Membangun Peradaban Berbasis Masjid (6) Fungsi Masjid Nabi (17): Rumah Perdamaian (1)

Masjid Nabi sering­kali dijadikan tempat untuk mencurahkan perhatian (curhat) para sahabat, baik kepada Nabi maupun kepada sahabat se­nior lainnya. Bukan saja urusan publik, misalnya urusan ke­masyarakatan secara umum, tapi juga dalam urusan privat.

Contohnya, suatu ketika, sahabat Nabi bernama Abu Thalhah, baru saja tiba dari perantauan. Ia tiba di rumahnya di malam hari. Ketika ia menanyakan keadaan anak tunggalnya kepada is­terinya, Ummu Sulaim, lalu dijawab, anaknya sedang istirahat tenang, tidak perlu diganggu dulu, karena sudah larut malam.

Lalu keduanya makan malam, kemudian beristirahat di tempat tidur dan melakukan sesuatu sebagaimana yang lazim dilakukan pasangan suami isteri yang saling merindukan, yakni ber­hubungan suami isteri.

Anaknya sesungguhnya sudah meninggal tetapi isterinya tidak ingin menjemput suaminya yang datang dari perjalanan jauh dengan kedukaan. Maksud isterinya, besok setelah suaminya istirahat baru diceritakan kenyataan sebenarnya tentang kematian anaknya.

Keesokan harinya, sang isteri menceritakan keadaan anaknya, tetapi Abu Thalhah kecewa dan tidak terima, lalu keduanya menjumpai Rasulullah di masjid yang sekaligus berdempetan dengan kediaman Nabi. Ia menceritakan perihal isterinya yang tidak langsung menceritakan kejadian sebenarnya.

Rasulullah menasehati keduanya agar mau menerima kenyataan. Rasulullah bertanya: “Apakah kalian telah melaku­kan hubungan suami isteri semalam? Lalu dijawab “Ya”. Rasulullah kemu­dian mendoakan: “Ya Allah, berikanlah berkah kepada keduanya.” Rasulullah meminta untuk datang lagi kepadanya seandainya ia melahirkan bayinya.

]]> Masjid Nabi sering­kali dijadikan tempat untuk mencurahkan perhatian (curhat) para sahabat, baik kepada Nabi maupun kepada sahabat se­nior lainnya. Bukan saja urusan publik, misalnya urusan ke­masyarakatan secara umum, tapi juga dalam urusan privat.

Contohnya, suatu ketika, sahabat Nabi bernama Abu Thalhah, baru saja tiba dari perantauan. Ia tiba di rumahnya di malam hari. Ketika ia menanyakan keadaan anak tunggalnya kepada is­terinya, Ummu Sulaim, lalu dijawab, anaknya sedang istirahat tenang, tidak perlu diganggu dulu, karena sudah larut malam.

Lalu keduanya makan malam, kemudian beristirahat di tempat tidur dan melakukan sesuatu sebagaimana yang lazim dilakukan pasangan suami isteri yang saling merindukan, yakni ber­hubungan suami isteri.

Anaknya sesungguhnya sudah meninggal tetapi isterinya tidak ingin menjemput suaminya yang datang dari perjalanan jauh dengan kedukaan. Maksud isterinya, besok setelah suaminya istirahat baru diceritakan kenyataan sebenarnya tentang kematian anaknya.

Keesokan harinya, sang isteri menceritakan keadaan anaknya, tetapi Abu Thalhah kecewa dan tidak terima, lalu keduanya menjumpai Rasulullah di masjid yang sekaligus berdempetan dengan kediaman Nabi. Ia menceritakan perihal isterinya yang tidak langsung menceritakan kejadian sebenarnya.

Rasulullah menasehati keduanya agar mau menerima kenyataan. Rasulullah bertanya: “Apakah kalian telah melaku­kan hubungan suami isteri semalam? Lalu dijawab “Ya”. Rasulullah kemu­dian mendoakan: “Ya Allah, berikanlah berkah kepada keduanya.” Rasulullah meminta untuk datang lagi kepadanya seandainya ia melahirkan bayinya.
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories