Menangis Di Akhir Pidato Prof Mega: Saya Ember Bocor

Megawati Soekarnoputri resmi menyandang gelar profesor kehormatan alias honoris causa. Kemarin, Presiden ke-5 RI ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Tidak Tetap Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Strategik dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Pertahanan (Unhan). Dalam pengukuhan yang digelar di Kampus Unhan, di Sentul, Bogor, Ketua Umum PDIP itu menangis haru. Mega mengaku, kalau menangis dirinya seperti ember bocor, air matanya deras.

Mega tiba di Unhan dengan kebaya warna merah, sekitar pukul 1 siang. Ia didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang tampil berjas hitam dipadu peci berwarna senada. Sebelum memasuki Aula Utama, Mega dan Prabowo menerima penghormatan jajar akademik dari 1 pleton mahasiswa S1 Unhan.

Lalu, Mega ganti kostum. Ia tampil anggun dengan baju wisuda guru besar berpadu toga berlogo Unhan di kepalanya. Sebelum Mega menyampaikan orasi ilmiah, Rektor Unhan Laksdya TNI Prof Dr Amarulla Octavian menyampaikan beberapa penilaian akademik Dewan Guru Besar Unhan atas seluruh karya ilmiah Mega. Antara lain, di bidang ilmu pertahanan, politik negara, manajemen kepemerintahan, dan bidang kemasyarakatan lainnya terkait dengan kepemimpinan dan pertahanan. 

Menurut Amarulla, pertimbangan jasa dan karya serta komitmen pada bidang tersebut menjadi sangat berarti dan bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. “Di kalangan pemimpin dunia, belum ada seorang wanita yang pernah menjabat berturut-turut sebagai wakil presiden dan presiden,” ucap Amarulla, disambut tepuk tangan hadirin.

Giliran Mega maju ke podium menyampaikan orasi ilmiah. Gayanya santai. Meskipun dibekali teks, Mega tetap bicara dengan gaya khasnya, ceplas-ceplos. 

Ada banyak hal yang disampaikan putri proklamator ini, dalam orasinya sekitar 1 jam itu. Dimulai dari membahas falsafah cakra manggilingan, perubahan iklim, cerita di balik penunjukannya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), usahanya mewujudkan lembaga riset yaitu Badan Riset dan Inovasi Nasional, konflik Papua, kemiskinan, gotong royong, kearifan lokal, alutsista, hingga mandataris MPR.

“Saya adalah mandataris MPR terakhir dalam menangani krisis multidimensi saat itu,” cerita Mega.

Ia juga menyinggung soal stempel komunis yang melekat padanya sejak duduk di bangku DPR. Padahal, ia pernah di mengikuti Penelitian Khusus (Litsus) di era Orde Baru dan dinyatakan lulus. “Kan membingungkan, kalau mengatakan saya komunis,” kesalnya.

Mega juga beberapa kali menggoda Prabowo, dengan panggilan Mas Bowo. Salah satunya ketika ia merasa heran, kenapa dirinya sampai viral saat menyatakan Ketum Gerindra itu sebagai sahabatnya. “Nanti saya ngomong Mas Bowo langsung mulai, ‘Woooh’. Aneh deh, Mas,” kelakarnya, disambut riuh ketawa dan tepuk tangan hadirin.

Selain suka bercanda, Mega juga mengaku sebagai tipikal orang yang gampang menangis. Bahkan di hadapan keluarga dan anak buahnya. “Waktu Nanggala itu, saya kayak ember bocor,” aku Mega, ketika mengingat peristiwa pilu tenggelamnya KRI Nanggala-402, April lalu.”

 

Di ujung pidato, Mega benar-benar nangis. Suaranya serak dan bergetar ketika menyampaikan terima kasih kepada beberapa nama. Khususnya ketika menyebut para anak buahnya di PDIP. “Terutama anak-anak PDI Perjuangan yang selalu mendukung saya, terima kasih,” ucapnya, terisak-isak.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Mega memang sosok yang mudah tersentuh. Dalam beberapa kesempatan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ibu Banteng itu menangis.

“Beliau begitu dicintai oleh seluruh anggota partai. Karena beliau memimpin dengan rasa,” cerita Hasto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sidang Senat Terbuka Unhan ini dihadiri banyak tokoh. Presiden Jokowi menyaksikan penganugerahan ini secara virtual. Sedangkan yang hadir langsung antara lain Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Prof Budi Gunawan, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, KSAD Jenderal Andika Perkasa, dan pengamat militer Nuning Kertopati. Hadir pula beberapa rektor, Sekjen PDIP didampingi jajaran DPP dan DPC PDIP, serta perwakilan Persatuan Guru Besar Indonesia.

Tampak mengikuti prosesi senat beberapa Guru Besar dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Padang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor, Universitas Lampung, Sekolah Tinggi Intelijen Negara, dan Sekolah Tinggi Hukum Militer. [SAR]

]]> Megawati Soekarnoputri resmi menyandang gelar profesor kehormatan alias honoris causa. Kemarin, Presiden ke-5 RI ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Tidak Tetap Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Strategik dalam Sidang Senat Terbuka Universitas Pertahanan (Unhan). Dalam pengukuhan yang digelar di Kampus Unhan, di Sentul, Bogor, Ketua Umum PDIP itu menangis haru. Mega mengaku, kalau menangis dirinya seperti ember bocor, air matanya deras.

Mega tiba di Unhan dengan kebaya warna merah, sekitar pukul 1 siang. Ia didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang tampil berjas hitam dipadu peci berwarna senada. Sebelum memasuki Aula Utama, Mega dan Prabowo menerima penghormatan jajar akademik dari 1 pleton mahasiswa S1 Unhan.

Lalu, Mega ganti kostum. Ia tampil anggun dengan baju wisuda guru besar berpadu toga berlogo Unhan di kepalanya. Sebelum Mega menyampaikan orasi ilmiah, Rektor Unhan Laksdya TNI Prof Dr Amarulla Octavian menyampaikan beberapa penilaian akademik Dewan Guru Besar Unhan atas seluruh karya ilmiah Mega. Antara lain, di bidang ilmu pertahanan, politik negara, manajemen kepemerintahan, dan bidang kemasyarakatan lainnya terkait dengan kepemimpinan dan pertahanan. 

Menurut Amarulla, pertimbangan jasa dan karya serta komitmen pada bidang tersebut menjadi sangat berarti dan bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. “Di kalangan pemimpin dunia, belum ada seorang wanita yang pernah menjabat berturut-turut sebagai wakil presiden dan presiden,” ucap Amarulla, disambut tepuk tangan hadirin.

Giliran Mega maju ke podium menyampaikan orasi ilmiah. Gayanya santai. Meskipun dibekali teks, Mega tetap bicara dengan gaya khasnya, ceplas-ceplos. 

Ada banyak hal yang disampaikan putri proklamator ini, dalam orasinya sekitar 1 jam itu. Dimulai dari membahas falsafah cakra manggilingan, perubahan iklim, cerita di balik penunjukannya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), usahanya mewujudkan lembaga riset yaitu Badan Riset dan Inovasi Nasional, konflik Papua, kemiskinan, gotong royong, kearifan lokal, alutsista, hingga mandataris MPR.

“Saya adalah mandataris MPR terakhir dalam menangani krisis multidimensi saat itu,” cerita Mega.

Ia juga menyinggung soal stempel komunis yang melekat padanya sejak duduk di bangku DPR. Padahal, ia pernah di mengikuti Penelitian Khusus (Litsus) di era Orde Baru dan dinyatakan lulus. “Kan membingungkan, kalau mengatakan saya komunis,” kesalnya.

Mega juga beberapa kali menggoda Prabowo, dengan panggilan Mas Bowo. Salah satunya ketika ia merasa heran, kenapa dirinya sampai viral saat menyatakan Ketum Gerindra itu sebagai sahabatnya. “Nanti saya ngomong Mas Bowo langsung mulai, ‘Woooh’. Aneh deh, Mas,” kelakarnya, disambut riuh ketawa dan tepuk tangan hadirin.

Selain suka bercanda, Mega juga mengaku sebagai tipikal orang yang gampang menangis. Bahkan di hadapan keluarga dan anak buahnya. “Waktu Nanggala itu, saya kayak ember bocor,” aku Mega, ketika mengingat peristiwa pilu tenggelamnya KRI Nanggala-402, April lalu.”

 

Di ujung pidato, Mega benar-benar nangis. Suaranya serak dan bergetar ketika menyampaikan terima kasih kepada beberapa nama. Khususnya ketika menyebut para anak buahnya di PDIP. “Terutama anak-anak PDI Perjuangan yang selalu mendukung saya, terima kasih,” ucapnya, terisak-isak.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Mega memang sosok yang mudah tersentuh. Dalam beberapa kesempatan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ibu Banteng itu menangis.

“Beliau begitu dicintai oleh seluruh anggota partai. Karena beliau memimpin dengan rasa,” cerita Hasto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sidang Senat Terbuka Unhan ini dihadiri banyak tokoh. Presiden Jokowi menyaksikan penganugerahan ini secara virtual. Sedangkan yang hadir langsung antara lain Ketua MPR Bambang Soesatyo, Ketua DPR Puan Maharani, Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Prof Budi Gunawan, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, KSAD Jenderal Andika Perkasa, dan pengamat militer Nuning Kertopati. Hadir pula beberapa rektor, Sekjen PDIP didampingi jajaran DPP dan DPC PDIP, serta perwakilan Persatuan Guru Besar Indonesia.

Tampak mengikuti prosesi senat beberapa Guru Besar dari Universitas Indonesia, Universitas Negeri Padang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor, Universitas Lampung, Sekolah Tinggi Intelijen Negara, dan Sekolah Tinggi Hukum Militer. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories