Membangun Peradaban Berbasis Masjid (6) Fungsi Masjid Nabi (22): Tempat Beribadah Mahdhah (2)

“Turunlah ka­mu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat ke­diaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. al- Baqarah/2:35-36).

Kegelisahan per­tama dan paling mendesak bagi Adam dan Hawa ketika turun di bumi bukan makan atau minum, tetapi kebutu­hannya akan sebuah rumah pertobatan sebagai tempat untuk menyampaikan pertobatan sekaligus tempat penyerahan diri kepada Tuhannya, Allah SWT, lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk membangunkan rumah pertoba­tan tersebut sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Pada mulanya, masjid itu dibangun sebagai rumah untuk peribadatan, guna mengintensifkan komunikasi antara hamba dan Tuhannya, lalu belakangan berkembang menjadi semacam sek­retariat pemberdayaan umat. Fungsi utama masjid memang untuk menjadi tempat pelaksanaan ibadah mahdhah, tetapi terbuka peluang juga untuk melakukan berbagai aktifitas ibadah secara umum. Ibadah secara umum apa saja yang dilakukan dengan karena Allah SWTmaka itu sudah bernilai iba­dah, walaupun wujud kegiatannya ada­lah pendidikan, bisnis, keterampilan, dan aktifitas sosial ekonomi lainnya.

Mengingat lahan semakin terbatas dan masjid-mushalah berada di pusat pemukiman masyarakat, maka amatlah mubazir jika masjid-mushalah hanya dijadikan tempat pelaksanaan ibadah mahshah seperti shalat dan i’tikaf, tetapi sudah saatnya masjid-mushalah dikem­bangkan sebagai pusat pemberdayaan umat dan warga masyarakat. Bahkan jika mencontoh masjid Nabi, bukan hanya untuk umat Islam semata tetapi umat manusia secara keseluruhan.

Allah SWT mengingatkan kita betapa perlunya menghargai dan respek kepada siapapun yang merasa anak cucu Adam, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik dan agama, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. al-Isra’/17:70).

Dalam ayat lain dipertegas: Hai manusia, sesungguhnya Kami mencip­takan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal men­genal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

]]> “Turunlah ka­mu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat ke­diaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. al- Baqarah/2:35-36).

Kegelisahan per­tama dan paling mendesak bagi Adam dan Hawa ketika turun di bumi bukan makan atau minum, tetapi kebutu­hannya akan sebuah rumah pertobatan sebagai tempat untuk menyampaikan pertobatan sekaligus tempat penyerahan diri kepada Tuhannya, Allah SWT, lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk membangunkan rumah pertoba­tan tersebut sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas.

Pada mulanya, masjid itu dibangun sebagai rumah untuk peribadatan, guna mengintensifkan komunikasi antara hamba dan Tuhannya, lalu belakangan berkembang menjadi semacam sek­retariat pemberdayaan umat. Fungsi utama masjid memang untuk menjadi tempat pelaksanaan ibadah mahdhah, tetapi terbuka peluang juga untuk melakukan berbagai aktifitas ibadah secara umum. Ibadah secara umum apa saja yang dilakukan dengan karena Allah SWTmaka itu sudah bernilai iba­dah, walaupun wujud kegiatannya ada­lah pendidikan, bisnis, keterampilan, dan aktifitas sosial ekonomi lainnya.

Mengingat lahan semakin terbatas dan masjid-mushalah berada di pusat pemukiman masyarakat, maka amatlah mubazir jika masjid-mushalah hanya dijadikan tempat pelaksanaan ibadah mahshah seperti shalat dan i’tikaf, tetapi sudah saatnya masjid-mushalah dikem­bangkan sebagai pusat pemberdayaan umat dan warga masyarakat. Bahkan jika mencontoh masjid Nabi, bukan hanya untuk umat Islam semata tetapi umat manusia secara keseluruhan.

Allah SWT mengingatkan kita betapa perlunya menghargai dan respek kepada siapapun yang merasa anak cucu Adam, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik dan agama, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. al-Isra’/17:70).

Dalam ayat lain dipertegas: Hai manusia, sesungguhnya Kami mencip­takan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal men­genal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13).
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories