Memberdayakan dan Diberdayakan Masjid Trend Setter Peradaban Dunia Islam (2)

Efektivitas penggunaan masjid pun masih terkon­sentrasi hanya pada hari-hari tertentu dengan frekuensi waktu terbatas, misalnya pada pelaksanaan shalat Jumat yang berlangsung sekitar satu jam. Demikian pula dengan shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, shalat jamaah tarwih pada awal-awal Ramadlan, atau pada peringatan hari-hari besar Islam.

Sungguh sangat disayangkan jika masjid yang sedemikian itu hanya digunakan untuk kepentingan seremo­nial sesaat. Tentu kita berobsesi bahwa masjid yang pada umumnya menempati areal strategis itu dapat didayagunakan untuk kepentingan yang lebih luas.

Untuk itu, sudah saatnya kita me­mikirkan bersama model-model pen­dayagunaan mesjid (ta’mir al-masajid) yang lebih produktif, efisien, dan efektif. Jika mungkin, masjid-masjid Indonesia nantinya akan menjadi penentu kecend­erungan masa depan (trend setter) untuk masjid-masjid lain di negara-negara lain. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan menjadi trend setter untuk peradaban masa depan dunia Islam.

Posisi strategis masjid dan mushalla yang berada di tengah perkampungan penduduk, memungkinkan masjid men­jadi sentral pemberdayaan umat secara efektif dan efisien. Tanpa harus menye­barkan undangan khusus, cukup azan dikumandangkan, maka serta merta penduduk segala umur di sekitar masjid itu berkumpul di masjid.

Mereka bukan hanya dari kalan­gan kelompok sosial tertentu, tetapi berbagai stratifikasi masyarakat hadir tanpa pamrih ke masjid. Di antara mereka ada orang kaya atau pemilik modal dan ada juga kelompok pen­gangguran. Ada orang pintar atau memiliki keahlian tertentu dan ada juga orang yang buta keterampilan.

Ada pejabat, dan ada rakyat biasa. Ada seniman dan ada penikmat seni. Ada orang yang mempunyai akses informasi, dan peluang bisnis dan ada pula orang yang membutuhkan informasi itu.

]]> Efektivitas penggunaan masjid pun masih terkon­sentrasi hanya pada hari-hari tertentu dengan frekuensi waktu terbatas, misalnya pada pelaksanaan shalat Jumat yang berlangsung sekitar satu jam. Demikian pula dengan shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, shalat jamaah tarwih pada awal-awal Ramadlan, atau pada peringatan hari-hari besar Islam.

Sungguh sangat disayangkan jika masjid yang sedemikian itu hanya digunakan untuk kepentingan seremo­nial sesaat. Tentu kita berobsesi bahwa masjid yang pada umumnya menempati areal strategis itu dapat didayagunakan untuk kepentingan yang lebih luas.

Untuk itu, sudah saatnya kita me­mikirkan bersama model-model pen­dayagunaan mesjid (ta’mir al-masajid) yang lebih produktif, efisien, dan efektif. Jika mungkin, masjid-masjid Indonesia nantinya akan menjadi penentu kecend­erungan masa depan (trend setter) untuk masjid-masjid lain di negara-negara lain. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan menjadi trend setter untuk peradaban masa depan dunia Islam.

Posisi strategis masjid dan mushalla yang berada di tengah perkampungan penduduk, memungkinkan masjid men­jadi sentral pemberdayaan umat secara efektif dan efisien. Tanpa harus menye­barkan undangan khusus, cukup azan dikumandangkan, maka serta merta penduduk segala umur di sekitar masjid itu berkumpul di masjid.

Mereka bukan hanya dari kalan­gan kelompok sosial tertentu, tetapi berbagai stratifikasi masyarakat hadir tanpa pamrih ke masjid. Di antara mereka ada orang kaya atau pemilik modal dan ada juga kelompok pen­gangguran. Ada orang pintar atau memiliki keahlian tertentu dan ada juga orang yang buta keterampilan.

Ada pejabat, dan ada rakyat biasa. Ada seniman dan ada penikmat seni. Ada orang yang mempunyai akses informasi, dan peluang bisnis dan ada pula orang yang membutuhkan informasi itu.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories