Masjid dan Peradaban Islam

Sejarah tak pernah melupakan, pada 21 Agustus 1969, Masjid Al Aqsa dibakar oleh rezim Zionis Israel. Akibatnya, 1.500 meter persegi dari ruang Masjid Al Aqsa hancur dan mimbar bersejarah Salahuddin al-Ayyubi (1168 M) hangus terbakar.

Bertahun-tahun kemudian, memperingati kejadian ini yang melukai hati umat muslim dunia, atas usulanan Republik Islam Iran dan persetujuan negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada KTT ke-30 badan ini, setiap 21 Agustus diperingati sebagai “Hari Masjid Internasional” (World Mosque Day atau International Day of Mosques).

Masjid merupakan salah satu simbol utama peradaban Islam yang sepanjang sejarah telah mempertahankan nilainya dan kredibilitas di kalangan Muslim. Tahun-tahun awal Islam diturunkan adalah periode paling cemerlang bagi masjid karena pada saat itu, masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan merupakan tempat kegiatan ekonomi, sosial, politik, yudisial dan militer.

Kini di abad ke-21, dunia Islam demi membangun kembali kejayaan peradabannya harus berusaha mendekatkan fungsi masjid pada tahun-tahun awal era Islam, agar potensi yang luar biasa yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk berbagai langkah kemajuan.

Pada kesempatan Hari Masjid Internasional, artikel ini mencoba membahas berbagai dimensi sejarah, sosial, agama, budaya dan politik masjid untuk menggambarkan kedudukan dan posisi strategis masjid.

Masjid dan Sejarah Islam

Kabah (Baitullah) adalah basis pertama yang telah didirikankan oleh Nabi Ibrahim untuk penyembahan manusia di bumi. Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah dari Mekah membangun masjid pertama agama Islam, yaitu Masjid Quba (622 M) yang berjarak sekitar 3,5 km dari selatan di Madinah dan kemudian Masjid Nabawi (662 M) berlokasi di pusat kota Madinah.

Kedua masjid ini sepanjang masa hidup Nabi Muhammad SAW dan setelah meninggalnya Baginda Nabi selalu menjadi pusat berkumpulnya masyarakat untuk berbagai aktivitas agama, politik, sosial, budaya dan lain-lain.

Kata masjid sendiri telah 28 kali disebutkan dalam berbagai ayat Kitab Suci Alquran. Dalam ayat-ayat mulia ini kedudukan penting masjid, peran masjid dalam agama serta berbagai tata cara yang berhubungan dengan kegiatan di masjid telah diterangkan.

 

Masjid: Pusat Musyawarah dan Pengambilan Keputusan

Salah satu faktor kunci dalam mencapai kesuksesan dan merasakan keberhasilan adalah konsultasi dan musyawarah. Sejarah Islam telah memperlihatkan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam hampir semua hal di mana tidak ada perintah langsung dari wahyu, selalu membuat keputusan melalui musyawarah dengan umat Islam.

Konsultasi ini biasanya dilakukan di masjid. Memilih lokasi luar kota Madinah untuk menghadapi kaum musyrik dalam perang Uhud atau menggali parit di utara kota Madinah dalam perang Khandaq adalah contoh keputusan yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW melalui musyawarah dengan para muslimin di Masjid.

Masjid dan Kerjasama Sosial

Masjid selalu menjadi tempat berlindung dan tempat menerima orang-orang yang membutuhkan. Kehadiran kaum ini di masjid memiliki dua manfaat sepanjang sejarah Islam. Pertama, mencegah kesengsaraan mereka.

Kedua, orang-orang ini yang berasal dari golongan miskin yang memerlukan bantuan selalu berada di depan mata para penguasa dan rakyat, serta tidak menghilang dari pandangan di tengah hiruk pikuk kota.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin selalu berpikir membantu mereka melalui berbagai cari serta mereka didahulukan ketika terdapat fasilitas maupun rezeki yang didapatkan. Selain itu, masjid adalah tempat perlindungan bagi orang-orang pendatang dan “Ibnu Sabil”, yaitu orang-orang asing yang dalam perjalanan dan tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya.

Dengan demikian, sepanjang sejarah di kota-kota Islam, setiap kali pendatang baru memasuki sebuah kota dan tidak mengenal siapapun di kota itu, ia akan langsung mencari masjid dan tinggal di sana untuk sementara waktu.

Pada masa tahun-tahun awal Islam, bakti sosial merupakan salah satu fungsi masjid. Mengidentifikasi orang-orang yang membutuhkan, merangkul mereka dan mengumpulkan bantuan untuknya, memberikan pinjaman, memfasilitasi pernikahan pasangan muda, membuat rencana untuk mengunjungi dan membesuk orang sakit, dan sejenisnya, adalah beberapa contoh kegiatan sosial komunitas masjid pada tahun-tahun pertama Islam diturunkan.

 

Masjid dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Sepanjang sejarah Islam dan sejarah kontemporer, peranan masjid begitu penting dan sentral, sehingga perdagangan dan bisnis rakyat telah didirikan di sekitar atau di tengah masjid. Keberadaan masjid dalam bazar selalu mengarah pada kemakmuran ekonomi dan perolehan halal.

Sering kali ditemukan di berbagai negara bahwa masjid melalui berbagai pintunya memiliki akses langsung dengan bazar di sekelilingnya. Interaksi dekat antara para pengunjung masjid dan bazar selalu menghasilkan kegiatan perdagangan dan perekonomian yang berakhlak Islami dan mengarah kepada solidaritas sosial dan persatuan serta menyebabkan biaya perdagangan antara umat Islam sangat berkurang.

Keterkaitan antara perekonomian sehari-hari masyarakat dengan masjid merupakan ciri umat muslim yang bahkan dapat dilihat hingga saat ini di Asia Barat dan Timur, seperti masjid-masjid Iran di berbagai pelosok negeri dan masjid-masjid di Indonesia di berbagai kota, termasuk di Banda Aceh.

Masjid, Manifestasi Persatuan

Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam dan manifestasi mulia dari kohesi dan persatuan bangsa Muslim. Masjid adalah simbol penjaga kesehatan dan kemurnian agama dan kehidupan bermasyarakat, dimana dengan kehadiran pada para jamaah padanya menjamin kelangsungan Islam yang sesungguhnya.

Kehadiran jamaah di masjid membuat harapan musuh-musuh Islam menjadi putus asa. Pada tahun-tahun awal Islam, kehadiran umat Islam selama shalat di masjid merupakan tanda kekuatan Islam. Kehadiran ini membuktikan kekuatan sosial, politik dan militer umat Islam.

Masjid selalu memainkan peran dalam menciptakan persatuan dalam masyarakat Islam, dan jika terdapat masjid yang tidak memiliki peran demikian, maka akan disalahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Masjid Dhirar adalah contoh masjid yang dibangun oleh kelompok munafiq dengan tujuan memecah belah umat Islam. Masjid ini yang sungguh melenceng jauh dari nilai-nilai mulia masjid dihancurkan oleh Nabi Muhammad SAW atas perintah Allah Yang Maha Kuasa.

Sekarang pun para musuh Islam dan umat Islam terus-menerus berusaha menghancurkan persatuan umat Islam dan membuka jalan bagi pengaruh dan dominasi mereka dengan mengobarkan perselisihan dan perpecahan di tengah umat Islam.

Kehadiran pemeluk agama Islam dari berbagai mazhab dalam barisan shalat di masjid akan menghancurkan berbagai rencana jahat musuh dan menyebabkan kegagalan mereka.

 

Masjid dan Perlindungan Keadilan

Pada masa awal Islam, masjid menjadi tempat perlindungan bagi kaum tertindas dan tempat orang mengadu. Selama periode ini, hampir semua masalah hukum dan perselisihan antara orang-orang diselesaikan di masjid. Mengadili dan menilai berbagai kasus oleh para tokoh agama terkemuka di Masjid Kufah dalam sejarah Islam menunjukkan hubungan historis antara masjid dan keadilan.

Saat ini, meski sebagian besar persidangan berlangsung di pusat-pusat peradilan, tetapi kehadiran imam masjid di lingkungan masjid tetap dapat digunakan sebagai pihak yang akan menengahi perselisihan antar masyarakat dan mendamaikan kedua pihak yang bersengketa.

Masjid dan Pendidikan dan Pembelajaran

Pada masa awal Islam, masjid selain sebagai tempat ibadah juga menjadi tempat para jamaah yang ingin belajar. Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan agama, Al Quran dan bahkan masalah sejarah di masjid kepada umatnya. Apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi dalam pertemuan-pertemuan pendidikan ini adalah sesuai dengan kapasitas intelektual para pendengar.

Biasanya pertemuan-pertemuan tersebut diadakan setelah waktu shalat seperti pagi dan sore yaitu ketika banyak jamaah hadir di masjid. Selain Masjid Nabawi, ritual pendidikan dan pengajian juga diadakan di berbagai masjid lain di Madinah di mana Rasulullah SAW menugaskan beberapa sahabatnya untuk memimpin shalat di masjid-masjid tersebut dan mengajar kepada para jamaah yang hadir.

 

Masjid dan Amar Makruf Nahi Mungkar

Sejak awal, masjid telah menjadi tempat menunaikan kewajiban amar makruf dan nahi munkar (menegakkan yang benar dan melarang yang salah). Manifestasi yang nyata dari fakta ini adalah aktivitas berdakwah di masjid pada masa Nabi Muhammad SAW, di mana beliau mengkomunikasikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan umat Islam dalam kehidupan dan terhadap sesama.

Di sisi lain, kehadiran mulia orang-orang beriman di masjid menciptakan suasana mempesona yang membawa manusia ke arah kebaikan. Orang yang bergabung hadir di masjid sedang melakukan salah satu bentuk terbaik makruf (kebaikan) dan pada saat bersamaan sedang berusaha menjauhkan dirinya dari berbagai bentuk dosa.

Masjid Tempat Penghubung antara Agama dan Politik

Masjid adalah pusat pemerintahan dan basis kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Fondasi dasar pemerintahan Islam didirikan di masjid pada masa Baginda Rasulullah, di mana prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama Islam disampaikan kepada masyarakat di tempat suci ini.

Karena itu, masjid merupakan simbol integrasi agama dan politik serta tempat pertemuan, dialog, dan negosiasi Nabi Muhammad SAW dengan berbagai delegasi politik. Pengangkatan perwakilan dan utusan di era Nabi Islam juga dilakukan di masjid.

 

Masjid di Iran

Berdasarkan berbagai naskah sejarah, masjid pertama di Iran didirikan pada saat kedatangan tentara Islam ke Iran, yaitu ketika Dinasti Sassaniyah (644 M) berkuasa di tanah Persia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa masjid pertama di Iran dibangun oleh Sa’d Ibn Abi Waqqas di kota Tisfon (Ctesiphon).

Kemudian, masjid Agung Asir, Bukhara, Adineh, Fahraj, Tarikhaneh Damghan, Yazd Khast, Masjid Agung Isfahan merupakan masjid-masjid tertua dan bersejarah lainnya di Iran.

Di samping semua pengaruh spiritual masjid pada kehidupan bangsa Iran, masjid telah memainkan peran yang sangat penting dalam perjuangan melawan hegemoni rakyat Iran. Bangsa Muslim Iran untuk pertama kalinya memulai perjuangan melawan rezim penindas Pahlevi dari masjid dan menjadikannya pusat kegiatan kampanye dan perlawanan mereka.

Selanjutnya, masjid menjadi basis revolusi dan pusat penyebaran ajaran Islam serta tempat persatuan kekuatan revolusioner yang akhirnya mengarah pada kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979.

Bagi masyarakat Iran, masjid selalu memiliki tempat istimewa, sedemikian rupa sehingga Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Agung Republik Islam Iran, menggambarkan masjid sebagai tolok ukur dan penegak agama Islam.

Para pejabat tinggi Republik Islam Iran percaya bahwa dengan situasi saat umat Islam dimana terjadi beragam insiden dan penodaan terhadap kehormatan berbagai masjid dunia serta beragam tempat suci bagi Muslimin, maka masjid harus dianggap tolok ukur yang menegakkan Islam di berbagai belahan dunia.

 

Masjid di Indonesia

Masjid sebagai perwujudan identitas keagamaan dan sosial umat Islam telah menjadi bagian yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena selain sebagai basis penyebaran budaya dan dakwah pendidikan Islam, masjid juga merupakan tempat perjuangan politik dan sosial. Karena itulah pembangunan masjid di Indonesia selalu menjadi perhatian umat Islam di negeri ini.

Masjid di Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, merupakan simbol solidaritas sosial, budaya, dan agama serta merupakan tempat memperkokohnya pendekatan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Dalam kaitan ini, kebijaksanaan para pemimpin, ulama dan imam di masjid-masjid di Indonesia merupakan faktor berpengaruh lain yang mampu membawa masjid lebih dekat kriteria Islami dan moderasi.

Bila hari ini di Indonesia yang begitu beragam kita menyaksikan solidaritas dan persatuan di tengah pengikut beragam mazhab Islam maupun dengan para pemeluk agama lain, maka pencapaian ini tidak lain adalah implementasi prinsip-prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin (penyebar kasih sayang untuk semesta) dan Islam Wasathiyah (moderat) oleh para ulama negeri ini di masjid-masjidnya.

 

Akhirulkalam

Diharapkan, dengan memperluas dan melembagakan nilai-nilai Islam, persatuan, kemanusiaan dan sosial pada institusi-institusi yang berkontribusi terhadap peradaban, langkah yang lebih berarti dapat diambil untuk memuliakan Umat Muslim dan memajukan kepentingan bersama negara-negara yang mencintai kebebasan dan dengan solidaritas dan persatuan yang dihasilkan, selain dapat menyelesaikan berbagai masalah dunia Islam, seperti kemerdekaan Palestina dan pembebasan Quds Suci, juga mengarah pada mencipatakan kembali peradaban baru Islam.

Begitu juga dengan adanya perkembangan yang amat pesat di bidang ilmu pengetahuan khususnya dunia digital, maka sangat dianjurkan agar para ulama, imam dan pengelola masjid dapat menggunakan platform digital dan basis media massa yang baru untuk berinteraksi dengan para jamaah melalui beragam pendekatan yang inovatif dan bermanfaat.

Komunikasi daring dan infovatif dalam berdakwah di masjid akan menciptakan daya tarik tersendiri khususnya pada saat pandemi covid-19. Hal ini juga menyebabkan minat kaum milenial terhadap masjid dan aktivitasnya meningkat serta memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masjid untuk membentengi beragam penyimpangan yang dapat merusak citra Islam, serta menjamin pencapaian masjid kepada cita-cita peradaban Islaminya. [*]

]]> Sejarah tak pernah melupakan, pada 21 Agustus 1969, Masjid Al Aqsa dibakar oleh rezim Zionis Israel. Akibatnya, 1.500 meter persegi dari ruang Masjid Al Aqsa hancur dan mimbar bersejarah Salahuddin al-Ayyubi (1168 M) hangus terbakar.

Bertahun-tahun kemudian, memperingati kejadian ini yang melukai hati umat muslim dunia, atas usulanan Republik Islam Iran dan persetujuan negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada KTT ke-30 badan ini, setiap 21 Agustus diperingati sebagai “Hari Masjid Internasional” (World Mosque Day atau International Day of Mosques).

Masjid merupakan salah satu simbol utama peradaban Islam yang sepanjang sejarah telah mempertahankan nilainya dan kredibilitas di kalangan Muslim. Tahun-tahun awal Islam diturunkan adalah periode paling cemerlang bagi masjid karena pada saat itu, masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah melainkan merupakan tempat kegiatan ekonomi, sosial, politik, yudisial dan militer.

Kini di abad ke-21, dunia Islam demi membangun kembali kejayaan peradabannya harus berusaha mendekatkan fungsi masjid pada tahun-tahun awal era Islam, agar potensi yang luar biasa yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk berbagai langkah kemajuan.

Pada kesempatan Hari Masjid Internasional, artikel ini mencoba membahas berbagai dimensi sejarah, sosial, agama, budaya dan politik masjid untuk menggambarkan kedudukan dan posisi strategis masjid.

Masjid dan Sejarah Islam

Kabah (Baitullah) adalah basis pertama yang telah didirikankan oleh Nabi Ibrahim untuk penyembahan manusia di bumi. Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah dari Mekah membangun masjid pertama agama Islam, yaitu Masjid Quba (622 M) yang berjarak sekitar 3,5 km dari selatan di Madinah dan kemudian Masjid Nabawi (662 M) berlokasi di pusat kota Madinah.

Kedua masjid ini sepanjang masa hidup Nabi Muhammad SAW dan setelah meninggalnya Baginda Nabi selalu menjadi pusat berkumpulnya masyarakat untuk berbagai aktivitas agama, politik, sosial, budaya dan lain-lain.

Kata masjid sendiri telah 28 kali disebutkan dalam berbagai ayat Kitab Suci Alquran. Dalam ayat-ayat mulia ini kedudukan penting masjid, peran masjid dalam agama serta berbagai tata cara yang berhubungan dengan kegiatan di masjid telah diterangkan.

 

Masjid: Pusat Musyawarah dan Pengambilan Keputusan

Salah satu faktor kunci dalam mencapai kesuksesan dan merasakan keberhasilan adalah konsultasi dan musyawarah. Sejarah Islam telah memperlihatkan bahwa Nabi Muhammad SAW dalam hampir semua hal di mana tidak ada perintah langsung dari wahyu, selalu membuat keputusan melalui musyawarah dengan umat Islam.

Konsultasi ini biasanya dilakukan di masjid. Memilih lokasi luar kota Madinah untuk menghadapi kaum musyrik dalam perang Uhud atau menggali parit di utara kota Madinah dalam perang Khandaq adalah contoh keputusan yang diambil oleh Nabi Muhammad SAW melalui musyawarah dengan para muslimin di Masjid.

Masjid dan Kerjasama Sosial

Masjid selalu menjadi tempat berlindung dan tempat menerima orang-orang yang membutuhkan. Kehadiran kaum ini di masjid memiliki dua manfaat sepanjang sejarah Islam. Pertama, mencegah kesengsaraan mereka.

Kedua, orang-orang ini yang berasal dari golongan miskin yang memerlukan bantuan selalu berada di depan mata para penguasa dan rakyat, serta tidak menghilang dari pandangan di tengah hiruk pikuk kota.

Karena itu, Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin selalu berpikir membantu mereka melalui berbagai cari serta mereka didahulukan ketika terdapat fasilitas maupun rezeki yang didapatkan. Selain itu, masjid adalah tempat perlindungan bagi orang-orang pendatang dan “Ibnu Sabil”, yaitu orang-orang asing yang dalam perjalanan dan tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya.

Dengan demikian, sepanjang sejarah di kota-kota Islam, setiap kali pendatang baru memasuki sebuah kota dan tidak mengenal siapapun di kota itu, ia akan langsung mencari masjid dan tinggal di sana untuk sementara waktu.

Pada masa tahun-tahun awal Islam, bakti sosial merupakan salah satu fungsi masjid. Mengidentifikasi orang-orang yang membutuhkan, merangkul mereka dan mengumpulkan bantuan untuknya, memberikan pinjaman, memfasilitasi pernikahan pasangan muda, membuat rencana untuk mengunjungi dan membesuk orang sakit, dan sejenisnya, adalah beberapa contoh kegiatan sosial komunitas masjid pada tahun-tahun pertama Islam diturunkan.

 

Masjid dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Sepanjang sejarah Islam dan sejarah kontemporer, peranan masjid begitu penting dan sentral, sehingga perdagangan dan bisnis rakyat telah didirikan di sekitar atau di tengah masjid. Keberadaan masjid dalam bazar selalu mengarah pada kemakmuran ekonomi dan perolehan halal.

Sering kali ditemukan di berbagai negara bahwa masjid melalui berbagai pintunya memiliki akses langsung dengan bazar di sekelilingnya. Interaksi dekat antara para pengunjung masjid dan bazar selalu menghasilkan kegiatan perdagangan dan perekonomian yang berakhlak Islami dan mengarah kepada solidaritas sosial dan persatuan serta menyebabkan biaya perdagangan antara umat Islam sangat berkurang.

Keterkaitan antara perekonomian sehari-hari masyarakat dengan masjid merupakan ciri umat muslim yang bahkan dapat dilihat hingga saat ini di Asia Barat dan Timur, seperti masjid-masjid Iran di berbagai pelosok negeri dan masjid-masjid di Indonesia di berbagai kota, termasuk di Banda Aceh.

Masjid, Manifestasi Persatuan

Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam dan manifestasi mulia dari kohesi dan persatuan bangsa Muslim. Masjid adalah simbol penjaga kesehatan dan kemurnian agama dan kehidupan bermasyarakat, dimana dengan kehadiran pada para jamaah padanya menjamin kelangsungan Islam yang sesungguhnya.

Kehadiran jamaah di masjid membuat harapan musuh-musuh Islam menjadi putus asa. Pada tahun-tahun awal Islam, kehadiran umat Islam selama shalat di masjid merupakan tanda kekuatan Islam. Kehadiran ini membuktikan kekuatan sosial, politik dan militer umat Islam.

Masjid selalu memainkan peran dalam menciptakan persatuan dalam masyarakat Islam, dan jika terdapat masjid yang tidak memiliki peran demikian, maka akan disalahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Masjid Dhirar adalah contoh masjid yang dibangun oleh kelompok munafiq dengan tujuan memecah belah umat Islam. Masjid ini yang sungguh melenceng jauh dari nilai-nilai mulia masjid dihancurkan oleh Nabi Muhammad SAW atas perintah Allah Yang Maha Kuasa.

Sekarang pun para musuh Islam dan umat Islam terus-menerus berusaha menghancurkan persatuan umat Islam dan membuka jalan bagi pengaruh dan dominasi mereka dengan mengobarkan perselisihan dan perpecahan di tengah umat Islam.

Kehadiran pemeluk agama Islam dari berbagai mazhab dalam barisan shalat di masjid akan menghancurkan berbagai rencana jahat musuh dan menyebabkan kegagalan mereka.

 

Masjid dan Perlindungan Keadilan

Pada masa awal Islam, masjid menjadi tempat perlindungan bagi kaum tertindas dan tempat orang mengadu. Selama periode ini, hampir semua masalah hukum dan perselisihan antara orang-orang diselesaikan di masjid. Mengadili dan menilai berbagai kasus oleh para tokoh agama terkemuka di Masjid Kufah dalam sejarah Islam menunjukkan hubungan historis antara masjid dan keadilan.

Saat ini, meski sebagian besar persidangan berlangsung di pusat-pusat peradilan, tetapi kehadiran imam masjid di lingkungan masjid tetap dapat digunakan sebagai pihak yang akan menengahi perselisihan antar masyarakat dan mendamaikan kedua pihak yang bersengketa.

Masjid dan Pendidikan dan Pembelajaran

Pada masa awal Islam, masjid selain sebagai tempat ibadah juga menjadi tempat para jamaah yang ingin belajar. Nabi Muhammad SAW selalu mengajarkan agama, Al Quran dan bahkan masalah sejarah di masjid kepada umatnya. Apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi dalam pertemuan-pertemuan pendidikan ini adalah sesuai dengan kapasitas intelektual para pendengar.

Biasanya pertemuan-pertemuan tersebut diadakan setelah waktu shalat seperti pagi dan sore yaitu ketika banyak jamaah hadir di masjid. Selain Masjid Nabawi, ritual pendidikan dan pengajian juga diadakan di berbagai masjid lain di Madinah di mana Rasulullah SAW menugaskan beberapa sahabatnya untuk memimpin shalat di masjid-masjid tersebut dan mengajar kepada para jamaah yang hadir.

 

Masjid dan Amar Makruf Nahi Mungkar

Sejak awal, masjid telah menjadi tempat menunaikan kewajiban amar makruf dan nahi munkar (menegakkan yang benar dan melarang yang salah). Manifestasi yang nyata dari fakta ini adalah aktivitas berdakwah di masjid pada masa Nabi Muhammad SAW, di mana beliau mengkomunikasikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan umat Islam dalam kehidupan dan terhadap sesama.

Di sisi lain, kehadiran mulia orang-orang beriman di masjid menciptakan suasana mempesona yang membawa manusia ke arah kebaikan. Orang yang bergabung hadir di masjid sedang melakukan salah satu bentuk terbaik makruf (kebaikan) dan pada saat bersamaan sedang berusaha menjauhkan dirinya dari berbagai bentuk dosa.

Masjid Tempat Penghubung antara Agama dan Politik

Masjid adalah pusat pemerintahan dan basis kepemimpinan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Fondasi dasar pemerintahan Islam didirikan di masjid pada masa Baginda Rasulullah, di mana prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama Islam disampaikan kepada masyarakat di tempat suci ini.

Karena itu, masjid merupakan simbol integrasi agama dan politik serta tempat pertemuan, dialog, dan negosiasi Nabi Muhammad SAW dengan berbagai delegasi politik. Pengangkatan perwakilan dan utusan di era Nabi Islam juga dilakukan di masjid.

 

Masjid di Iran

Berdasarkan berbagai naskah sejarah, masjid pertama di Iran didirikan pada saat kedatangan tentara Islam ke Iran, yaitu ketika Dinasti Sassaniyah (644 M) berkuasa di tanah Persia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa masjid pertama di Iran dibangun oleh Sa’d Ibn Abi Waqqas di kota Tisfon (Ctesiphon).

Kemudian, masjid Agung Asir, Bukhara, Adineh, Fahraj, Tarikhaneh Damghan, Yazd Khast, Masjid Agung Isfahan merupakan masjid-masjid tertua dan bersejarah lainnya di Iran.

Di samping semua pengaruh spiritual masjid pada kehidupan bangsa Iran, masjid telah memainkan peran yang sangat penting dalam perjuangan melawan hegemoni rakyat Iran. Bangsa Muslim Iran untuk pertama kalinya memulai perjuangan melawan rezim penindas Pahlevi dari masjid dan menjadikannya pusat kegiatan kampanye dan perlawanan mereka.

Selanjutnya, masjid menjadi basis revolusi dan pusat penyebaran ajaran Islam serta tempat persatuan kekuatan revolusioner yang akhirnya mengarah pada kemenangan Revolusi Islam Iran pada 1979.

Bagi masyarakat Iran, masjid selalu memiliki tempat istimewa, sedemikian rupa sehingga Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Agung Republik Islam Iran, menggambarkan masjid sebagai tolok ukur dan penegak agama Islam.

Para pejabat tinggi Republik Islam Iran percaya bahwa dengan situasi saat umat Islam dimana terjadi beragam insiden dan penodaan terhadap kehormatan berbagai masjid dunia serta beragam tempat suci bagi Muslimin, maka masjid harus dianggap tolok ukur yang menegakkan Islam di berbagai belahan dunia.

 

Masjid di Indonesia

Masjid sebagai perwujudan identitas keagamaan dan sosial umat Islam telah menjadi bagian yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena selain sebagai basis penyebaran budaya dan dakwah pendidikan Islam, masjid juga merupakan tempat perjuangan politik dan sosial. Karena itulah pembangunan masjid di Indonesia selalu menjadi perhatian umat Islam di negeri ini.

Masjid di Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, merupakan simbol solidaritas sosial, budaya, dan agama serta merupakan tempat memperkokohnya pendekatan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Dalam kaitan ini, kebijaksanaan para pemimpin, ulama dan imam di masjid-masjid di Indonesia merupakan faktor berpengaruh lain yang mampu membawa masjid lebih dekat kriteria Islami dan moderasi.

Bila hari ini di Indonesia yang begitu beragam kita menyaksikan solidaritas dan persatuan di tengah pengikut beragam mazhab Islam maupun dengan para pemeluk agama lain, maka pencapaian ini tidak lain adalah implementasi prinsip-prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin (penyebar kasih sayang untuk semesta) dan Islam Wasathiyah (moderat) oleh para ulama negeri ini di masjid-masjidnya.

 

Akhirulkalam

Diharapkan, dengan memperluas dan melembagakan nilai-nilai Islam, persatuan, kemanusiaan dan sosial pada institusi-institusi yang berkontribusi terhadap peradaban, langkah yang lebih berarti dapat diambil untuk memuliakan Umat Muslim dan memajukan kepentingan bersama negara-negara yang mencintai kebebasan dan dengan solidaritas dan persatuan yang dihasilkan, selain dapat menyelesaikan berbagai masalah dunia Islam, seperti kemerdekaan Palestina dan pembebasan Quds Suci, juga mengarah pada mencipatakan kembali peradaban baru Islam.

Begitu juga dengan adanya perkembangan yang amat pesat di bidang ilmu pengetahuan khususnya dunia digital, maka sangat dianjurkan agar para ulama, imam dan pengelola masjid dapat menggunakan platform digital dan basis media massa yang baru untuk berinteraksi dengan para jamaah melalui beragam pendekatan yang inovatif dan bermanfaat.

Komunikasi daring dan infovatif dalam berdakwah di masjid akan menciptakan daya tarik tersendiri khususnya pada saat pandemi covid-19. Hal ini juga menyebabkan minat kaum milenial terhadap masjid dan aktivitasnya meningkat serta memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masjid untuk membentengi beragam penyimpangan yang dapat merusak citra Islam, serta menjamin pencapaian masjid kepada cita-cita peradaban Islaminya. [*]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories