Menghemat Politik Identitas (28) Politik Shalat Jamaah (1)

Pelajaran etika politik paling ideal sesungguhnya terdapat dalam shalat jamaah. Adalah sangat wajar jika Nabi menyerukan kita untuk shalat berjamaah. Bukan saja pahalanya lebih besar 27 kali dibanding shalat sendiri, tetapi juga mendoktrinkan arti penting sebuah kebersamaan.

Shalat yang dilakukan secara berjamaah di dalamnya berisi berbagai ketentuan yang harus diikuti oleh semua pihak dan segala unsur, tanpa membedakan jenis kelamin, umur, etnik, golongan, dan kewarganegaraan. Yang datang lebih awal berhak mendapatkan shaf pertama, sungguh pun rakyat jelata.

Sebaliknya, siapapun yang datang terlambat, baginya shaf terakhir, sungguh pun ia seorang pejabat atau tokoh masyarakat.

Shalat jamaah memiliki sistem tersendiri. Shalat berjamaah harus dipimpin orang yang paling kredibel untuk menjadi pemimpin (imam). Suaranya yang lembut menembus batin, hafalan ayat-ayatnya tidak diragukan, gerakannya santun, kepribadiannya penuh dengan muru’ah (santun), pakaiannya rapi dan bersih, dan tidak terkesan berlebih-lebihan. Seorang imam mesti berwibawa dan harus diikuti semua pihak yang bermakmun di belakangnya.

Sementara makmun tidak boleh mendahului imam. Makmum yang mendahului imam sangat dicerca oleh Rasulullah dalam berbagai hadisnya. Makmum yang mendahului imam diilustrasikan sebagai orang berkepala himar (keledai).

Meskipun imam memiliki hak-hak proregatif, namun tidak berarti ia bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Ia juga tidak bebas dari kritikan dan koreksi dari makmum. Makmun diminta tidak boleh melakukan pembiaran terhadap kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan imam.

Imam wajib dikoreksi kalau melakukan kesalahan atau kekeliruan, misalnya mereduksi atau menambah rakaat shalat di luar dari ketentuan yang seharusnya. Jika imam salah baca atau terlupa maka makmum wajib membetulkannya.

 

Itulah sebabnya orang-orang di belakang imam direkomendasikan orang yang memiliki kemampuan mengingatkan, dan membetulkan, bahkan menggantikan imam kalau salah atau tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya.

Cara melakukan kritisi pun harus sesuai dengan ketentuan. Makmum tidak boleh melakukan kritik dengan melampaui batas, yakni batas yang telah ditentukan dalam hadis.

Hak untuk menyampaikan kritisi bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Cara laki-laki dalam mengkritisi imam ialah mengucapkan kata “Subhanallah” dan perempuan dengan cara menepuk anggota badannya yang bisa kedengaran oleh imam.

Imam harus sensitif membaca isyarat makmumnya. Jika imam salah atau keliru dan para makmumnya juga lupa atau tidak tahu menyampaikan pembetulan terhadap imam, maka imam harus menutupi kesalahan dan kekeliruannya dengan cara sama-sama sujud sahwi, yaitu menambahkan sujud dua kali di bagian akhir shalat sebelum salam.

Imam tidak boleh semena-mena memimpin shalat. Suatu ketika Rasulullah memimpin shalat, salah satu sujudnya lama sekali, tidak seperti biasanya. Seusai shalat salah seorang sahabat bertanya, kenapa salah satu sujud tadi lama sekali. Rasulullah menjawab: Maaf, ketika sujud tadi cucu saya (Hasan dan Husain) menaiki punggung saya ketika sedang sujud. Saya khawatir kalau saya bangun dari sujud ia terjatuh. ■

]]> Pelajaran etika politik paling ideal sesungguhnya terdapat dalam shalat jamaah. Adalah sangat wajar jika Nabi menyerukan kita untuk shalat berjamaah. Bukan saja pahalanya lebih besar 27 kali dibanding shalat sendiri, tetapi juga mendoktrinkan arti penting sebuah kebersamaan.

Shalat yang dilakukan secara berjamaah di dalamnya berisi berbagai ketentuan yang harus diikuti oleh semua pihak dan segala unsur, tanpa membedakan jenis kelamin, umur, etnik, golongan, dan kewarganegaraan. Yang datang lebih awal berhak mendapatkan shaf pertama, sungguh pun rakyat jelata.

Sebaliknya, siapapun yang datang terlambat, baginya shaf terakhir, sungguh pun ia seorang pejabat atau tokoh masyarakat.

Shalat jamaah memiliki sistem tersendiri. Shalat berjamaah harus dipimpin orang yang paling kredibel untuk menjadi pemimpin (imam). Suaranya yang lembut menembus batin, hafalan ayat-ayatnya tidak diragukan, gerakannya santun, kepribadiannya penuh dengan muru’ah (santun), pakaiannya rapi dan bersih, dan tidak terkesan berlebih-lebihan. Seorang imam mesti berwibawa dan harus diikuti semua pihak yang bermakmun di belakangnya.

Sementara makmun tidak boleh mendahului imam. Makmum yang mendahului imam sangat dicerca oleh Rasulullah dalam berbagai hadisnya. Makmum yang mendahului imam diilustrasikan sebagai orang berkepala himar (keledai).

Meskipun imam memiliki hak-hak proregatif, namun tidak berarti ia bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Ia juga tidak bebas dari kritikan dan koreksi dari makmum. Makmun diminta tidak boleh melakukan pembiaran terhadap kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan imam.

Imam wajib dikoreksi kalau melakukan kesalahan atau kekeliruan, misalnya mereduksi atau menambah rakaat shalat di luar dari ketentuan yang seharusnya. Jika imam salah baca atau terlupa maka makmum wajib membetulkannya.

 

Itulah sebabnya orang-orang di belakang imam direkomendasikan orang yang memiliki kemampuan mengingatkan, dan membetulkan, bahkan menggantikan imam kalau salah atau tidak bisa melanjutkan kepemimpinannya.

Cara melakukan kritisi pun harus sesuai dengan ketentuan. Makmum tidak boleh melakukan kritik dengan melampaui batas, yakni batas yang telah ditentukan dalam hadis.

Hak untuk menyampaikan kritisi bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Cara laki-laki dalam mengkritisi imam ialah mengucapkan kata “Subhanallah” dan perempuan dengan cara menepuk anggota badannya yang bisa kedengaran oleh imam.

Imam harus sensitif membaca isyarat makmumnya. Jika imam salah atau keliru dan para makmumnya juga lupa atau tidak tahu menyampaikan pembetulan terhadap imam, maka imam harus menutupi kesalahan dan kekeliruannya dengan cara sama-sama sujud sahwi, yaitu menambahkan sujud dua kali di bagian akhir shalat sebelum salam.

Imam tidak boleh semena-mena memimpin shalat. Suatu ketika Rasulullah memimpin shalat, salah satu sujudnya lama sekali, tidak seperti biasanya. Seusai shalat salah seorang sahabat bertanya, kenapa salah satu sujud tadi lama sekali. Rasulullah menjawab: Maaf, ketika sujud tadi cucu saya (Hasan dan Husain) menaiki punggung saya ketika sedang sujud. Saya khawatir kalau saya bangun dari sujud ia terjatuh. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories