Membangun Peradaban Berbasis Masjid (1) Dahsyatnya Potensi Masjid (1) .

Belum ada data konkrit terakhir ten­tang jumlah masjid, mushalla, langgar, surau, dan meuna­sah, selama dekade terakhir. Data 2012 pernah ditemukan, jumlah masjid, ter­masuk mushalla, langgar, dan surau sudah mencapai 800.000 di seluruh Indonesia.

Bayangkan, begitu luasnya lahan dan space yang merupakan aset um­at ini berada di tengah pemukiman masyarakat. Bayangkan, kalau setiap mesjid dibuatkan serambi yang dapat digunakan untuk melayani kebutuhan sosial ekonomi umat. Bayangkan, kalau mesjid yang sebanyak itu dapat dikelola secara professional.

Masjid dan mushalla umumnya berdiri di atas tanah wakaf. Sekitar 70% di antaranya sudah berkekuatan hukum dalam bentuk sertifikat. Tanah wakaf di Indonesia (2009) sudah mencapai 366.595 lokasi. Jika dihitung dalam ukuran kilometer, luas tanahnya seluas 2.686, 536 km2. Kalau dibentang, luasnya dua kali daratan Singapur, ditambah luas DKI Jakarta.

Potensi mesjid bukan hanya dalam bentuk tanah, bangunan, dan kekayaan yang ada di dalamnya, tetapi juga jamaahnya. Para jamaah mesjid itu ber­variasi. Ada pemilik modal, pengang­guran, mahasiswa, sarjana, anak-anak dan ada orang tua. Kalau semuanya disinerjikan, maka mesjid memiliki multi power yang luar biasa.

Mesjid memiliki power ekonomi karena lokasi masjid berada di tengah perkampungan masyarakat, jamaahnya terdiri atas para pemilik modal, pekerja, dan pemikir. Mesjid juga memiliki power politik, karena masjid seperti negara kecil, karena memiliki imam (pemimpin yang disegani), makmum (rakyat yang loyal dan santun, dan imamah (sistem kemimpinan yang men­gatur antara imam dan makmum).

Masjid bisa menjadi basis kekuatan sosialisasi kebijakan pemerintah karena warganya rata-rata tokoh-tokoh terpan­dang di masyarakat. Mimbar masjid sangat ampuh memberikan legitimasi program-program pemerintah, meski bisa juga terbalik, mimbar-mimbar masjid bisa digunakan untuk melakukan agitasi anti pemerintah.

]]> .
Belum ada data konkrit terakhir ten­tang jumlah masjid, mushalla, langgar, surau, dan meuna­sah, selama dekade terakhir. Data 2012 pernah ditemukan, jumlah masjid, ter­masuk mushalla, langgar, dan surau sudah mencapai 800.000 di seluruh Indonesia.

Bayangkan, begitu luasnya lahan dan space yang merupakan aset um­at ini berada di tengah pemukiman masyarakat. Bayangkan, kalau setiap mesjid dibuatkan serambi yang dapat digunakan untuk melayani kebutuhan sosial ekonomi umat. Bayangkan, kalau mesjid yang sebanyak itu dapat dikelola secara professional.

Masjid dan mushalla umumnya berdiri di atas tanah wakaf. Sekitar 70% di antaranya sudah berkekuatan hukum dalam bentuk sertifikat. Tanah wakaf di Indonesia (2009) sudah mencapai 366.595 lokasi. Jika dihitung dalam ukuran kilometer, luas tanahnya seluas 2.686, 536 km2. Kalau dibentang, luasnya dua kali daratan Singapur, ditambah luas DKI Jakarta.

Potensi mesjid bukan hanya dalam bentuk tanah, bangunan, dan kekayaan yang ada di dalamnya, tetapi juga jamaahnya. Para jamaah mesjid itu ber­variasi. Ada pemilik modal, pengang­guran, mahasiswa, sarjana, anak-anak dan ada orang tua. Kalau semuanya disinerjikan, maka mesjid memiliki multi power yang luar biasa.

Mesjid memiliki power ekonomi karena lokasi masjid berada di tengah perkampungan masyarakat, jamaahnya terdiri atas para pemilik modal, pekerja, dan pemikir. Mesjid juga memiliki power politik, karena masjid seperti negara kecil, karena memiliki imam (pemimpin yang disegani), makmum (rakyat yang loyal dan santun, dan imamah (sistem kemimpinan yang men­gatur antara imam dan makmum).

Masjid bisa menjadi basis kekuatan sosialisasi kebijakan pemerintah karena warganya rata-rata tokoh-tokoh terpan­dang di masyarakat. Mimbar masjid sangat ampuh memberikan legitimasi program-program pemerintah, meski bisa juga terbalik, mimbar-mimbar masjid bisa digunakan untuk melakukan agitasi anti pemerintah.
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories