Mendambakan Liqa` Allah (1)

Umat Islam senan­tiasa mendambakan perjumpaan dengan Tuhannya (liqa’ Allah). Apa sesung­guhnya yang dimak­sud dengan liqa’ Allah? Apa manusia berjumpa dengan Allah? Apa dasarnya? Jika mungkin, apa dan bagaimana kiat seorang manusia bisa menjumpai-Nya? Apa dampak perjumpaan itu? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa didekati dengan ilmul yaqin, ’ainul yaqin, dan haqqul yaqin, atau penggabungan secara fluktuatif antara satu sama lain.

Pendekatan ilmul yaqin terjadi ketika seseorang berusaha memahami secara konseptual apa dan bagaimana sesung­guhnya konsep perjumpaan dengan Allah Swt melalui metode ilmu penge­tahuan biasa, yaitu mempelajari seluk beluk dan sifat-sifat serta zat-Nya.

Pendekatan ’ainul yaqin jika seseorang sudah menyaksikan bagaimana orang-orang yang sudah berusaha dan mungkin sudah mencapai perjumpaan dengan Tuhannya.

Pendekatan haqqul yaqin terjadi manakala seseorang tidak hanya menge­tahui secara konsepsional tentang liqa’ Allah atau menyaksikan langsung orang-orang yang sedang fana’ karena telah atau sedang berjumpa dengan Tuhannya, tetapi ia sendiri langsung mengalami liqa’ Allah. Sudah barang tentu dengan haqqul yaqin lebih man­tap dari pada ilmul yaqin atau ’ainul yaqin.

Perjumpaan dengan Tuhan ialah sua­sana batin seorang hamba yang merasa dekat sedekat-dekatnya dengan Tuhan, sehingga merasa tidak ada lagi jarak antara Tuhan yang disembah dengan hamba yang menyembah. Suasana batin seperti ini, seorang hamba akan mera­sakan “kehadiran” Tuhan dibenaknya. Perjumpaan Tuhan tidak bisa dibayang­kan dalam bentuk inderawi, tetapi per­jumpaan secara ruhaniah. Seorang hamba yang sedang beribadah sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw, untuk seolah-olah melihat Tuhan, minimal diasumsikan Tuhan sedang melihatnya.

Ada beberapa istilah yang diguna­kan para sufi dalam menggambarkan kedekatan dengan Tuhan. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

]]> Umat Islam senan­tiasa mendambakan perjumpaan dengan Tuhannya (liqa’ Allah). Apa sesung­guhnya yang dimak­sud dengan liqa’ Allah? Apa manusia berjumpa dengan Allah? Apa dasarnya? Jika mungkin, apa dan bagaimana kiat seorang manusia bisa menjumpai-Nya? Apa dampak perjumpaan itu? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa didekati dengan ilmul yaqin, ’ainul yaqin, dan haqqul yaqin, atau penggabungan secara fluktuatif antara satu sama lain.

Pendekatan ilmul yaqin terjadi ketika seseorang berusaha memahami secara konseptual apa dan bagaimana sesung­guhnya konsep perjumpaan dengan Allah Swt melalui metode ilmu penge­tahuan biasa, yaitu mempelajari seluk beluk dan sifat-sifat serta zat-Nya.

Pendekatan ’ainul yaqin jika seseorang sudah menyaksikan bagaimana orang-orang yang sudah berusaha dan mungkin sudah mencapai perjumpaan dengan Tuhannya.

Pendekatan haqqul yaqin terjadi manakala seseorang tidak hanya menge­tahui secara konsepsional tentang liqa’ Allah atau menyaksikan langsung orang-orang yang sedang fana’ karena telah atau sedang berjumpa dengan Tuhannya, tetapi ia sendiri langsung mengalami liqa’ Allah. Sudah barang tentu dengan haqqul yaqin lebih man­tap dari pada ilmul yaqin atau ’ainul yaqin.

Perjumpaan dengan Tuhan ialah sua­sana batin seorang hamba yang merasa dekat sedekat-dekatnya dengan Tuhan, sehingga merasa tidak ada lagi jarak antara Tuhan yang disembah dengan hamba yang menyembah. Suasana batin seperti ini, seorang hamba akan mera­sakan “kehadiran” Tuhan dibenaknya. Perjumpaan Tuhan tidak bisa dibayang­kan dalam bentuk inderawi, tetapi per­jumpaan secara ruhaniah. Seorang hamba yang sedang beribadah sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw, untuk seolah-olah melihat Tuhan, minimal diasumsikan Tuhan sedang melihatnya.

Ada beberapa istilah yang diguna­kan para sufi dalam menggambarkan kedekatan dengan Tuhan. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories