Meningkat Pasca PTM 100 Persen Pelajar Pake Kode COD Untuk Janjian Tawuran

Potensi terjadinya tawuran antara pelajar meningkat pasca Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Salah satunya dipicu provokasi para alumni sekolah.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Jakarta Pusat, Kombes Komarudin mengatakan, potensi kerawanan tawuran pelajar di wilayahnya terjadi melalui cara konvensional dan pola baru di era media sosial. Pada masa pandemi, pelajar tawuran dengan cara janjian melalui media sosial. Agar tidak terendus aparat keamanan, mereka menggunakan kode rahasia.

“Mereka menggunakan kode COD yang artinya untuk mengajak tawuran. Hal ini pola terbaru para pelajar. Saat ini, para pelajar menggabungkan pola lama dan baru untuk bisa tawuran,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

COD merupakan singkatan yang biasa digunakan pedagang dan pembeli via daring. Artinya, cash on delivery. Transaksi dilakukan dengan cara melakukan pertemuan.

Komarudin menyebutkan, provokasi alumni sekolah menjadi salah satu pemicu pelajar melakukan tawuran.

“Para alumni atau senior mengajak para pelajar turun ke jalan. Bahkan, kadang untuk mendapatkan status tertentu dari senior, mereka harus berani melakukan tindakan anarkis,” ujarnya.

Selain itu, paparnya, dalam melakukan tawuran, para pelajar memiliki peran dan tugas. Ada yang berperan jadi joki alias penghubung. Dan, ada yang bertugas membawa senjata tajam.

Pihaknya telah menyiapkan strategi untuk mencegah tawuran pelajar. Selain menegakkan hukum, polisi melakukan edukasi kepada pelajar.

“Edukasi mengenai bahaya tawuran menjadi suatu hal yang sangat penting, sembari melakukan pengawasan di lapangan,” ungkapnya.

Komarudin menerangkan, pihaknya telah melakukan pemetaan pola dan waktu tawuran. Polisi akan menindak tegas pelaku tawuran. Komarudin berharap, masyarakat turut serta dalam upaya pencegahan tawuran.

“Kami mengimbau kepada masyarakat agar mengawasi mereka (pelajar). Kalau ada indikasi atau aktivitas mengarah ke sana (tawuran) segera laporkan kami,” pintanya.

 

Amankan 9 Pelaku

Rabu (1/6), Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Jakarta Pusat mengamankan 9 pelajar di Jalan Timah, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Mereka kedapatan membawa senjata tajam. “Mereka bukan melakukan tawuran, diduga baru mau cari lawan tawuran,” kata Kepala Satuan (Kasat) Samapta Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Rustian Effendi kepada wartawan, Rabu (1/6).

Penangkapan dilakukan pukul 01.55 WIB dini hari. Rustian menerangkan, penangkapan dimulai dari pihaknya yang mencurigai 15 kendaraan berisi para pelajar.

“Pada saat ingin dihampiri, kelompok pemotor langsung melarikan diri. Namun, beberapa pemuda dan barang bukti berhasil diamankan,” tuturnya.

Pelajar yang diamankan yaitu R (16), A (16), C (16), SS (16), R (17), H (15), S (17), HA (18), W (17).

“Barang bukti 1 bilah katana, 1 bilah pisau, 8 buah handphone, dan 3 unit kendaraan roda dua,” ucapnya.

Peran Orangtua

Wali Kota Jakarta Pusat, Dhany Sukma mengatakan, situasi pembelajaran tatap muka memberikan potensi kenaikan kerawanan kegiatan tawuran pelajar. Untuk itu perlu ada antisipasi, terutama di ruang publik.

“Di rumah para pelajar terpantau, di sekolah juga sudah bagus. Pelajar yang iseng berkumpul di luar sekolah dan rumah, harus dipantau,” ujarnya dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Kota (Forkopimko) Jakarta Pusat, di Kantor Wali Kota, Kamis (2/6).

Dhany mengajak, warga ikut aktif melaporkan melalui media sosial Kepolisian jika terjadi potensi tawuran di wilayah masing-masing. Pemkot Jakarta Pusat juga terus berkoordinasi dengan jajaran Polsek dan Babinsa untuk pencegahan tawuran.

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengakui, tawuran pelajar mulai marak lagi sejak dimulainya PTM di sekolah. Dia mencurigai hal itu terjadi akibat pelajar minim interaksi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Jadi saya melihat ini lebih kepada motif pelampiasan secara sosial karena mereka selama 2 tahun terpaksa belajar di rumah, tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan teman,” katanya.

Tawuran pelajar juga dipengaruhi media sosial. Konsumsi informasi yang salah membuat mereka mudah terhasut melakukan tindakan kekerasan. ■

]]> Potensi terjadinya tawuran antara pelajar meningkat pasca Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Salah satunya dipicu provokasi para alumni sekolah.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Jakarta Pusat, Kombes Komarudin mengatakan, potensi kerawanan tawuran pelajar di wilayahnya terjadi melalui cara konvensional dan pola baru di era media sosial. Pada masa pandemi, pelajar tawuran dengan cara janjian melalui media sosial. Agar tidak terendus aparat keamanan, mereka menggunakan kode rahasia.

“Mereka menggunakan kode COD yang artinya untuk mengajak tawuran. Hal ini pola terbaru para pelajar. Saat ini, para pelajar menggabungkan pola lama dan baru untuk bisa tawuran,” katanya di Jakarta, baru-baru ini.

COD merupakan singkatan yang biasa digunakan pedagang dan pembeli via daring. Artinya, cash on delivery. Transaksi dilakukan dengan cara melakukan pertemuan.

Komarudin menyebutkan, provokasi alumni sekolah menjadi salah satu pemicu pelajar melakukan tawuran.

“Para alumni atau senior mengajak para pelajar turun ke jalan. Bahkan, kadang untuk mendapatkan status tertentu dari senior, mereka harus berani melakukan tindakan anarkis,” ujarnya.

Selain itu, paparnya, dalam melakukan tawuran, para pelajar memiliki peran dan tugas. Ada yang berperan jadi joki alias penghubung. Dan, ada yang bertugas membawa senjata tajam.

Pihaknya telah menyiapkan strategi untuk mencegah tawuran pelajar. Selain menegakkan hukum, polisi melakukan edukasi kepada pelajar.

“Edukasi mengenai bahaya tawuran menjadi suatu hal yang sangat penting, sembari melakukan pengawasan di lapangan,” ungkapnya.

Komarudin menerangkan, pihaknya telah melakukan pemetaan pola dan waktu tawuran. Polisi akan menindak tegas pelaku tawuran. Komarudin berharap, masyarakat turut serta dalam upaya pencegahan tawuran.

“Kami mengimbau kepada masyarakat agar mengawasi mereka (pelajar). Kalau ada indikasi atau aktivitas mengarah ke sana (tawuran) segera laporkan kami,” pintanya.

 

Amankan 9 Pelaku

Rabu (1/6), Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Jakarta Pusat mengamankan 9 pelajar di Jalan Timah, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Mereka kedapatan membawa senjata tajam. “Mereka bukan melakukan tawuran, diduga baru mau cari lawan tawuran,” kata Kepala Satuan (Kasat) Samapta Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Rustian Effendi kepada wartawan, Rabu (1/6).

Penangkapan dilakukan pukul 01.55 WIB dini hari. Rustian menerangkan, penangkapan dimulai dari pihaknya yang mencurigai 15 kendaraan berisi para pelajar.

“Pada saat ingin dihampiri, kelompok pemotor langsung melarikan diri. Namun, beberapa pemuda dan barang bukti berhasil diamankan,” tuturnya.

Pelajar yang diamankan yaitu R (16), A (16), C (16), SS (16), R (17), H (15), S (17), HA (18), W (17).

“Barang bukti 1 bilah katana, 1 bilah pisau, 8 buah handphone, dan 3 unit kendaraan roda dua,” ucapnya.

Peran Orangtua

Wali Kota Jakarta Pusat, Dhany Sukma mengatakan, situasi pembelajaran tatap muka memberikan potensi kenaikan kerawanan kegiatan tawuran pelajar. Untuk itu perlu ada antisipasi, terutama di ruang publik.

“Di rumah para pelajar terpantau, di sekolah juga sudah bagus. Pelajar yang iseng berkumpul di luar sekolah dan rumah, harus dipantau,” ujarnya dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Kota (Forkopimko) Jakarta Pusat, di Kantor Wali Kota, Kamis (2/6).

Dhany mengajak, warga ikut aktif melaporkan melalui media sosial Kepolisian jika terjadi potensi tawuran di wilayah masing-masing. Pemkot Jakarta Pusat juga terus berkoordinasi dengan jajaran Polsek dan Babinsa untuk pencegahan tawuran.

Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim mengakui, tawuran pelajar mulai marak lagi sejak dimulainya PTM di sekolah. Dia mencurigai hal itu terjadi akibat pelajar minim interaksi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Jadi saya melihat ini lebih kepada motif pelampiasan secara sosial karena mereka selama 2 tahun terpaksa belajar di rumah, tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan teman,” katanya.

Tawuran pelajar juga dipengaruhi media sosial. Konsumsi informasi yang salah membuat mereka mudah terhasut melakukan tindakan kekerasan. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories