Mendag Bakal Lanjutkan Program Subsidi Kedelai Perajin Tahu Dan Tempe Terkapar Dampak Perang

Harga kedelai melambung terdampak perang Rusia-Ukraina. Kondisi itu membuat perajin tahu dan tempe di dalam negeri terkapar. Bahkan, banyak yang gulung tikar alias bangkrut.

Perajin kini tengah putar otak mensiasati tingginya harga kede­lai, bahan baku pembuat tahu dan tempe, agar bisa tetap survive.

Ketua Pengawas Pusat Ko­perasi Produsen Tempe Tahu (Puskopti) Jakarta Handoko Mulyo menjelaskan, saat ini perajin membeli kedelai dengan harga di kisaran Rp 13.200 per kilogram (kg). Harga ini naik dari harga normal di kisaran Rp 11 ribuan per kg.

“Sekarang ini bagaimana kami putar otak, mensiasati agar harga jual nggak naik, tapi ukuran nggak banyak berubah agar pelanggan nggak kabur,” kata Handoko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Aip Syarifud­din mengungkapkan, tingginya harga kedelai membuat para perajin tahu dan tempe merugi.

Aip menyebut dari sekitar 160 ribu perajin yang tersebar di Indonesia, tahun ini, sebanyak 40 ribu sudah perajin gulung tikar. Mereka umumnya tidak mampu menutupi modal kerja yang besar namun harga jual tidak naik.

Selain itu, Aip menuturkan, kenaikan harga kedelai turut mengurangi sekitar 30 persen produktivitas perajin tahu tempe. Sebab, pasokan kedelai untuk perajin berkurang cukup drastis.

“Perajinnya tetap produksi, tapi jumlahnya turun. Makany, seka­rang pendapatan turun, gizi turun, hanya kemiskinan yang meningkat. Perajin tahu dan tempe bi­asanya produksi 100 kilogram, sekarang cuma 70 kilogram. Dari 70 kilogram terus turun jadi 50 kilogram,” tutur dia.

Untuk mengatasi harga kede­lai, Aip meminta Pemerintah memproduksi kedelai lokal. Dengan begitu, perajin tidak lagi bergantung dengan kedelai impor yang harganya kerap tidak terkendali.

Selain itu, menurutnya, kuali­tas kedelai lokal lebih bagus untuk membuat tahu dan tempe. Komoditas itu menjadi lebih ber­gizi daripada kedelai impor.

“Yang lebih penting, Dampak­nya juga untuk petani menjadi sejahtera. Masyarakat juga me­nikmati nya karena harga tahu dan tempe menjadi murah,” ujarnya

Ketua Umum Asosiasi Peda­gang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sudaryono meminta Pemerintah melanjutkan pro­gram bantuan pembelian selisih harga kedelai di tingkat perajin tahu tempe hingga akhir 2022.

“Program atau bantuan ini sangat membantu produsen dan pedagang pasar. Sebab, dengan adanya bantuan ini, para produsen menjual tahu dan tempe dengan harga normal dan stabil. Peda­gang pasar jadi nggak dimarahin pembeli karena harga tinggi,” kata Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/10).

 

Bahkan, ia berharap, Pemerintah memperluas program bantuan ini. Seperti membantu para petani kedelai meningkat­kan produksi agar bisa bersaing dengan kedelai impor.

“Langkah ini harus dilakukan agar stok kedelai di dalam negeri melimpah, sehingga tercapai swasembada kedelai. Hal ini akan mendukung harapan para pedagang pasar yang ingin bisa menjual tahu dan tempe dengan harga normal dan stabil,” pung­kas Sudaryono.

Sebelumnya, Menteri Perda­gangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut melonjaknya harga kedelai karena akibat dampak perang Rusia-Ukraina.

“Kedelai impor mahal karena kita beli di bulan Juli saat harga tinggi imbas perang. Sekarang sudah banyak dan harga mulai normal. Kami prediksi harga di dalam negeri akan turun bulan November,” ujar Zulhas di Ja­karta, Sabtu (1/10).

Ia menjelaskan, kedelai yang diimpor Pemerintah akan sam­pai di Indonesia pada bulan November-Desember 2022. Rata-rata kenaikan kedelai dan gandum sebesar 1 persen. Dan, melonjaknya komoditas ini tidak bisa dihindari.

Untuk meringankan beban produsen tahu tempe, Pemerintah akan memperpanjang program subsidi kedelai impor sebesar Rp 1.000 per kg. Subsidi ini akan terus disalurkan hingga akhir tahun 2022.

“Ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga kedelai di tingkat perajin yang saat ini mengalami kenaikan hingga Rp 13.000 per kilogram. Kami akan perjuang­kan untuk pemberian subsidi kedelai itu tidak diangsur satu hingga dua bulan tetapi langsung per tahun,” kata Zulhas.

Pihaknya juga hendak men­coba menyederhanakan proses pengajuan subsidi kedelai bagi perajin tahu tempe.

“Kami dengar masukan pengajuan subsidi cukup rumit karena harus membuat proposal dan lain sebagainya. Tapi nanti akan dibenahi akan mencari cara yang sederhana agar tidak sulit,” imbuhnya, [NOV]

]]> Harga kedelai melambung terdampak perang Rusia-Ukraina. Kondisi itu membuat perajin tahu dan tempe di dalam negeri terkapar. Bahkan, banyak yang gulung tikar alias bangkrut.

Perajin kini tengah putar otak mensiasati tingginya harga kede­lai, bahan baku pembuat tahu dan tempe, agar bisa tetap survive.

Ketua Pengawas Pusat Ko­perasi Produsen Tempe Tahu (Puskopti) Jakarta Handoko Mulyo menjelaskan, saat ini perajin membeli kedelai dengan harga di kisaran Rp 13.200 per kilogram (kg). Harga ini naik dari harga normal di kisaran Rp 11 ribuan per kg.

“Sekarang ini bagaimana kami putar otak, mensiasati agar harga jual nggak naik, tapi ukuran nggak banyak berubah agar pelanggan nggak kabur,” kata Handoko kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Aip Syarifud­din mengungkapkan, tingginya harga kedelai membuat para perajin tahu dan tempe merugi.

Aip menyebut dari sekitar 160 ribu perajin yang tersebar di Indonesia, tahun ini, sebanyak 40 ribu sudah perajin gulung tikar. Mereka umumnya tidak mampu menutupi modal kerja yang besar namun harga jual tidak naik.

Selain itu, Aip menuturkan, kenaikan harga kedelai turut mengurangi sekitar 30 persen produktivitas perajin tahu tempe. Sebab, pasokan kedelai untuk perajin berkurang cukup drastis.

“Perajinnya tetap produksi, tapi jumlahnya turun. Makany, seka­rang pendapatan turun, gizi turun, hanya kemiskinan yang meningkat. Perajin tahu dan tempe bi­asanya produksi 100 kilogram, sekarang cuma 70 kilogram. Dari 70 kilogram terus turun jadi 50 kilogram,” tutur dia.

Untuk mengatasi harga kede­lai, Aip meminta Pemerintah memproduksi kedelai lokal. Dengan begitu, perajin tidak lagi bergantung dengan kedelai impor yang harganya kerap tidak terkendali.

Selain itu, menurutnya, kuali­tas kedelai lokal lebih bagus untuk membuat tahu dan tempe. Komoditas itu menjadi lebih ber­gizi daripada kedelai impor.

“Yang lebih penting, Dampak­nya juga untuk petani menjadi sejahtera. Masyarakat juga me­nikmati nya karena harga tahu dan tempe menjadi murah,” ujarnya

Ketua Umum Asosiasi Peda­gang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sudaryono meminta Pemerintah melanjutkan pro­gram bantuan pembelian selisih harga kedelai di tingkat perajin tahu tempe hingga akhir 2022.

“Program atau bantuan ini sangat membantu produsen dan pedagang pasar. Sebab, dengan adanya bantuan ini, para produsen menjual tahu dan tempe dengan harga normal dan stabil. Peda­gang pasar jadi nggak dimarahin pembeli karena harga tinggi,” kata Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/10).

 

Bahkan, ia berharap, Pemerintah memperluas program bantuan ini. Seperti membantu para petani kedelai meningkat­kan produksi agar bisa bersaing dengan kedelai impor.

“Langkah ini harus dilakukan agar stok kedelai di dalam negeri melimpah, sehingga tercapai swasembada kedelai. Hal ini akan mendukung harapan para pedagang pasar yang ingin bisa menjual tahu dan tempe dengan harga normal dan stabil,” pung­kas Sudaryono.

Sebelumnya, Menteri Perda­gangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut melonjaknya harga kedelai karena akibat dampak perang Rusia-Ukraina.

“Kedelai impor mahal karena kita beli di bulan Juli saat harga tinggi imbas perang. Sekarang sudah banyak dan harga mulai normal. Kami prediksi harga di dalam negeri akan turun bulan November,” ujar Zulhas di Ja­karta, Sabtu (1/10).

Ia menjelaskan, kedelai yang diimpor Pemerintah akan sam­pai di Indonesia pada bulan November-Desember 2022. Rata-rata kenaikan kedelai dan gandum sebesar 1 persen. Dan, melonjaknya komoditas ini tidak bisa dihindari.

Untuk meringankan beban produsen tahu tempe, Pemerintah akan memperpanjang program subsidi kedelai impor sebesar Rp 1.000 per kg. Subsidi ini akan terus disalurkan hingga akhir tahun 2022.

“Ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga kedelai di tingkat perajin yang saat ini mengalami kenaikan hingga Rp 13.000 per kilogram. Kami akan perjuang­kan untuk pemberian subsidi kedelai itu tidak diangsur satu hingga dua bulan tetapi langsung per tahun,” kata Zulhas.

Pihaknya juga hendak men­coba menyederhanakan proses pengajuan subsidi kedelai bagi perajin tahu tempe.

“Kami dengar masukan pengajuan subsidi cukup rumit karena harus membuat proposal dan lain sebagainya. Tapi nanti akan dibenahi akan mencari cara yang sederhana agar tidak sulit,” imbuhnya, [NOV]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories