Membangun Peradaban Berbasis Masjid (6) Fungsi Masjid Nabi (19): Tempat Pengendalian Pemerintahan (2) .

Setelah pundi-pundi keuangan tersebut dikumpulkan di masjid dengan admin­istrasi yang amat ketat, di masjid ini juga disa­lurkan kepada para mustahiq atau orang yang pantas menda­patkan bagian zakat tersebut. Termasuk yang mendapatkan porsi bantuan dari masjid ialah mereka para kaum Yahudi yang hidupnya terlunta-lunta.

Suatu saat dijumpai seorang perem­puan tua menderita kelaparan. Ia tidak punya keluarga yang sanggup menang­gung kehidupannya. Lalu ditanyakan kepada Nabi, apakah perempuan Yahudi bisa dibantu? Nabi menjawab, siapapun orang yang menderita kelaparan harus dibantu, tanpa melihat latar belakang agama dan keyakinannya. Akhirnya, perempuan Yahudi itu diberi bantuan dari dana bantuan non-zakat dan wakaf yang memang peruntukannya khusus untuk orang Islam.

Dalam kasus lain, Nabi pernah menginstruksikan mana kala ada barang yang hilang atau barang hilang ditemukan (luqathah), maka Nabi meminta diu­mumkan tiga kali berturut-turut. Jika tidak ada yang mengakuinya, maka barang hilang itu dapat dimanfaatkan oleh yang memungutnya. Jika yang punya barang datang, maka keseluru­han barang luqathah itu dikembalikan kepada yang berhak, kecuali kalau ada kerelaan antara para pihak.

Di masjid Nabi juga, Nabi menetap­kan personil yang akan mengantarkan surat atau pesan kepada kerajaan lain yang dikehendaki Nabi untuk diajak kerjasama. Sekretaris pribadi Nabi, Zaid ibn Tsabit yang menerjemahkan surat Nabi ke dalam bahasa asing sesuai dengan bahasa orang yang di­alamatkan.

Di masjid Nabi juga dimusyawarah­kan berbagai urusan politik antar warga kabilah tetangga yang beragama lain. Termasuk membicarakan sejumlah perjanjian gencatan senjata dan per­janjian kerjasama antar qabilah, yang bermaksud meminta perlindungan kekuatan dari kabilah kuat dari luar lingkungan jazirah Arab.

]]> .
Setelah pundi-pundi keuangan tersebut dikumpulkan di masjid dengan admin­istrasi yang amat ketat, di masjid ini juga disa­lurkan kepada para mustahiq atau orang yang pantas menda­patkan bagian zakat tersebut. Termasuk yang mendapatkan porsi bantuan dari masjid ialah mereka para kaum Yahudi yang hidupnya terlunta-lunta.

Suatu saat dijumpai seorang perem­puan tua menderita kelaparan. Ia tidak punya keluarga yang sanggup menang­gung kehidupannya. Lalu ditanyakan kepada Nabi, apakah perempuan Yahudi bisa dibantu? Nabi menjawab, siapapun orang yang menderita kelaparan harus dibantu, tanpa melihat latar belakang agama dan keyakinannya. Akhirnya, perempuan Yahudi itu diberi bantuan dari dana bantuan non-zakat dan wakaf yang memang peruntukannya khusus untuk orang Islam.

Dalam kasus lain, Nabi pernah menginstruksikan mana kala ada barang yang hilang atau barang hilang ditemukan (luqathah), maka Nabi meminta diu­mumkan tiga kali berturut-turut. Jika tidak ada yang mengakuinya, maka barang hilang itu dapat dimanfaatkan oleh yang memungutnya. Jika yang punya barang datang, maka keseluru­han barang luqathah itu dikembalikan kepada yang berhak, kecuali kalau ada kerelaan antara para pihak.

Di masjid Nabi juga, Nabi menetap­kan personil yang akan mengantarkan surat atau pesan kepada kerajaan lain yang dikehendaki Nabi untuk diajak kerjasama. Sekretaris pribadi Nabi, Zaid ibn Tsabit yang menerjemahkan surat Nabi ke dalam bahasa asing sesuai dengan bahasa orang yang di­alamatkan.

Di masjid Nabi juga dimusyawarah­kan berbagai urusan politik antar warga kabilah tetangga yang beragama lain. Termasuk membicarakan sejumlah perjanjian gencatan senjata dan per­janjian kerjasama antar qabilah, yang bermaksud meminta perlindungan kekuatan dari kabilah kuat dari luar lingkungan jazirah Arab.
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories