BCG]

]]> Melonjaknya pasien yang terpapar Corona di Kudus membuat para dokter kewalahan dan kelelahan. Akibatnya, banyak dokter yang juga ikut terpapar. Agar Corona di Kudus bisa segera dijinakkan, kemarin, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terjun langsung ke Kota Kretek tersebut.

Lonjakan kasus positif Corona di Kudus memang memprihatinkan. Hanya dalam sepekan, kasus Corona meningkat 30 kali lipat. Dari 26 kasus menjadi 929 kasus.

Lonjakan kasus tersebut membuat rumah sakit kewalahan merawat pasien. Ruang ICU penuh, sementara pasien terus berdarangan. Sebagian pasien terpaksa dirawat di bangku-bangku, sebagian lagi dirujuk daerah lain.

Yang lebih mencemaskan, banyak tenaga kesehatan baik dokter maupun perawat, yang terpapar virus asal China itu. Sampai Jumat lalu, ada 358 nakes yang terinfeksi Corona. Akibatnya, pelayanan pasien Corona di Puskesmas dan rumah sakit, ikut terganggu.

Melihat kondisi ini, BGS-sapaan Menkes Budi Gunadi Sadikin- langsung terjun ke Kudus. Tiba di Kudus, dia langsung mendatangi sejumlah rumah sakit dan Puskesmas. Puskesmas Jati, salah satu Puskesmas yang dikunjungi BGS. Bupati Kudus, Hartopo ikut mendampingi BGS.

Usai berkeliling, BGS langsung membuat keputusan dan memberikan bantuan agar makin banyak pasien Corona yang bisa dirawat. Apa saja bantuannya? Dia bilang, akan segera menambah 38 dokter dan 70 perawat untuk menggantikan tenaga kesehatan yang saat ini sedang menjalani isolasi mandiri karena kena Corona.

Selain itu, BGS juga memberikan 50 ribu alat tes cepat antigen dan 30 ventilator. Harapannya, alat ini bisa digunakan untuk melakukan penelusuran kontak erat dan merawat pasien yang kritis. Selain itu, eks bos Bank Mandiri ini juga memberikan tambahan 50 ribu dosis vaksis untuk mempercepat pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok. Kemudian, BGS juga mengirim mobil PCR dari Yogya.

“Saya minta tracing dan testing ditingkatkan. Dengan cara-cara ini, Insya Allah bisa dikendalikan,” ujar BGS.

Selesai dari Kudus, BGS tak langsung pulang ke Jakarta. Ia lebih dulu melipir ke Semarang, menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam pertemuan sekitar satu jam itu, BGS meminta bantuan kepada Ganjar untuk ikut menyelesaikan amukan Corona di Kudus.

“Beliau kan pembina, jadi bisa mendukung Bupati Kudus kalau tekanannya terlalu banyak. Kadang-kadang, Bupati pusing mesti ngapain, tapi kalau ada kakaknya, maka dia tenang. Sebagai kakak, Pak Gubernur bisa membantu backup,” kata BGS.

Lalu apa tanggapan Ganjar? Politisi PDIP itu mengaku siap membantu. Kata dia, selama ini Pemprov Jateng sudah menerjunkan banyak orang ke Kudus untuk membantu penanganan Corona. TNI dan Polri juga sudah mengerahkan personel untuk membantu.

 

Ganjar juga mengungkapkan, beberapa daerah bersedia membantu penanganan Corona di Kudus. Mulai dari fasilitas kesehatan hingga tenaga kesehatan. Kota Semarang sudah menyiapkan ambulans hingga rumah sakit. RSUD milik Pemprov Jateng seperti RS Tugurejo Semarang juga sudah bersiap. Dokter penyakit dalam dan dokter umum dari RSUD Moewardi Solo juga dikirimkan untuk membantu.

Secara politik, lanjut dia, sudah menjadi tugasnya untuk melakukan pembinaan pada Bupati Kudus. Karena itu, ia minta Bupati Kudus tidak perlu ragu meminta bantuan. “Kalau harus melakukan tindakan tertentu, lakukan saja, kalau ada kompetensi yang kurang, segera cari agar keputusan bisa cepat dan semua berjalan,” kata Ganjar.

Dia juga mendukung kebijakan Bupati Kudus yang menerapkan dua hari saja mulai kemarin sampai hari ini. Ganjar meminta, masyarakat Kudus mendukung penuh kebijakan tersebut dengan tidak keluar rumah selama dua hari.

IDI Bicara Corona Di Kudus

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ahmad Ipul mengungkapkan, lonjakan kasus Corona yang dialami tenaga medis di Kudus salah satu penyebabnya faktor kelelahan. Sampai Jumat lalu, tercatat ada 33 dokter yang terjangkit Corona bersama ratusan tenaga kesehatan lainnya.

Menurut Ahmad, pasien Corona di Kudus memang melonjak tajam, sampai-sampai over load alias kelebihan beban. Pasien yang datang terus menerus ini mengakibatkan dokter keletihan dan akhirnya terpapar.

“Kebanyakan dokter merasa kelelahan. Beberapa dokter IGD dengan jumlah pasien segitu, mereka capeknya minta ampun, sehingga akhirnya terpapar,” kata Ahmad, kemarin.

Saat kelelahan itu, ia menduga, para dokter menjadi lalai dalam menerapkan protokol kesehatan atau pemakaian alat pelindung diri (APD), sehingga potensi terpapar menjadi lebih tinggi. Untuk sementara ini, para dokter yang terjangkit Corona dalam keadaan baik dan hanya perlu menjalani isolasi mandiri. Hanya sebagian kecil yang memiliki gejala ringan.

Bagaimana tanggapan epidemiolog?

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, lonjakan kasus yang terjadi di Kudus ini antara lain karena lemahnya sistem surveilans, baik itu testing maupun tracing atau pelacakan di daerah. Akibatnya tidak cepat dalam mendeteksi pasien Corona.

Menurut dia, Rasio lacak isolasi (RLI) Indonesia masih 1,1 poin. Level tersebut di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menerapkan 30 orang terlacak per 1 kasus Corona.

Jika testing, tracing, dan treatment (3T) tak diperbaiki, kata dia, ledakan kasus di Kudus bisa terjadi di daerah lain. “Kalau sudah meledak, orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan akan semakin bertambah banyak dan bisa membuat fasilitas pelayanan kesehatan kewalahan,” kata Tri, tadi malam. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories