Mau Buldozer Yang Halangi Kerja Pemerintah Luhut Galak Banget

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sedang berusaha sekuat tenaga memangkas biaya logistik di Tanah Air. Agar usahanya ini berhasil, Luhut tebar ancaman akan membuldozer siapa pun yang coba-coba menghalanginya. Wah, galak banget ya!

Ancaman itu keluar dari mulut Luhut saat peluncuran Batam Logistic Ecosystem (BLE), di Batam, Kepulauan Riau, kemarin. Luhut sangat kesal karena selama ini biaya logistik di Indonesia sangat mahal. Sementara di negara lain, seperti Singapura, bisa murah. Kondisi tersebut membuat banyak kapal memilih berlabuh di Singapura dibanding di Batam. Padahal, potensi Batam cukup besar. Sudah begitu, jarak antar kedua pulau di Selat Malaka ini, hanya “selemparan batu”.

Luhut merinci, di Singapura, biaya logistik hanya 13 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara Indonesia, mencapai 25,3 persen. “Masak beda hampir 10 persen,” omel Luhut, dalam konferensi pers, usai peluncuran BLE.

Sebelum konpers, Luhut sempat muter-muter dengan helikopter, melihat area labuh jangkar di Perairan Kabil dan Batu Ampar. Ia tidak terbang sendirian. Ada sejumlah menteri yang mendampingi. Yaitu, Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. 

Dalam konpers itu, Luhut bikin hitung-hitungan. Dengan 6 lego jangkar yang tersisa, ia yakin dapat menarik ribuan kapal. Dengan catatan, ditertibkan dan dipromosikan secara bergelombang. “(Dari) 81 ribu kapal itu (yang melalui Selat Malaka), kalau kita bisa ambil 20 persen saja, kita mendapatkan penerimaan cukup besar,” terangnya.

Dengan platform digital BLE yang baru diluncurkan, Luhut yakin, pengaturan bisa lebih tertib dan efisien. Yang muaranya dapat menekan biaya logistik. BLE ini adalah percontohan, yang nantinya akan segera diduplikasi ke tempat lainnya. 

Duplikasinya dinamai National Logistic Ecosystem (NLE). Targetnya kelar tahun ini dan bisa langsung dijalankan di 8 pelabuhan besar. Di antaranya, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Mas Semarang, Tanjung Perak Surabaya, hingga Pelabuhan Makassar. 

Ke depan, tidak menutup kemungkinan NLE akan diintegrasikan dengan bandara. “Kami sudah rapat, pokoknya bisa. Siapa yang menghalangi, kita buldozerin,” ancam Luhut, dengan agak sedikit membanting mikrofonnya ke meja.

NLE dibikin untuk menyelaraskan lalu lintas barang dengan dokumen internasional, mulai kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang tujuan. Platform digital ini dapat mempercepat proses logistik end to end, sehingga dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan pengguna jasa dalam layanan ship to ship atau floating storage unit. Selain itu, platform ini juga bisa beroperasi selama 24 jam dan 7 hari seminggu, meningkatkan akurasi data hingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Dengan demikian, platform ini bisa jadi sistem yang murah dan nyaman. Luhut menargetkan, biaya logistik nasional bisa turun hingga 17 persen di 2024. “BLE diharapkan mampu mendorong investasi lebih banyak masuk,” harapnya.

 

Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang duduk di sebelah kiri Luhut, juga bilang demikian. Kata dia, mahalnya biaya logistik di Tanah Air selama ini bikin investor mumet. “Karena kita langsung tahu perusahaan yang beroperasi di sini itu 10 persen kalah kompetisinya. Hanya dari biaya logistik,” kata Sri Mul.

Bendahara negara itu juga menyinggung berbelit-belitnya proses pengajuan perizinan berusaha. Sehingga pelaku usaha harus merogoh biaya tak sedikit dan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan perizinan. Alhasil, Indonesia jadi kalah seksi dari negara tetangga untuk berinvestasi.

Ia meyakini, platform BLE atau NLE akan mampu menyelesaikan semua biang kerok yang selama ini menghambat investasi. “Ingin investasi datang ke sini, harus (biaya logistik) competitiveness,” tegasnya.

Ekonom Piter Abdullah memandang, terobosan platform digital untuk memangkas biaya logistik ini adalah langkah tepat. Namun, ia memberikan beberapa catatan. “Menyelesaikan persoalan (mahalnya biaya) logistik ini tidak hanya cukup dengan platform digital,” kata Piter, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Direktur Riset CORE Indonesia ini melihat, permasalahannya sangat kompleks. Sehingga diperlukan upaya-upaya lain. Seperti pembenahan infrastruktur yang tengah dikebut pemerintah. “Yang lebih penting lagi adalah SDM, itu yang utama dan sangat menentukan,” tambahnya. 

Ia tak mempersoalkan sikap Luhut yang galak terhadap pihak-pihak yang tidak ingin terobosan pemerintah berjalan mulus. “Ya namanya semangat pemerintah harus diapresiasi. Harus ditanggapi dengan baik,” pungkasnya. [SAR]

]]> Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sedang berusaha sekuat tenaga memangkas biaya logistik di Tanah Air. Agar usahanya ini berhasil, Luhut tebar ancaman akan membuldozer siapa pun yang coba-coba menghalanginya. Wah, galak banget ya!

Ancaman itu keluar dari mulut Luhut saat peluncuran Batam Logistic Ecosystem (BLE), di Batam, Kepulauan Riau, kemarin. Luhut sangat kesal karena selama ini biaya logistik di Indonesia sangat mahal. Sementara di negara lain, seperti Singapura, bisa murah. Kondisi tersebut membuat banyak kapal memilih berlabuh di Singapura dibanding di Batam. Padahal, potensi Batam cukup besar. Sudah begitu, jarak antar kedua pulau di Selat Malaka ini, hanya “selemparan batu”.

Luhut merinci, di Singapura, biaya logistik hanya 13 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara Indonesia, mencapai 25,3 persen. “Masak beda hampir 10 persen,” omel Luhut, dalam konferensi pers, usai peluncuran BLE.

Sebelum konpers, Luhut sempat muter-muter dengan helikopter, melihat area labuh jangkar di Perairan Kabil dan Batu Ampar. Ia tidak terbang sendirian. Ada sejumlah menteri yang mendampingi. Yaitu, Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. 

Dalam konpers itu, Luhut bikin hitung-hitungan. Dengan 6 lego jangkar yang tersisa, ia yakin dapat menarik ribuan kapal. Dengan catatan, ditertibkan dan dipromosikan secara bergelombang. “(Dari) 81 ribu kapal itu (yang melalui Selat Malaka), kalau kita bisa ambil 20 persen saja, kita mendapatkan penerimaan cukup besar,” terangnya.

Dengan platform digital BLE yang baru diluncurkan, Luhut yakin, pengaturan bisa lebih tertib dan efisien. Yang muaranya dapat menekan biaya logistik. BLE ini adalah percontohan, yang nantinya akan segera diduplikasi ke tempat lainnya. 

Duplikasinya dinamai National Logistic Ecosystem (NLE). Targetnya kelar tahun ini dan bisa langsung dijalankan di 8 pelabuhan besar. Di antaranya, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Mas Semarang, Tanjung Perak Surabaya, hingga Pelabuhan Makassar. 

Ke depan, tidak menutup kemungkinan NLE akan diintegrasikan dengan bandara. “Kami sudah rapat, pokoknya bisa. Siapa yang menghalangi, kita buldozerin,” ancam Luhut, dengan agak sedikit membanting mikrofonnya ke meja.

NLE dibikin untuk menyelaraskan lalu lintas barang dengan dokumen internasional, mulai kedatangan sarana pengangkut hingga barang tiba di gudang tujuan. Platform digital ini dapat mempercepat proses logistik end to end, sehingga dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan pengguna jasa dalam layanan ship to ship atau floating storage unit. Selain itu, platform ini juga bisa beroperasi selama 24 jam dan 7 hari seminggu, meningkatkan akurasi data hingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Dengan demikian, platform ini bisa jadi sistem yang murah dan nyaman. Luhut menargetkan, biaya logistik nasional bisa turun hingga 17 persen di 2024. “BLE diharapkan mampu mendorong investasi lebih banyak masuk,” harapnya.

 

Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang duduk di sebelah kiri Luhut, juga bilang demikian. Kata dia, mahalnya biaya logistik di Tanah Air selama ini bikin investor mumet. “Karena kita langsung tahu perusahaan yang beroperasi di sini itu 10 persen kalah kompetisinya. Hanya dari biaya logistik,” kata Sri Mul.

Bendahara negara itu juga menyinggung berbelit-belitnya proses pengajuan perizinan berusaha. Sehingga pelaku usaha harus merogoh biaya tak sedikit dan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan perizinan. Alhasil, Indonesia jadi kalah seksi dari negara tetangga untuk berinvestasi.

Ia meyakini, platform BLE atau NLE akan mampu menyelesaikan semua biang kerok yang selama ini menghambat investasi. “Ingin investasi datang ke sini, harus (biaya logistik) competitiveness,” tegasnya.

Ekonom Piter Abdullah memandang, terobosan platform digital untuk memangkas biaya logistik ini adalah langkah tepat. Namun, ia memberikan beberapa catatan. “Menyelesaikan persoalan (mahalnya biaya) logistik ini tidak hanya cukup dengan platform digital,” kata Piter, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Direktur Riset CORE Indonesia ini melihat, permasalahannya sangat kompleks. Sehingga diperlukan upaya-upaya lain. Seperti pembenahan infrastruktur yang tengah dikebut pemerintah. “Yang lebih penting lagi adalah SDM, itu yang utama dan sangat menentukan,” tambahnya. 

Ia tak mempersoalkan sikap Luhut yang galak terhadap pihak-pihak yang tidak ingin terobosan pemerintah berjalan mulus. “Ya namanya semangat pemerintah harus diapresiasi. Harus ditanggapi dengan baik,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories