Membangun Peradaban Berbasis Masjid (4) Fungsi Masjid Nabi (2): Pusat Informasi Publik (1) .

Pada masa Nabi, belum ada sound sys­tem yang dapat digu­nakan untuk mem­perdengarkan suara lebih luar dan keras, belum ada juga sosial media canggih untuk menyampaikan pesat public dengan jang­kauan lebih luas, dan belum ada kantor pos yang dapat men­gantarkan pesan jarak jauh. Semuanya dilaksanakan dengan manual atau krea­si-kreasi sederhana sesuai keberadaan masyarakat saat itu.

Satu-satunya cara paling efektif untuk mendapatkan informasi penting ialah mengunjungi di masjid Nabi. Semua informasi publik dan aktual dalam berbagai urusan diumumkan di masjid. Misalnya, informasi kafilah yang akan datang dan yang akan be­rangkat dari dan ke berbagai manca negara, ada kebijakan baru dari Nabi atau dirinya sebagai kepala pemerintah­an di Madinah, ada kasus-kasus penting yang terjadi di Madinah maupun di luar negeri, semuanya dapat diakses di masjid Nabi.

Bahkan dalam hadis Riwayat Imam Bukhari, Nabi secara periodik men­gundang artis penyanyi dari luar untuk sesekali menghibur masyarakat di Masjid Nabi.

Orang yang jarang ke masjid akan ketinggalan informasi penting. Yang diumumkan di masjid bukan hanya yang berkaitan dengan ibadah khusus (mahdhah) tetapi juga urusan dagang, politik, diplomasi, dan pendidikan. Tidak heran jika disebutkan dalam beberapa Riwayat, para jamaah masjid Nabi memerebutkan shaf-shaf pertama, bukan hanya dengan pahala yang lebih baik, tetapi juga untuk mendapatkan kejelasan informasi dari narasumber, khususnya dari Nabi Muhammad sendiri.

Ada orang sakit dan meninggal diperoleh pertama kali infomasinya dari masjid, lalu orang-orang ramai mengunjungi orang sakit dan men­gantarkan jenazah mayat. Ada barang hilang (luqatah) diinformasikan di masjid. Yang paling penting pada saat itu, isu akan adanya penyerangan dari musuh lalu umat Islam bersiap siaga. Pokoknya, orang-orang selalu berun­tung untuk urusan dunia dan akhirat jika sering datang di masjid Nabi.

]]> .
Pada masa Nabi, belum ada sound sys­tem yang dapat digu­nakan untuk mem­perdengarkan suara lebih luar dan keras, belum ada juga sosial media canggih untuk menyampaikan pesat public dengan jang­kauan lebih luas, dan belum ada kantor pos yang dapat men­gantarkan pesan jarak jauh. Semuanya dilaksanakan dengan manual atau krea­si-kreasi sederhana sesuai keberadaan masyarakat saat itu.

Satu-satunya cara paling efektif untuk mendapatkan informasi penting ialah mengunjungi di masjid Nabi. Semua informasi publik dan aktual dalam berbagai urusan diumumkan di masjid. Misalnya, informasi kafilah yang akan datang dan yang akan be­rangkat dari dan ke berbagai manca negara, ada kebijakan baru dari Nabi atau dirinya sebagai kepala pemerintah­an di Madinah, ada kasus-kasus penting yang terjadi di Madinah maupun di luar negeri, semuanya dapat diakses di masjid Nabi.

Bahkan dalam hadis Riwayat Imam Bukhari, Nabi secara periodik men­gundang artis penyanyi dari luar untuk sesekali menghibur masyarakat di Masjid Nabi.

Orang yang jarang ke masjid akan ketinggalan informasi penting. Yang diumumkan di masjid bukan hanya yang berkaitan dengan ibadah khusus (mahdhah) tetapi juga urusan dagang, politik, diplomasi, dan pendidikan. Tidak heran jika disebutkan dalam beberapa Riwayat, para jamaah masjid Nabi memerebutkan shaf-shaf pertama, bukan hanya dengan pahala yang lebih baik, tetapi juga untuk mendapatkan kejelasan informasi dari narasumber, khususnya dari Nabi Muhammad sendiri.

Ada orang sakit dan meninggal diperoleh pertama kali infomasinya dari masjid, lalu orang-orang ramai mengunjungi orang sakit dan men­gantarkan jenazah mayat. Ada barang hilang (luqatah) diinformasikan di masjid. Yang paling penting pada saat itu, isu akan adanya penyerangan dari musuh lalu umat Islam bersiap siaga. Pokoknya, orang-orang selalu berun­tung untuk urusan dunia dan akhirat jika sering datang di masjid Nabi.
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories